alexametrics

Pos Curhat Siwalan Harmonis Pakal, Tampung Aneka Aduan Warga

11 Mei 2022, 07:48:29 WIB

Kecamatan Pakal memiliki ruang khusus bagi warga yang memiliki masalah dan perlu tempat curhat. Masalah yang diwadulkan beragam. Mulai masalah ekonomi sampai persoalan rumah tangga.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

SARI (bukan nama sebenarnya) menangis tersedu-sedu di dalam ruang Seksi Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Kecamatan Pakal. Dia menceritakan semua perlakuan kasar suaminya di Pos Curhat Siwalan Harmonis. Ya, perempuan paro baya itu menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pertengahan 2019. Tranggono Wahyu Wibowo baru satu tahun menjabat camat Pakal saat itu. Dia sempat kaget. ’’Ternyata pos curhat ini sampai ngurusi masalah KDRT juga,” ujar Tranggono kemarin (9/5).

Dengan tutur bahasa yang halus, mantan kepala seksi parkir dinas perhubungan (dishub) itu menenangkan Sari yang sedang terguncang. Tranggono meminta Sari lebih sabar menghadapi suaminya yang memang keras dan kasar. ’’Memang harus sabar. Namanya rumah tangga, ada pasang surutnya,” tuturnya.

Tranggono pun melakukan pendekatan secara humanistis sembari memberikan sedikit nasihat. Salah satunya, memberikan gambaran dampak hukum ketika masalah tersebut dibawa ke kepolisian. ’’Tidak akan berakhir baik. Pasti buyar kabeh kalau masuk ranah hukum,” katanya.

Pada pertemuan berikutnya, pihak suami didatangkan terpisah dengan Sari. Setelah mendapat nasihat dan gambaran terkait dampak hukum pelaku KDRT, suami Sari pun mau berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. ’’Sari menunggu di ruangan saya. Lalu, kami pertemukan di ruangan Kasi Kesra. Wah, pelukan nangis-nangis. Wong yo iso rukun,” ucapnya.

Itu merupakan satu di antara sekian banyak curhatan warga yang diterima di pos curhat yang berdiri sejak 2015 itu.

Tranggono mengatakan, pada 2020 pos curhat lebih banyak didatangi warga yang tidak mendapat bantuan. Mereka adalah warga kurang mampu terdampak pandemi Covid-19.

Ada warga yang terdata sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tetapi belum juga mendapat bantuan. Ada pula warga MBR yang iri kepada tetangganya yang dianggap mampu secara ekonomi, tetapi mendapat bantuan. Pihak kecamatan, kata Tranggono, hanya membantu verifikasi data penerima bantuan ke dinas sosial (dinsos).

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads