alexametrics

Cerita Kelompok YPAC Music Percussion: Keterbatasan bukan Penghalang

Senyumin Aja kalau Ada Yang Nyinyir
10 Desember 2019, 17:00:01 WIB

YPAC Music Percussion menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menjadi musisi. Sebulan sekali main di car free day. Guru pembimbing menjadikan musik sebagai kebutuhan bagi mereka supaya rajin latihan.

Agas Putra H., Solo, Jawa Pos

SEKOLAH Luar Biasa D/D1 (Tunadaksa) YPAC Surakarta punya grup musik yang lumayan ternama di kota itu. Namanya YPAC Music Percussion. Penggawanya para murid sekolah tersebut. Tahun ini memasuki angkatan ketiga.

Ada Rasikh Firdaus yang bermain keyboard, Pita (tamborin), Ivan Kun (drum), serta Raka Wahid (kentongan dan cowbell). Ada pula lima vokalis, Diah Pertiwi, Al Neva, Azka Ramadani, Gischa Zayana, dan Sarah Suryandari, yang juga bermain keyboard.

Pada 19 November lalu mereka unjuk gigi tampil dalam malam peringatan Hari Anak Sedunia dan 30 tahun Konvensi Hak Anak di pendapa Balai Kota Solo.

Gundul-Gundul Pacul menjadi lagu pembuka. Dihadirkan dengan aransemen tak biasa. Rock n roll ala The Changcuters. Kombinasi suara cowbell dan kentongan yang dimainkan Raka yang berpadu dengan tabuhan perkusi tong sampah Ivan Kun menguatkan kesan itu. Tidak ada gitar.

Kepala bagian bakat dan minat anak sekolah itu, Sugian Noor, memilih menggunakan dua keyboardist. ”Satu sebagai ritem, satu lainnya melodi,” ucapnya.

Menurut dia, keyboard lebih mudah dimainkan anak-anak difabel. Variasi warna suara dan nada bisa diatur sesuai dengan keinginan. Lima vokalis berperan untuk melakukan harmonisasi.

Penampilan YPAC Music Percussion membuat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga serta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo takjub. Keduanya berdiri dari duduk masing-masing untuk memberikan standing applause sambil tersenyum lebar.

”Itu luar biasa. Mereka sangat semangat meski memiliki kekurangan. Tapi, di sisi lain, orang memandang justru itu keistimewaan mereka. Itu yang seharusnya menjadi contoh bagi teman-teman difabel lainnya,” ungkap Bintang.

Bukan hal mudah membangun kelompok musik itu. Sekolah menjadikannya salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Namun, mereka tak punya banyak dana untuk mendukung kegiatan itu. Demikian pun peralatan musik yang dimiliki sekolah. Seadanya. Hanya ada satu set drum dan keyboard.

Merekrut anak untuk bermain musik juga susah-susah gampang. Namun, Sugi memiliki trik. ”Pertama dipancing, mau nggak terkenal, masuk koran?” ujarnya.

Biasanya, pancingan itu berhasil. Beberapa anak tertarik untuk menunjukkan kelebihan mereka. Sugi ingin para siswa benar-benar menekuni musik. Kuncinya, anak harus suka. Menjadikan musik sebagai kebutuhan. Tidak ada paksaan. ”Kalau sudah kebutuhan, dalam situasi apa pun, dia pasti rindu (latihan).”

Latihan berlangsung dua kali seminggu. Jumat sore dan Sabtu pagi. Dalam prosesnya, tentu tidak mudah membimbing dan melatih anak-anak yang memiliki keterbatasan. Sugi tentu paham. Sebab, dirinya juga penyandang disabilitas polio. Kedua kakinya lemah. Harus menggunakan kursi roda.

Sugi berusaha menempatkan diri bukan sebagai pelatih atau guru, tapi sebagai teman bermain. ”Kalau musik sudah jadi kebutuhan, anak-anak yang hiperaktif akan ribut sendiri di rumah saat latihan libur,” ujarnya.

Meski sudah mengantongi sejumlah jadwal manggung, prioritas anak-anak di kelompok musik itu tetap belajar. Sugi menjaga agar program pendidikan murid tidak terganggu. Malah kalau bisa membantu perkembangan siswa.

”Ada anak yang awalnya hiperaktif, tapi langsung terkendali setelah masuk musik. Dia suka drum, saya bolehin. Palingan kalau rusak, berapa biaya perbaikan. Yang penting rasa ingin tahunya terpenuhi,” tutur Sugi.

Rasikh yang kini berusia 13 tahun mengaku puas dengan penampilannya. Setiap latihan, dia berusaha selalu hadir karena memang menyukai kegiatan itu. Bungsu tiga bersaudara tersebut juga kerap menambah kemampuannya dengan berlatih sendiri di rumah. ”Nggak ada kendala latihan. Seru aja main musik,” ungkapnya.

Sugi berusaha menghadirkan aransemen musik yang menarik. Pria 50 tahun yang juga seorang pemusik itu ingin menghadirkan lagu-lagu lama atau lagu dolanan anak supaya tetap eksis dan enak didengar. Meski begitu, panggung yang mereka lalui tak selalu mulus. Dicela bukanlah hal baru bagi mereka.

”Saya selalu bilang sama anak-anak, ketika ada nyinyiran, bales sama senyum. Jangan emosi. Kalo emosi, nggak ada bedanya sama dia. Biasanya, setelah tahu kami, mereka justru jadi hormat,” kata Sugi.

Dia menceritakan salah satu pengalaman diundang tampil oleh komunitas motor. Saat itu juga ada penyanyi dangdut yang diundang. Para pemain musik dangdut itu menirukan cara berjalan para siswa tersebut yang memang tak sempurna. ”Tapi, begitu anak-anak manggung, mereka kaget. Malu mungkin,” tuturnya.

Mengajari anak-anak itu, Sugi dituntut memiliki kesabaran ekstra. Kadang dia sampai dipanggil sebagai guru galak. Sugi menegaskan, dirinya tidaklah galak, tapi berusaha tegas. ”Ya tegas biar mereka bisa. Setelah itu, saya berusaha mencairkan suasana kembali. Bercandaan lagi,” ujarnya.

Bukan hanya Sugi yang menemui tantangan. Para murid juga. Salah satunya suka ngambek. Dikit-dikit nangis kala diingatkan bahwa permainan musiknya salah. Di situ Sugi mengingatkan si anak untuk berusaha mandiri. ”Orang tua nggak boleh mendampingi waktu latihan biar anak-anak fokus,” imbuhnya.

Sugi juga selalu memotivasi para siswa. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, dia menunjukkan bahwa mereka adalah anak-anak pintar. ”Saya selalu bilang, saya hadir di sini mengajar kalian karena kalian adalah calon orang-orang sukses,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ayi


Close Ads