alexametrics

Prof Dr Fedik Abdul Rantam Hampir 40 Tahun Bergelut dengan Virus

Tangan Gosong karena Sering Tersiram Alkohol
11 Maret 2020, 07:41:52 WIB

Fedik Abdul Rantam punya pengalaman panjang mengutak-atik virus. Khususnya virus yang menginfeksi manusia dari hewan. Saat ini, bersama tim dari Universitas Airlangga, dia meneliti Covid-19 dan berupaya menemukan vaksinnya.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

”Saat ini kami memang sedang berkoordinasi mengenai early warning system untuk mencegah virus seperti Covid-19 muncul,” tutur Fedik Abdul Rantam saat berdiskusi dengan dua mahasiswa asal Pakistan di ruang kerjanya kemarin (9/3).

Diskusi yang mereka lakukan terlihat asyik. Diselingi obrolan ringan. Terkait virus pula. ”Masih aman, virusnya belum sampai ke Surabaya,” kata Fedik. ”Alhamdulillah,” jawab mahasiswa itu.

Ya, Fedik adalah guru besar virologi dan imunologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair). Meneliti virus adalah kesibukan Fedik. Bahkan sejak 40 tahun lalu. Karena itu, dia sudah merasakan asam garamnya penelitian virus. Sejak menempuh pendidikan sarjana, Fedik memang telah mengambil konsentrasi virologi.

Dia pun menamatkan berbagai penelitian tentang virus. Salah satu pengalamannya adalah meneliti vaksin untuk virus penyakit mulut dan kuku.

Dia mengerjakannya di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya. Itu juga penelitian untuk menyelesaikan pendidikannya pada 1984.

Peminatan itu berlanjut saat dia memutuskan untuk mengambil studi pascasarjana di Jerman. Tepatnya pada 1992 hingga 1997. Kala itu dia terinspirasi ucapan dosennya. ”Kalau sampai kamu curang dalam penelitian, maka tidak akan berhasil menemukan hasilnya selamanya,” tutur Fedik, menirukan ucapan dosennya.

Kata-kata itu terus terbawa. Hari-harinya bisa dibilang habis di laboratorium. Sering kali pula dia lupa beristirahat gara-gara meneliti virus. Di malam hari pun, dia kerap dicari dosennya untuk melanjutkan penelitian.

Usahanya pun membuahkan hasil. Dia berhasil meneliti virus Borna. Dari mulai proses infeksi, deteksi, isolasi, hingga menemukan vaksin. Penelitian virus yang berasal dari kuda itu membuat Fedik kerap diincar para akademisi di Jerman. Tentunya untuk terus membantu mereka meneliti. Selama lima tahun menempuh studi, Fedik terus melakukan penelitian. ”Iya, memang harus telaten,” kata kakek satu cucu itu. ”Dari situ, saya semakin termotivasi untuk berhasil meneliti virus lainnya,” tutur alumnus Institute of Virology and Immunology Freie Universitaet-Berlin itu.

Dia pun lanjut meneliti berbagai virus lain sekembali dari Jerman. Antara lain, Newcastle disease virus (NDV) dan dengue virus. Banyak pengalaman yang berkesan selama meneliti virus-virus itu. Termasuk, pengalaman yang tidak mengenakkan. Misalnya, tangannya kerap gosong karena menggunakan alkohol terus-menerus di laboratorium. Bagi dia, itu bukan masalah. ”Tentunya demi kebaikan, menciptakan vaksin untuk masyarakat. Toh, hewan dan manusia hidup berdampingan terus,” ucap bapak dua anak itu.

Pria 59 tahun tersebut juga memberikan argumen soal virus korona. Menurut dia, virus korona akan berkurang jika musim panas telah tiba. Itu terkait dengan struktur penyebarannya yang tidak seperti musim dingin. ”Kalau musim panas, kan ada matahari. Ketika virus muncul, kena matahari, langsung mati. Beda dengan musim dingin yang membutuhkan proses yang cukup lama, virus masih berkumpul dulu, baru mati sedikit demi sedikit,” imbuhnya.

Menyebarnya pun tak akan segencar di negara lain. Sebab, di cuaca tropis seperti di Indonesia, virus itu akan sulit bertahan. Karena itu, dia mengimbau orang-orang agar tak khawatir secara berlebihan terhadap virus tersebut.

Menurut dia, kekebalan tubuhlah yang sangat penting untuk menghadapi virus itu. Akan lebih bagus jika diimbangi dengan vitamin C. ”Tubuh kita bisa melawannya,” tuturnya

Saat ini dia pun menyiapkan penelitian vaksin Covid-19. Dia akan mengerjakannya dengan tim dari Universitas Airlangga dan tim nasional. Selain vaksin, output lain adalah meneliti berbagai hewan lain untuk potensi virus lain. Misalnya ular dan katak. Itu dia namai early warning system. Yakni, sistem untuk mencegah munculnya virus lagi.

”Jadi, kami nanti akan mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada jika mengonsumsi hewan-hewan itu,” imbuhnya.

Menurut dia, sangat mungkin ada virus pada hewan-hewan itu. Hanya, virus-virus tersebut butuh adaptasi pada tubuh manusia. Bisa bertahun-tahun lamanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter :  */c11/git



Close Ads