JawaPos Radar

Mengagumi Keindahan Bentang Alam Mandailing Natal

Pemkab Didorong Kembangkan Pariwisata

11/06/2018, 17:04 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Potensi Pariwisata Mandailing Natal
Pantai Pulau Karo yang ada di Kabupaten Mandailing Natal. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebagai Kabupaten paling ujung di Sumatera Utara, Mandailing Natal ternyata mempunyai banyak potensi pariwisata yang belum digali. Mulai dari kekayaan potensi bahari, hingga pegunungan dan kebudayaan. 

JawaPos.com satu per satu mencoba pariwisata yang ada di sana. Pertama, tim melakukan perjalanan ke Taman Raja Batu di Jalan Willem Iskandar, Kecamatan Panyabungan. Di sini pengunjung disuguhkan dengan pemandangan bebatuan besar yang sengaja disusun. Selain itu, mata pengunjung juga dimanjakan dengan jernihnya aliran sungai. 

Ternyata Taman Raja Batu itu adalah kreasi Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution. Taman itu mrmang sengaja dibangun untuk menambah destinasi wisata. Selain Taman Raja Batu, Marina punya deretan pantai indah berair biru. Didukung pula letaknya yang berada di kawasan Pantai Barat. 

Potensi Pariwisata Mandailing Natal
Desa Sibanggor Julu, desa yang desain rumahnya masih menggunakan ijuk pada bagian atapnya. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Namun sayangnya potensi pariwisata Bahari itu belum tertata dengan baik. Banyak pantai yang belum tersentuh pemerintah. Seperti pantai dengan suguhan pemandangan Pulau Karo. Pantai yang terletak di jalur lintas Madina itu menyuguhkan pemandangan dua pulau yang cukup apik. Ditambah sunset yang cukup indah. 

Dari Pantai, JawaPos.com mencoba menanjak ke atas bukit. Di bawah kaki Gunung Sorik Marapi, terdapat satu desa yang pemukimannya masih menggunakan ijuk untuk atap rumahnya. 

Tepatnya Desa Sibanggor Julu, Lembah Sorik Marapi Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal. Di Desa itu masih mempertahankan adat istiadat nenek moyang mereka. Keramahan penduduk sekitar juga menambah kenyamanan ketika kita mengunjungi desa itu. Ada puluhan rumah yang masih mempertahankan ijuk sebagai atap rumah. 

Ijuk itu ternyata berfungsi sebagai pengisi udara. Jika panas, udara akan diserap ijuk. Sehingga suasana ruangan menjadi sejuk. Saat malam tiba, udara panas yang disimpan saat siang hari masuk ke ruangan. Sehingga udara di dalam ruangan menjadi hangat. 

Itu hanya sebagian besar potensi wisata yang ada di Madina. Sangat sayang jika potensi itu tidak dikembangkan untuk kemajuan daerah. Badan Pengelola Otorita Pariwisata Danau Toba (BPODT) tampaknya punya niatan untuk mendukung Pemkab mengembangkan potensi wisata di sana. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. 

"Semua wilayah di Kawasan Danau Toba bahu-membahu menaikkan jumlah kunjungan wisatawan. Berbagai fasilitas terus dibangun. Komitmen besar juga terus diberikan Kabupaten Madina. Peran dan komitmen mereka mengembangkan pariwisata di Danau Toba luar biasa," kata Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT), Arie Prasetyo, Senin (11/6). 

BPODT sudah melakukan pemetaan pariwisata di Madina. Mereka juga meminta Pemkab, bisa membangun solidaritas di antara stakeholder. "Secara keseluruhan Madina sangat bagus dan potensinya besar. Kekuatan pesona alamnya sangat luar biasa," ungkap Arie

Sementara itu, Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution mengungkapkan bahwa demi menyempurnakan kenyamanan wisatawan, aspek aksesibilitas Madina juga terus digenjot. Demi memangkas durasi waktu tempuh, akses udara langsung segera dihadirkan. Bandara baru di wilayah Melanting, Kabupaten Madina, yang saat ini sedang dalam tahap penyiapan lahan dan perencanaan akan segera dikebut. 

"Kawasan Melanting ini ideal untuk bandara baru. Kalau ini sudah berjalan, akses menuju Madina akan lebih meningkat," terang Arie.

Selama ini, ada beberapa opsi untuk terhubung dengan Madina. Wilayah ini bisa dijangkau dari Medan melalui jalur udara Padang Sidempuan. Namun, jarak tempuh darat dari Aek Gondang ke Penyabungan masih 2 jam. Bila menggunakan akses Bandara Silangit, jarak tempuh darat menjadi 5 jam.

"Kemudahan aksesibilitas menjadi kebutuhan utama Madina. Saat ini waktu tempuh darat dari bandara terdekat menuju Madina masih cukup lama,” papar dia.

Belum terakomodasinya terkait persoalan transportasi membuat kunjungan wisatawan kurang maksimal. Terlebih sejauh ini, Madina kerap mengandalkan wisatawan mancanegara dari tamu overland dari utara (Aceh, Medan, Danau Toba) yang hendak menuju Sumatera Barat.

“Selain itu kami juga membutuhkan support promosi. Kalau bisa Gordang Sembilan dari Madina bisa ditampilkan dalam pagelaran-pagelaran pariwisata di Bali. Tak lupa kami juga berharap Menpar berkenan berkunjung ke Madina setelah Lebaran," pungkasnya. 

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up