alexametrics
Sepenggal Cerita Anak Suku Baduy

Libur Kecil Kaum Baduy

11 Maret 2020, 21:39:32 WIB

Seperti masyarakat lain pada umumnya, warga Suku Baduy pun kerap mengalami kepenatan dengan aktivitasnya yang dilakukan saban hari. Untuk menghilangkan kejemuan tersebut, mereka pun terkadang melakukan traveling ke beberapa daerah, di luar kawasan Suku Baduy. Di antaranya ke Pantai Anyer, Cilegon, Banten.

KUSWANDI, JAKARTA

Mendung menggelayut di Pantai Anyer, Cilegon, Banten, Sabtu (7/3) pagi. Tak berapa lama, rintik hujan pun turun membasahi pasir hitam yang ada di sekitar bibir pantai. Samani,21, bersama Sani,20, istrinya, dan Satria,4, anaknya langsung berteduh, untuk menghindari guyuran rintik hujan yang kian membesar. ”Pantainya bagus, sayang hujan ya San,” kata pria yang akrab disapa Yayat ini, kepada Sani, istrinya.

Sementara itu, meski hujan deras mengguyur kawasan pantai dan membuat baju ketiga orang ini sedikit basah, Sani malah semringah. Perempuan yang berasal dari Suku Baduy luar ini, merasa senang diajak jalan-jalan bersama dengan anaknya yang masih balita.

Tak berapa lama, hujan pun berhenti. Satria, anak tunggal Yayat langsung berlari-lari kecil di sepanjang bibir pantai. Tak hanya itu, tangan kecilnya juga mencoba mengambil pasir dan membuat gundukan menyerupai gunung. Setelah puas bermain-main di pantai dan berfoto-foto selama kurang lebih dua jam lamanya, Yayat pun mengajak anak istrinya bergegas pergi ke Stasiun Cilegon, untuk pulang kembali ke kawasan Suku Baduy.

“Belum ada rencana liburan lagi, tapi ingin ke Pantai Ancol nanti sehabis dari Anyer,” kata Yayat saat berbincang dengan JawaPos.com, Rabu (11/3).

Samani alias Yayat, saat berfoto bersama anak dan istrinya di Pantai Anyer, Cilegon, Banten, Sabtu (7/3) pagi. Foto: Istimewa

Destinasi wisata pantai merupakan salah satu kawasan wisata yang digemari oleh Yayat. Maklum saja, selama lebih dari dua dasawarsa, Yayat hidup di hutan belantara di kawasan Suku Baduy, yang kontur tanahnya mirip dengan pegunungan. Untuk menuju ke kampung halamannya saja, butuh waktu berjam-jam bagi orang kota yang ingin beranjangsana ke sana.

Dulunya, Yayat adalah bagian dari warga Suku Baduy Dalam. Saat JawaPos.com bersua dengannya enam tahun silam, dia masih ‘gagah’ memakai pakaian adat khas warga Suku Baduy Dalam, yang identik dengan warna putih. Ke Jakarta pun, dia masih berjalan kaki tanpa menggunakan terompah.

Namun, sejak dirinya mempersunting Sani, seorang gadis dari warga Suku Baduy Luar sekitar 4 tahun silam, praktis, sesuai aturan adat, dia harus keluar dari wilayah Suku Baduy Dalam dan tinggal di wilayah Suku Baduy Luar.

Semenjak saat itu, kehidupannya pun sedikit berubah. Dia bisa jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan bermotor, naik kereta api, mobil, memakai pakaian bebas seperti masyarakat luar Baduy pada umumnya, serta memiliki handphone.

Saat hendak piknik ke Pantai Anyer pekan lalu, Yayat sendiri berangkat Jumat pukul 03.30 WIB dengan berjalan dari kediamannya, menuju Terminal Ciboleger. Terminal ini merupakan batas desa terakhir dengan kawasan Suku Baduy. Sekitar satu jam kemudian, sampailah mereka di Terminal Ciboleger sekitar pukul 04.30 WIB. Tak lama kemudian, Yayat pun melanjutkan perjalanan ke Terminal Aweh, Rangkas Bitung. Dalam perjalanan tersebut, Yayat menumpang minibus bersama rombongan warga biasa yang hendak ke Kota Rangkas Bitung.

”1 orang bayarnya Rp 25 ribu, saya bayar Rp 50 ribu karena anak nggak dihitung,” papar Yayat.

Sesampainya di Terminal Aweh, selanjutnya Yayat melanjutkan perjalanan dengan menumpang angkutan kota menuju Stasiun Rangkas Bitung. ”Ongkosnya Rp 5 ribu per orang,” ucap Yayat.

Selanjutnya, dari Rangkas Bitung ke Cilegon, Yayat dan keluarganya menumpang kereta api lokal seharga Rp 3 ribu per orang. “Sampai di Cilegon nginep di rumah teman, baru besok paginya ke pantainya,” jelas Yayat.

Semenjak hidup di Baduy Luar, Yayat memang bisa pergi kemana-mana dengan menggunakan alat transportasi umum. Dia juga sudah bisa menggunakan handphone untuk berkomunikasi dengan sejumlah koleganya yang kerap bertandang ke kampung halamannya. Hal ini menurutnya , memudahkan dirinya ketika hendak bepergian jauh, seperti yang dilakukannya kali ini.

Kondisi ini agak berbeda dengan anak Suku Baduy Dalam pada umumnya. Kendati dibolehkan bepergian ke luar kota, namun mereka tetap berjalan kaki, tidak boleh naik kendaraan umum seperti yang dilakukan Yayat dan keluargnya. Mereka juga masih dilarang menggunakan alat komunikasi untuk sekedar bertegur sapa dengan orang luar. Terkait aturan ini, kebanyakan anak Suku Baduy Dalam masih memegang teguh prinsip dan segala aturan ada istiadatnya.

Editor : Kuswandi



Close Ads