alexametrics

Juliana Evawati, Caleg Termuda DPRD Surabaya 2019 – 2024

Datang ke Gedung Dewan Dikira Tamu
11 Mei 2019, 19:49:06 WIB

Usia Juliana Evawati belum genap 26 tahun. Namun, Ning Surabaya 2013 itu berhasil melenggang ke parlemen melalui Partai Amanat Nasional. Dia menjadi anggota termuda DPRD Surabaya periode ini.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

PETUGAS Pengamanan Dalam (Pamdal) DPRD Surabaya menghampiri Juliana yang baru keluar dari mobil. Biasanya, banyak pengemudi yang salah parkir di DPRD Surabaya. Mengira area itu sebagai parkiran umum. “Mau ke mana, Ibu?” tanya petugas. “Ada janjian Pak, mau ketemu di dewan,” sahut Jeje, sapaan Juliana, sambil berjalan menuju lobi kemarin (10/5).

Petugas mengira Jeje memiliki janji dengan salah seorang anggota dewan. Namun, di dalam gedung tidak ada lagi anggota DPRD karena mereka sudah pulang. Petugas baru “ngeh” setelah Jawa Pos memberi tahu bahwa Jeje adalah anggota dewan terpilih. “Oh selamat, Bu. Silakan-silakan,” ujar petugas kepada perempuan kelahiran 10 Juli 1993 itu. Jeje menyalami petugas jaga yang lain. Saat itu, Jeje tidak masuk ke gedung dewan yang lama Dia ingin melihat gedung dewan baru delapan lantai, kantornya nanti. Sejak September, waktu Jeje banyak dihabiskan untuk kampanye. Sebagai caleg baru, dia tahu harus bekerja lebih keras ketimbang nama-nama lama yang pernah mencalonkan diri. Termasuk para incumbent.

Dapil 2 yang meliputi Tambaksari, Semampir, Kenjeran, dan Pabean Cantian tempat dia bertarung tergolong dapil berat. Sebut saja dua pesaing dari incumbent PDIP: Baktiono dan Khusnul Khotimah. Bahkan di dapil 2, Baktiono berhasil meraih dukungan paling banyak se-Surabaya dengan 22 ribu suara. Selain itu, Jeje bersaing dengan para kader di internal PAN, partai yang mengusungnya. Terdapat nama Syaiful Aidy yang menjadi calon terkuat. Syaiful lebih diunggulkan karena incumbent.

Saat penghitungan suara, dukungan yang diperoleh Jeje menunjukkan keunggulannya. Hingga penghitungan akhir, Jeje berhasil mengumpulkan 4.495 suara. Dari mana dukungan itu berasal? “Yang jelas, saya dan tim menyasar anak muda,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Banyak relawan Jeje yang berasal dari anggota Paguyuban Cak Ning Surabaya. Mereka tersebar di berbagai kecamatan. Para Cak-Ning terpacu membantunya. Mereka mendukung karena satu tujuan, merasa perhatian khusus kepada anak muda begitu kurang. “Bahasa Suroboyoane, kok ngono-ngono ae,” lanjutnya.

Jeje membawa isu peningkatan peran anak muda dalam kampanye. Dia mendatangi banyak pertemuan karang taruna. Strategi Jeje untuk menyasar anak muda berhasil. Dia dipastikan lolos ke parlemen bersama dua caleg PAN lainnya. Melihat kantor barunya di kompleks Balai Pemuda, Jeje tersenyum. Hampir satu dekade hidupnya hanya berkutat di sekitar Balai Pemuda.

Jeje alumnus SMAN 6 Surabaya yang berada di samping Balai Pemuda, kemudian aktif di Paguyuban Cak Ning Surabaya yang berkantor di Balai Pemuda. Lalu, jadi anggota dewan yang gedungnya di kompleks Balai Pemuda. “Semoga saya bisa ditempatkan di komisi B. Saya ingin melakukan advokasi UMKM dalam mendapatkan merek dagang,” harapnya.

Sebelum menjadi anggota dewan, anak kedua dari empat bersaudara itu menjalani magang wajib notaris. Dia juga mengurus family business yakni Samalindo Group yang bergerak di bidang baja. “Saya juga punya usaha sendiri, Mahar Agung Group yang bergerak di beberapa lini bisnis (wedding, garmen, dan kuliner),” ujar Jeje.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (*/c6/ayi)