alexametrics

Cerita Rahmawati, Penyintas Bunuh Diri Bangkit dan Berbagi

Melukis Membuat Riree seperti Sedang Curhat
11 Januari 2020, 20:48:27 WIB

Meminum 23 obat antidepresi menjadi pilihan Rahmawati ketika itu. Pilihan untuk bunuh diri itu diambilnya demi bisa meringankan apa yang sedang dihadapinya. Namun, Tuhan punya kehendak lain. Kini dia berbagi pengalamannya bisa survive lewat pameran seni.

MARIYAMA DINA, Surabaya

RIREE – panggilan akrab Rahmawati– adalah seorang seniman. Dia merupakan lulusan Jurusan Seni Rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW). Di tempatnya berkuliah dulu, dia dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan bisa diandalkan.

Namun, karena dirasa bisa dipasrahi kegiatan apa pun, dia justru terbebani. Terlebih, saat itu banyak sekali masalah keluarga yang dia hadapi. Riree pun stres. Saat mencoba berobat, Riree didiagnosis menderita bipolar dan depresi mayor.

Menjadi seseorang yang mood-nya berubah-ubah dengan cepat dan drastis tentu membuatnya mengalami kesulitan Perempuan kelahiran 26 Januari 1996 itu lantas sering mendatangi psikiater. Obat-obat antidepresi juga diminumnya setiap hari untuk bisa membantu menenangkan pikirannya. Namun, upaya tersebut ternyata tidak cukup membantu.

Pada 2016, semuanya ’’meledak’’. ’’Waktu itu lagi di kampus. Terus, aku minum aja 23 obat antidepresi yang tersisa itu. Terus, aku balik ke kosan sambil nuntun sepeda ontelku. Terus, aku merasa pas jalan itu kayak sudah enggak kuat. Terus, tiba-tiba gelap semua,’’ ceritanya saat ditemui di Co.Lab Space.

Ternyata, saat dia mau pulang ke kos-kosan, beberapa temannya sudah curiga dengan tingkah Riree. Mereka membuntutinya. Berkat mereka, nyawa Riree akhirnya terselamatkan. Teman-temannya membawa Riree ke rumah sakit. Selama 20 jam, Riree tidak sadarkan diri. Dia kaget karena sudah berada di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur begitu terbangun. ’’Saya mengira waktu itu sudah mati,’’ katanya.

Dari kejadian tersebut, banyak temannya yang datang untuk menyemangatinya. Mendengarkan cerita-ceritanya dan membantunya kembali bangkit. Namun, mereka tentu tidak bisa menemaninya setiap saat dan ada ketika dibutuhkan. ’’Karena semua orang punya kesibukan masing-masing ya,’’ ucapnya.

Begitu keluar dari rumah sakit, dia memutuskan untuk cuti satu semester dari perkuliahannya yang sebenarnya sudah mencapai tingkat akhir. Riree mengungkapkan, saat gagal melakukan percobaan bunuh diri tersebut, dirinya akhirnya sadar bahwa sesuatu yang dimulainya tidak boleh dibiarkan tidak selesai. Salah satunya adalah perkuliahannya. ’’Ini juga jadi salah satu motivasiku untuk bangkit. Soalnya, aku juga ingin berterima kasih sama kakak yang sudah membiayai kuliahku. Aku juga ingin membanggakan keluarga,’’ jelasnya.

Dari situ, perempuan 23 tahun itu bertekad bangkit dari depresi dan bipolarnya. ’’Aku coba ikut terapi sana-sini. Pengobatan alternatif juga. Minta bantuan juga sama teman-teman,’’ jelasnya. Sampai akhirnya, dia menemukan art therapy. ’’Awalnya, sebelum tahu istilah terapi dengan seni itu, aku sering lihat kata art therapy ini dipakai di hashtag-hashtag di media sosial. Tapi, aku enggak tahu maksudnya,’’ jelasnya.

Definisi art therapy adalah penyembuhan kesehatan mental dengan terapi lewat media seni. ’’Ini memang metode yang digunakan psikolog buat terapi pasien-pasiennya yang depresi. Tapi, sebenarnya ada banyak caranya. Enggak hanya lewat melukis,’’ ujarnya.

Sebelum kejadian overdosis itu, dia bercerita bahwa lukisan-lukisan yang digambarnya selalu berupa gua. ’’Tapi, enggak tahu kenapa, dulu itu aku bener-bener enggak bisa nambahin objek hewan atau manusia di gambarku itu,’’ ceritanya. Lukisan yang dia buat selalu terkesan gelap dan sepi. ’’Kayaknya itu mencerminkan apa yang memang aku alami saat itu,’’ lanjutnya.

Namun, setelah peristiwa tersebut, Riree bahkan tidak bisa menggambar gua dengan suasana yang suram lagi. ’’Sekarang lukisanku cuman garis-garis kayak gini. Kata orang-orang kayak lukisannya Vincent van Gogh yang ternyata dia juga punya riwayat depresi,’’ terangnya.

Setelah melewati rangkaian art therapy, Riree merasa kondisinya lebih baik. ’’Ke mana-mana sekarang aku selalu bawa jurnal. Jadi, biasanya sambil menulis atau coret-coret di jurnal. Baru kalau mau lebih besar, aku gambarnya di kanvas. Memang aku sedang menggambar, tapi lebih merasa seperti sedang menulis,’’ ungkapnya.

Dia mulai nyaman dengan proses menulis dan menggambar yang bersamaan itu. Kini, bagi Riree, melukis adalah caranya untuk mencurahkan isi hati. Dengan melukis, dia merasa seperti sedang curhat kepada seseorang dan media tersebut menjadi ’’temannya’’ yang paling setia.

Tidak ingin berjuang sendirian, Riree pun kini sering berbagi pengalamannya tersebut lewat pameran lukisan yang diadakannya. Misalnya, yang berlangsung mulai 14 Desember tahun lalu. Di tengah-tengah pameran yang berlangsung hingga 14 Januari ini, dia menyisipkan acara sharing pengalaman hingga sesi art therapy.

’’Aku pengin menyadarkan masyarakat biar lebih aware. Yuk, kita jadi pendengar yang baik. Lebih bersyukur lagi kalau bisa membantu. Soalnya, kita semua enggak tahu kapan tubuh akan mengalami momen terburuk seperti aku waktu itu,’’ tuturnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git


Close Ads