JawaPos Radar

Kisah Perjuangan Tiyaseta, Psikolog Tunanetra

Tak Boleh Lanjut S2 Gara-gara Berstatus Tunanetra

11/03/2018, 11:42 WIB | Editor: Imam Solehudin
Hari Perempuan Internasional
Sejumlah penyandang disabilitas menunjukan keahliannya dalam merias wajah di acara Hari Perempuan Internasional di Jakarta, Kamis (8/3). (Dery Ridwansyah/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Tidak dipungkiri, penyandang disabilitas di Indonesia masih belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.

Seperti kisah perempuan tunanetra yang tinggal di Jakarta Timur ini. Namanya Tiyaseta, 31. Dia masih diperlakukan sebelah mata oleh orang-orang di sekelilingnya.

Padahal, Tiyaseta merupakan Sarjana Psikologi Universitas Gunadarma. Dia berkisah, cercaan dan hinaan datang ketika dirinya tengah menyelesaikan pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi swasta.

Penyandang Disabilitas
Psikolog Tunanetra, Tiyaseta, 31. Tiyaseta mengaku mendapat hinaan ketika hendak menempuh proses pendidikan master di salahs satu perguruan tinggi swasta. (Gloria/JawaPos.com)

"Saat itu saya mau lanjut S2, karena saya tunanetra jadi mereka gak mau lulusin. Alasannya apa kata orang kalau tunanetra jadi psikolog," kata Tiyas saat ditemui JawaPos.com di Cikini, Jakarta Pusat.

Tiyas sebenarnya memiliki cara untuk menyiasati keterbatasannya, tetapi dengan tegas kampusnya menolak hal tersebut. Maka, ada inisiatif yang timbul dari dirinya untuk berkuliah di luar negeri.

"Ide saya ditolak mentah-mentah. Jadi saya berusaha untuk cari beasiswa ke luar negeri karena di Indonesia saya tidak dihargai idenya," tuturnya.

Dirinya hanya berharap ke depan pemerintah dapat mensosialisasikan ke Perguruan Tinggi, agar dapat menghargai mahasiswa penyandang disabilitas. Ide dan gagasan yang lahir dapat didengar dan difasilitasi.

Tiyaseta telah menjadi tunanetra setelah pertengahan semester, dia merasa penglihatannya menurun. Dari situlah, dia tidak bisa melihat secara sempurna. Kebutaannya sempat menjadi bahan ejekan dan celaan.

"Saya pernah diperlakukan tidak manusiawi. Jadi tahun lalu saya pernah tinggal di Medan dan pindah di dekat sini area Jakarta Timur saya diteriakin cacat, penipu pembohong, gila, cacat mental," ucap Tiyas.

"Disangka saya tuh pakai kacamata cuman akting kayak orang buta padahal beneran. Karena pengetahuan tentang tunanetra di masyarakat kurang, jadi ya seperti itu," tambahnya.

Perlakuan itu membuatnya sakit, dirinya berkeinginan suatu hari nanti masyarakat lebih bisa menghargai tuna netra seperti dirinya. Tidak mencaci maki, tetapi saling membantu.

"Jangan langsung menghakimi, kenali dulu orangnya dia tunanetra bohong atau beneran. Kalau benar, dihargai. Kalau niat bantu ya bantu, kalau tidak biarkan kami," pungkasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up