alexametrics

Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Dilepas dari Rutan Kejagung

Keadilan Tidak Saya Dapat di Hulu
11 Maret 2020, 13:48:55 WIB

Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengakhiri hari-harinya di tahanan. Mahkamah Agung (MA) memutuskan dia lepas dari tahanan karena perbuatannya terbukti tidak melanggar hukum pidana. Putusan tersebut dijalankan tadi malam.

DEBORA DANISA SITANGGANG, Jakarta, Jawa Pos

SATU tahun, 5 bulan, 15 hari. Selama itu Karen Agustiawan merasakan tinggal dalam sel tahanan. Dia divonis delapan tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tipikor pada 10 Juni 2019 atas kasus korupsi Basker Manta Gummy (BMG) PT Pertamina Persero tahun 2009. Karen menangis dan mengucapkan ”inna lillahi” ketika mendengarkan putusan atas dirinya.

Karen kini bisa kembali menikmati dunia di luar tahanan. Dengan wajah semringah sekaligus terharu, dia meninggalkan sel Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung (Kejagung) di lantai 7A Kejagung. Karen dijemput suaminya, Herman Agustiawan. Selain itu, ada anak keduanya (Dimas Moh. Aulia Agustiawan), anak ketiga (Deril), menantu, dan cucu. Kuasa hukumnya, Soesilo Aribowo, turut mendampingi.

Kabar lepasnya Karen sudah beredar sejak Senin (9/3) saat MA menerbitkan putusan atas kasasi Karen. Dia dilepaskan dari tuntutan atau onslag karena kasus yang menimpanya itu bukan pidana, melainkan perdata.

Meski sudah keluar sejak Senin, surat itu baru sampai ke Kejagung tadi malam.

Soesilo dan keluarga Karen sudah hadir ke Kejagung sejak siang hari, sekitar pukul 13.30. Namun, karena proses pengiriman petikan putusan dari MA ke Kejagung, Karen dan keluarga harus menunggu sampai malam.

Karen keluar dari tahanan tepat pukul 19.21 WIB. Dia mengenakan baju warna biru muda, agak senada dengan keluarganya yang kompak mengenakan baju putih. ”Hari ini saya merasa bahagia sekali, bahagia untuk saya dan keluarga,” ucapnya.

Karen memang menyatakan kebahagiaannya. Tetapi, dia juga mengaku tetap ada rasa kecewa. Kekecewaan yang terpendam lama itu terlihat dari raut wajah dan bibir yang terus bergetar saat menyampaikan bahwa tak semestinya dirinya menjalani masa tahanan ini.

”Seperti manusia biasa, selain bahagia, saya juga ada kecewa. Kekecewaannya karena ini adalah aksi korporasi yang tekennya adalah business judgment rule. Domainnya hukum perdata, tapi dipaksakan menjadi hukum pidana tipikor,” jelasnya.

Karen menolak menjawab ketika ditanya pihak yang memaksakan domain hukum itu. Yang jelas, dia menegaskan bahwa nama baiknya sengaja dirusak dan karakternya dihancurkan. ”Tapi, saya masih merasa bersyukur karena tidak mengalami keadilan di sisi hulu, tapi kemarin saya mengalami keadilan di sisi hilir,” lanjutnya, kembali menunjukkan kelegaan.

Tidak heran jika Karen merasa 1,5 tahunnya berlalu sia-sia. Namun, alih-alih menyesali waktu yang sudah lewat, Karen berusaha mensyukuri pengalaman yang dia dapatkan selama di tahanan. Dia juga bertekad akan tetap mengabdikan diri untuk bangsa meski sempat mendapat pengalaman yang tidak setimpal dari pengabdian yang sudah diberikannya.

Waktunya dalam sel dihabiskan dengan sesama tahanan yang kini dia panggil sebagai teman-teman. ”Saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman baru saya yang telah menemani saya selama 1 tahun 5 bulan 15 hari. Baik di Pondok Bambu maupun 7A. Merekalah yang telah berbagi suka dan duka dengan saya selama saya mengalami proses tahanan ini,” ucapnya.

Begitu keluar dari rutan, hal pertama yang hendak dia lakukan adalah menghabiskan waktu bersama keluarga. Keluarga yang sudah dia tinggalkan setahun lebih. Karen merasa bertanggung jawab untuk mengganti masa-masa ketika dirinya absen sebagai istri, ibu, dan nenek.

Karen menyebut ingin menghabiskan lebih banyak quality time dengan suami. Terlihat sekali kerinduan yang dirasakan Karen. Saat bertemu, dia menggandeng, memeluk, dan mencium pipi sang suami. ”Kangen sekali sama bapak,” katanya lalu tersenyum.

Dimas, anak keduanya, juga bahagia menyambut sang ibu keluar dari tahanan. Dia ingin melakukan hal-hal yang bisa membuat ibunya senang. Sederhana saja seperti mengajak makan ibunya di luar. ”Ini sekarang kita mau makan bareng di luar dulu,” ujar Dimas.

Karen bisa saja menuntut sesuatu sebagai ganti rugi atas waktunya yang hilang dan kebebasannya yang direnggut selama 1 tahun 5 bulan 15 hari itu. Namun, Soesilo Aribowo selaku kuasa hukum menyatakan, belum ada permintaan dari Karen maupun keluarga mengenai ganti rugi yang dimaksud. Menurut Soesilo, yang terpenting saat ini adalah Karen bisa berkumpul dengan keluarga dulu.

”Saya selaku penasihat hukum akan berdiskusi dengan Bu Karen dan keluarga. Tapi, saya kira itu tidak menjadi pokok. Yang penting sekarang Bu Karen pulang dulu, istirahat. Mau ngapain juga belum tahu. Seminggu lah mau dengan keluarga dulu,” ungkapnya.

Menurut Soesilo, ada dua hal dalam putusan yang menjadi pokok penting bagi Karen. Selain soal domain hukum pidana dan perdata, poin kedua adalah tentang pihak yang merasa dirugikan. Soesilo menyebutkan, berdasar putusan MA, dipertimbangkan kerugian Pertamina Hulu Energi bukan bagian yang dapat dikatakan sebagai kerugian negara.

Dengan dikabulkannya kasasi Karen, Soesilo berpendapat tidak ada lagi yang bisa dilakukan Kejagung terkait pemidanaan Karen. ”Normanya KUHAP tidak ada lagi upaya hukum semacam PK (dari Kejagung). Yang bisa mengajukan PK hanya terdakwa, keluarga, atau kuasa hukumnya,” tegas Soesilo.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ayi



Close Ads