alexametrics

Di Balik Rencana Pemberangkatan Para Nelayan Pantura ke Natuna

Mereka Ndak Akan Nembak
11 Januari 2020, 16:06:23 WIB

Ratusan kapal dengan ribuan nelayan pantura antusias berangkat ke Natuna asal diberi kemudahan perizinan dan subsidi bahan bakar serta kepastian pembeli. Tapi, nelayan setempat minta mesti ada titik temu dulu soal alat tangkap dan wilayah tangkapan.

SAHRUL YUNIZAR, JakartaAGUS DWI PRASETYO, Natuna, Jawa Pos

OMBAK masih tinggi. Menghantam bermacam kapal yang berlalu-lalang di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, Natuna Utara. Tingginya 4–5 meter.

Belum lagi angin yang bertiup kencang. Dengan kecepatan mencapai 20 knot.

Tapi, gambaran kondisi perairan Natuna Utara, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, itu sama sekali tak membuat gentar Riyono. ’’Ada 455 kapal yang sudah siap (berangkat),” kata ketua Aliansi Nelayan Indonesia itu.

Ratusan kapal dengan kru yang bisa mencapai ribuan tersebut merupakan armada nelayan dari pantai utara (pantura) Jawa. Yang siap diberangkatkan pemerintah ke perairan Natuna Utara yang beberapa waktu belakangan jadi sorotan karena ulah provokatif Tiongkok.

Sejumlah kapal nelayan asal Negeri Panda itu masuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di Natuna Utara dengan dikawal kapal coast guard (pengawal pantai) mereka.

Belakangan, kapal-kapal nelayan Tiongkok itu memang sudah keluar dari ZEE Indonesia. Tapi, kapal coast guard masih bercokol di sana.

”Dari situ kami marah. Kurang ajar ini nelayan China, pakai pukat masuk ke sana dikawal coast guard pula,” ungkap Riyono.

Pukat yang dimaksud adalah pukat harimau. Alat tangkap tersebut sudah lama dilarang.

Bersama kawan-kawannya sesama aliansi nelayan, Riyono langsung berembuk. Mencari solusi dan menawarkannya kepada pemerintah.

Apalagi, para nelayan pantura, kata Riyono, sudah tidak asing dengan perairan Natuna. Bahkan, mereka tidak jarang melaut ke lokasi-lokasi yang letaknya lebih jauh. ”Sampai perbatasan Australia,” ucapnya.

Sejauh ini, kata dia, pertemuan dengan pemerintah sudah dilaksanakan lewat Menko Polhukam Mohammad Mahfud MD. Selanjutnya, pertemuan kembali dilakukan. Secara khusus, mereka juga akan bertemu dengan Badan Keamanan Laut.

Dari 455 kapal tadi, yang terbanyak dari Tegal, Jawa Tengah. Sekitar 300 kapal. Lainnya berasal dari Rembang, Pati, Brebes, dan daerah-daerah lain di provinsi sama.

Bila dipukul rata, setiap kapal diawaki 25 orang. Kalau ada 455 kapal, berarti jumlah nelayan yang berangkat sebanyak 11.375 orang. Bahkan, bisa jadi jauh lebih banyak. Sebab, masih ada nelayan yang mendaftar untuk berangkat ke Natuna. ”Mereka ingin terlibat dalam misi Merah Putih itu lantaran merasa terpanggil,” kata Riyono.

Sejak empat tahun lalu, Riyono mengakui, banyak nelayan dari pantura yang ingin ke Natuna. Ketika ditawari pemerintah kala itu, mereka langsung menyambut. Sayang, rencana urung terlaksana.

Karena itu, ketika kapal-kapal ikan Tiongkok masuk berikut kapal pengawalnya, mereka langsung mengajukan diri. ”Biar kami isi Natuna Utara,” imbuhnya.

Ada alasan lain mengapa para nelayan pantura antusias berangkat. Perairan Natuna Utara kaya ikan. Berbeda dengan kondisi di pantura.

Menurut Kadromi, nelayan asal Rembang, hasil tangkapan ikan di Laut Jawa mulai turun. Itu terjadi sejak lima tahun belakangan.

Demi mendapat tangkapan lebih banyak, tidak jarang kapal Kadromi berlayar sampai luar Jawa. Tapi, itu berarti melawan aturan dan ketentuan.

Sebab, kapalnya hanya punya izin melaut di Jawa. Terakhir enam bulan lalu, dia harus berurusan dengan aparat berwenang lantaran kedapatan melaut ke Natuna.

”Kapal saya ketangkap di sana,” bebernya.

Karena itu, begitu mendapat kesempatan melaut ke Natuna, dia langsung antusias. Sebagai nelayan, tawaran dari pemerintah dia nilai menarik. Ibarat kata, lanjut dia, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Bisa ikut membela negara sekaligus mendapat kemudahan mencari dan menangkap ikan.

Gelombang tinggi dan angin kencang sama sekali tak membuat dia surut. ”Saya nelayan tulen, dari kecil sudah jadi nelayan,” imbuh pria yang akrab disapa Romi itu.

Dia juga tak khawatir bakal ada yang mengganggu di Natuna Utara. Termasuk coast guard Tiongkok.

Kalaupun diusir, dia yakin tidak akan ada satu pun aparat dari negara lain yang berani main kasar. ”Mereka ndak akan nembak. Saya nelayan, bukan tentara,” ungkap dia.

Romi, sebagaimana juga disampaikan Riyono, hanya meminta kemudahan perizinan, subsidi bahan bakar, dan kepastian adanya pembeli di Natuna. ”Kalau bisa, pemerintah bantu beli (hasil tangkapan, Red),” imbuhnya.

Itu penting karena biaya operasional melaut di Natuna Utara sangat besar. Sekali jalan, minimal harus keluar Rp 200 juta.

Romi menyebutkan, bila memaksa kembali ke Jawa setelah selesai melaut, biaya operasional tidak akan bisa ditutup. Karena itu, harus ada pengusaha atau perusahaan yang siap membeli hasil tangkapan mereka di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna.

”Kabar dari asosiasi, sudah ada yang siap,” kata dia.

Soal cuaca, kalaupun memang tidak memungkinkan untuk melaut, dia menyebut mereka bisa menunggu di Ranai. Yang penting saat ini, lanjut dia, dukungan pemerintah.

Termasuk terkait penerimaan nelayan setempat. Sebab, yang bakal berangkat sangat banyak. Hal penting lainnya berkaitan dengan alat tangkap.

Alat tangkap yang paling pas dipakai di sana, menurut Romi, adalah cantrang. ”Kalau alat lain nggak mungkin berhasil,” imbuhnya.

Di sini persoalannya. Dari sejumlah nelayan ”tuan rumah” yang ditemui Jawa Pos kemarin, ada yang setuju, ada yang khawatir. Yang khawatir, salah satu titik pangkalnya ada pada alat tangkap.

”Kapal yang dikirim itu mau pakai alat tangkap apa?” tanya Suhaidi, tekong (nakhoda) Kapal Motor (KM) Pandu Berkah, saat ditemui Jawa Pos di pangkalan nelayan di Desa Tanjung Kumbik Utara, Kecamatan Pulau Tiga Barat, Kabupaten Natuna, kemarin.

Pangkalan itu salah satu tempat berlabuh kapal tangkap berkapasitas 20 gross tonnage (GT) di Natuna. Informasi lengkap soal jenis kapal dan alat tangkap ikan yang digunakan sangat penting bagi nelayan seperti Suhaidi. Sebab, indikator itu menentukan seberapa banyak kapal tersebut bisa menghasilkan ikan tangkapan.

Termasuk jenis ikan yang ditangkap. ”Kalau mereka tangkap pakai jaring, ikan bisa kena semua, kami nggak dapat apa-apa,” ujar nelayan asal Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, itu.

Hampir semua nelayan KM kapasitas 20 GT yang mangkal di Tanjung Kumbik Utara menggunakan alat tangkap rawai (pancing kail tali panjang) dengan target tangkapan ikan dasar. Misalnya, kurisi bali, kakap merah, kerapu, dan jahan. Mereka biasanya melaut di titik koordinat 108 sampai 110 atau sebelah timur Pulau Laut.

Tapi, ada pula yang sama sekali tak khawatir. Dedek Ardiansyah, tokoh nelayan di Tanjung Kumbik Utara, Pulau Tiga Barat, Natuna, menilai tidak ada masalah dengan kedatangan kapal-kapal dari pantura. Asal, kapal-kapal itu tidak terlalu dekat dengan wilayah tangkapan nelayan Natuna.

”Misalnya, operasi (nelayan pantura) 60 mil ke atas itu, mereka (nelayan Natuna) nggak ada masalah,” paparnya.

Menurut Dedek, wilayah perairan Natuna sangat luas. Tambahan kapal nelayan dari pantura, khususnya yang berkapasitas 30 GT, sangat mendukung perekonomian masyarakat Natuna. ”Karena kapal asing saja bisa ngisi (perairan Natuna) banyak, masak kapal Indonesia sendiri nggak bisa. Dan sebenarnya mereka (nelayan Indonesia) bisa bekerja sama di laut,” tuturnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg


Close Ads