alexametrics

Melihat Aktivitas Tim Crisis Center RSUA Tangani Kasus Covid-19

Datang Panik, Ternyata Cuma Terserang Flu
11 Maret 2020, 20:48:38 WIB

Merebaknya wabah virus korona atau Covid-19 membuat setiap rumah sakit rujukan waspada. Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) pun membangun tenda crisis center bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur. Warga antusias memeriksakan diri.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

Tenda oranye yang didirikan tepat di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) terus kedatangan pengunjung kemarin (10/3). Meski baru resmi beroperasi pada Senin (9/3), total pengunjung hingga pukul 12.00 kemarin mencapai 30 orang.

Para petugas medis RSUA pun terlihat stand by di ruang crisis center tersebut. Mereka mengenakan masker N95 sebagai perlindungan diri. Tiga bed disiapkan untuk proses skrining dan pemeriksaan pasien. ’’Hari ini hingga pukul 12.00 sudah ada sembilan pengunjung yang datang (ke Crisis Center RSUA),’’ kata Sundawan Priyo, salah seorang petugas di Crisis Center RSUA, kemarin.

Jumlah tersebut terus bertambah seiring kesadaran masyarakat terhadap kesehatan yang kian meningkat. Para pengunjung Crisis Center RSUA pun bukan hanya warga Surabaya. Namun, banyak yang merupakan warga negara asing (WNA). Terutama para tamu asing di sejumlah kampus di Surabaya. ’’Pagi ini kedatangan empat WNA asal Jepang. Mereka memastikan kondisi kesehatannya dari Covid-19,’’ tuturnya.

Saat Jawa Pos berkunjung ke Crisis Center RSUA, ada seorang pengunjung yang datang untuk memeriksakan kesehatannya. Kebetulan dia akan bepergian ke Jepang. Sebagai salah satu syarat, dia harus melampirkan surat keterangan sehat dari rumah sakit.

’’Tiga bulan lalu saya dari Jepang. Dalam waktu dekat ini saya ke Jepang lagi. Syaratnya, saya harus ada keterangan sehat bebas virus korona,’’ kata Riyanto.

Sesuai dengan prosedur pemeriksaan Covid-19, Riyanto harus melewati proses skrining. Sebelumnya dilakukan pemeriksaan fisik oleh tim medis. Kemudian, petugas medis melontarkan beberapa pertanyaan untuk menentukan status. Yakni, status panik, orang dalam pengawasan (ODP), atau pasien dalam pengawasan (PDP). ’’Sebenarnya saya tidak sakit. Tapi, karena saya akan ke Jepang, saya harus periksa Covid-19,’’ katanya.

Karena tidak ada gejala terjangkit korona, Riyanto hanya mendapatkan pemahaman tentang penularan Covid-19. Begitu juga pencegahan yang harus dilakukan selama berada di negara yang terdapat kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUA Dr dr Hamzah SpAn KNA mengatakan, pada hari pertama Crisis Center RSUA dibuka, ada 21 orang yang datang berkunjung. Seluruhnya berstatus orang dalam pengawasan (ODP). Namun, banyak juga yang datang karena panik. ’’Dari 21 kunjungan tersebut, 17 di antaranya datang karena panik,’’ katanya.

Mereka panik karena baru pulang dari luar negeri. Ada pula yang datang karena merasa sakit dengan gejala panas dan flu, tetapi tidak pernah kontak dengan pasien positif Covid-19 maupun pulang dari luar negeri.

’’Awal-awal dibuka crisis center, yang datang kebanyakan karena panik. Ada ibu yang terlalu panik karena anaknya baru pulang dari luar negeri. Setelah diperiksa, hanya flu biasa,’’ paparnya.

Peristiwa tersebut sering terjadi di crisis center. Karena itu, petugas medis harus siap memberikan penjelasan dan sosialisasi kepada para pengunjung. Sebab, tidak semua pengunjung akan diperiksa laboratorium, kecuali berstatus PDP.

’’Faktanya, mereka datang karena panik. Kami tetap mencatat dari semua kunjungan di RSUA dan melaporkannya ke Dinkes Jatim untuk dimonitor di lapangan,’’ jelasnya.

Kunjungan dari WNA juga kian banyak. Khususnya dari tamu universitas. Mereka yang merasa suspect Covid-19 pun memeriksakan diri. Hingga kini belum ada yang berstatus PDP. ’’Ini upaya yang dilakukan kampus-kampus untuk mengantisipasi masuknya virus korona baru,’’ ujarnya.

Semakin banyak kunjungan di Crisis Center RSUA, tenaga medis yang disiapkan pun cukup banyak. Mereka dibagi menjadi tiga sif untuk stand by di Crisis Center RSUA selama 24 jam. Di ruang crisis center setidaknya ada dokter spesialis, dokter umum, perawat, nutrisionis, sekuriti, dan beberapa tim pendukung lainnya. ’’Staf kami harus dijamin imun tubuhnya,’’ ungkapnya.

Hamzah menjelaskan, Crisis Center RSUA dibangun di luar IGD untuk mengamankan pasien non-suspect Covid-19. Jadi, para pengunjung yang datang ke crisis center tetap mendapatkan pelayanan. Mulai skrining, pemeriksaan fisik, hingga pengobatan bagi yang mengalami keluhan. ’’Yang memerlukan perawatan langsung dikirim ke ruang isolasi,’’ jelasnya.

Hamzah pun mengimbau masyarakat yang sudah sadar akan kesehatannya agar memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dasar. Misalnya, puskesmas. Tidak perlu langsung ke rumah sakit.

’’Kalau tidak ada riwayat pernah mengunjungi negara terkonfirmasi positif Covid-19, disarankan periksa ke puskesmas dulu,’’ ucapnya. ’’Sebab, kalau masuk ke rumah sakit dan tidak ada kriteria virus korona, biaya pemeriksaan tidak ditanggung pemerintah. Termasuk pasien anggota BPJS,’’ ujarnya.

Sementara itu, yang ditanggung pemerintah adalah pasien berstatus PDP Covid-19. Selama ini masih banyak warga yang datang ke crisis center karena panik dan tidak ada riwayat ke negara endemis maupun kontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

’’Kadang kami harus siap menghadapi pasien yang marah-marah karena minta diperiksa gratis,’’ kata Ketua Satuan petugas (Satgas) Virus Korona RSUA dr Prastuti Asta Wulaningrum SpP.

Prastuti mengatakan, kejadian tersebut tidak hanya datang satu atau dua kali. Mereka mendapatkan informasi yang kurang lengkap bahwa pemerintah hanya menggratiskan pemeriksaan pada warga berstatus PDP.

’’Kami yang bertugas di crisis center harus siap memberikan penjelasan sekaligus sosialisasi tentang virus korona. Meskipun kadang ada yang marah dan belum paham,’’ tutur ketua KSM Paru RSUA itu.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/git



Close Ads