JawaPos Radar

Risetkita.id, Sambungkan Dunia Usaha dengan Akademisi Lewat Sayembara

11/03/2017, 02:18 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Risetkita.id, Sambungkan Dunia Usaha dengan Akademisi Lewat Sayembara
SATUKAN PEMIKIRAN: Nur Abdillah Siddiq (kiri) dan Raden Roro Widya Ningtyas Soeprajitno di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. (Edi Susilo/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

Tidak ingin pelaku usaha bingung dan hasil penelitian akademisi nganggur, Nur Abdilloh Siddiq membuat terobosan baru. Dia menciptakan website risetkita.id. Jejaring komunikasi yang bisa menyelesaikan masalah industri dan membuat akademisi ’’lebih berguna’’.

EDI SUSILO

MENGENAKAN kemeja putih dengan corak garis-garis hitam, Nur Abdilloh Siddiq tampak asyik memandangi layar 14 inci laptopnya. Bersama dengan salah seorang rekannya, Raden Roro Widya Ningtyas Soeprajitno, jari jemari Siddiq cekatan mengetik di papan komputer jinjing tersebut.

Sore itu Siddiq memantau aktivitas pengunjung di laman yang dibuat, risetkita.id. Dia juga tengah mendiskusikan rencana website tersebut ke depan. ’’Pengunjungnya sudah tiga ribu orang. Lumayan, Mas,’’ ujar Siddiq saat ditemui Jawa Pos di selasar Perpustakaan Pusat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kemarin (7/3).

Ya, situs yang dibuat pada 25 November 2016 tersebut bukan sekadar laman biasa. Lelaki kelahiran 11 Oktober 1993 itu membuat risetkita.id dengan tujuan apik. Membantu para pelaku usaha kecil dalam mengatasi masalah dan memberdayakan penelitian di kampus agar tepat guna.

Ide membantu para pelaku usaha kecil tersebut muncul sejak 2015. Saat itu Siddiq mengikuti seminar di permukiman nelayan di Sidoarjo. Dia pun mengetahui adanya berbagai jenis pengolahan ikan. Salah satunya ikan asap.

Untuk membuat ikan asap, nelayan pesisir Sidoarjo menggunakan kompor untuk memanggang ikan. Prosesnya pun cukup melelahkan dan memakan waktu lama. Ikan asap harus dipanggang selama beberapa jam dengan suhu api yang stabil. Untuk menjaga nyala api, nelayan harus menunggu di dekat kompor dan bolak-balik membetulkan api.

’’Warga bilang, paling jenuh saat harus putar-putar kompor agar panas stabil,’’ tutur mahasiswa yang sedang menempuh program doktor di jurusan Fisika FMIPA ITS itu.

Mendengar curhatan tersebut, Siddiq langsung bergerak. Dia membuat kompor gaya baru. Nyalala namanya. Kompor dengan tambahan sensor yang bisa mendeteksi suhu. Dengan begitu, nelayan tidak perlu khawatir ikan tidak matang atau terlalu gosong. Nyalala pun sukses mengatasi permasalahan nelayan di wilayah tersebut.

Kesuksesan Nyalala membantu para nelayan itu lantas membuka pikiran Siddiq. Dia yakin masih banyak persoalan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia yang membutuhkan bantuan. Terutama dari akademisi yang memiliki inovasi dan keilmuan untuk memecahkan suatu masalah.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2005 menyebutkan, kolaborasi antara pelaku usaha dan akademisi di Indonesia baru mencapai 0,26 persen. Kondisinya sangat jauh dibandingkan Jerman yang telah berkolaborasi riset hingga 66,9 persen.

Tidak ingin problem terus berkelanjutan, Siddiq mulai melakukan pengamatan. Ternyata, masalahnya cuma satu: tidak ada komunikasi yang intens antara pelaku usaha dan akademisi. Mereka tidak punya wadah khusus untuk berkomunikasi sehingga pembaruan dan inovasi sulit muncul. ’’Kekosongan komunikasi tersebut kemudian kami isi dengan membuat website risetkita.id,’’ paparnya.

Untuk membantu para pengusaha, risetkita.id memiliki fitur permasalahan industri. Pengusaha bisa curhat mengenai permasalahan yang terjadi di tempat usahanya melalui fitur tersebut. Apa saja yang kurang dan perlu mendapat bantuan dari akademisi. Bisa berbentuk saran, ide, atau membuat alat.

Pengusaha juga bisa membuka sayembara untuk para akademisi yang tergabung dalam risetkita.id. Sayembara tersebut juga akan dipilih langsung oleh pengusaha. Sementara itu, akademisi yang penelitiannya dipakai pengusaha akan mendapatkan hadiah.

Selain membantu pengusaha, risetkita.id bertujuan memberdayakan peneliti. Khususnya dari jenjang pendidikan tingkat S-1 hingga S-3 yang selama ini sulit mengekspos dan menerapkan hasil penelitiannya di masyarakat. Karena itu, risetkita.id telah menyediakan fitur khusus pendanaan penelitian bagi para akademisi.

Meski baru didirikan sekitar tiga bulan, manfaat risetkita.id kini bisa dirasakan. Selain di Sidoarjo, kompor Nyalala sudah dipesan nelayan di wilayah Jawa Barat. Alat tersebut sudah laku lima buah.

Untuk ide, sudah ada satu pengusaha pohon sengon di Kabupaten Probolinggo yang terbantu. Melalui sayembara yang dikirim, salah seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Zulfa Ulinnuha, memberikan saran agar mengisi jarak antara pohon sengon dengan tanaman tomat. Sebab, tanaman tersebut sangat cocok di area hutan sengon dan tidak mengganggu pertumbuhannya.

Dari sayembara itu, Zulfa Ulinnuha berhak mendapatkan uang Rp 1,5 juta yang diberikan pengusaha. Fitur lain yang terdapat di risetkita.id adalah database laboratorium, database penelitian, serta artikel berisi tip dan trik. Melalui tiga fitur tersebut, akademisi bisa melihat rekomendasi laboratorium dan data penelitian. ’’Pokoknya, situs ini kami buat lengkap,’’ tegasnya bersemangat.

Berkat kegigihannya mengatasi masalah tersebut, Januari lalu risetkita.id memperoleh juara III dalam Idea Exhibition Welcoming LPDP 2017 untuk kategori start-up. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang risetkita.id, Siddiq terus menggencarkan sosialisasi.

Salah satunya, jemput bola ke pengusaha UKM yang membutuhkan bantuan langsung. Risetkita.id sudah memiliki 10 tim yang terbagi di setiap divisi. Setiap anak bertanggung jawab pada pos yang dipegang.

Dia berharap risetkita.id semakin ramai dikunjungi pengusaha, masyarakat, dan akademisi. Sebab, dengan semakin ramainya pengunjung, variasi ide dan permasalahan akan bisa diselesaikan dengan cepat dan hasil maksimal. (*/c15/dos/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up