alexametrics

Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Tempat Lukisan Binatang Tertua Dunia

10 November 2018, 11:38:26 WIB

Ada puluhan gua di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang kaya peninggalan prasejarah. Tapi, surat izin usaha yang telah dikantongi berbagai perusahaan bisa menimbulkan ancaman kerusakan.

M. RIDHUAN, Kutai Timur

Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Tempat Lukisan Binatang Tertua Dunia
Peneliti di Gua Bloyot di kawasan Karst Sangkulirang (M RIDHUAN/KALTIM POST)

PADA jalur menuju Gua Liang Karim itu, kekuatan napas dan kaki serta keteguhan hati diuji benar. Betapa tidak, kemiringannya 80 persen. Bahayanya lagi, banyak batu yang menjadi pijakan gampang lepas.

Tapi, begitu sampai di gua berupa liang atau lubang sepanjang 6 meter, segala kesulitan itu seperti terbayar. Ada gambar cadas (garca) berupa sarang lebah madu raksasa. Ukurannya sekira 1,5 meter. Ribuan titik digambar. Tempat lebah menyimpan madu.

Selain sarang lebah, cap tangan negatif juga ditemukan. Sayang, banyak yang sudah rusak. Lokasinya terlalu terjangkau tangan manusia.

Bahkan, lokasi di satu ceruk kecil sering dijadikan tempat berfoto.

“Tubuh kita mengeluarkan panas yang bisa meningkatkan suhu gua. Makanya, dilarang mendekat ke gambar dalam kondisi tubuh berkeringat setelah berjalan, apalagi menyentuhnya,” kata Sugianur, salah seorang juru pelihara (jupel) gua, yang mempelajari informasi tersebut dari BPCB (balai pelestarian cagar budaya).

Gua Liang Karim hanyalah satu di antara puluhan situs prasejarah di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Di kawasan seluas 1,8 juta hektare itu pula terdapat Gua Lubang Jeriji Saleh, tempat garca atau seni figuratif berupa lukisan binatang tertua di dunia ditemukan.

Dalam artikelnya di jurnal Nature yang terbit Rabu lalu (7/11), Maxime Aubert, arkeolog dan profesor di Griffith University, Australia, menyebutkan bahwa lukisan yang diduga banteng liar itu berumur 40 ribu sampai 52 ribu tahun.

Usia tersebut lebih tua dari pemegang rekor sebelumnya. Lukisan babi dan rusa di kawasan Karst Maros, Sulawesi Selatan, yang berusia 35 ribu tahun.

Jauh sebelum muncul di jurnal tersebut, Kaltim Post bersama rombongan BPCP Kaltim mengunjungi kawasan karst di Hambur Batu, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, itu pada Agustus lalu. Yang berjarak sekitar 270 kilometer dari Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur.

Tim dari BPCP diketuai Edy Gunawan. Tiga di antara empat anggota tim adalah perempuan. Yakni, Jeli, Soraya, dan Fitri. Satu anggota pria adalah Nanda.

Mereka bertugas meneruskan hasil kajian konservasi yang dilakukan tim sebelumnya. “Untuk melihat dan melakukan upaya untuk mengurangi kerusakan gambar dalam gua,” kata Edy.

Tidak mudah menembus kawasan karst tersebut. Dimulai dengan perjalanan darat bermobil selama delapan jam dari Samarinda. Dilanjutkan berperahu melalui Sungai Bengalon menuju Sungai Marang.

“Di sini (Sangkulirang) rencananya ada tiga gua yang akan dilakukan upaya konservasi. Gua Tewet, Liang Karim, dan Gua Tamrin,” terang Edy.

Dibutuhkan sekitar tiga jam untuk mengarungi sungai yang merupakan habitat buaya menuju base camp BPCP Kaltim di tepi kanan Sungai Marang dan di kaki Gunung Gergaji.

Mengutip situs Kemendikbud, Gua Saleh merupakan bagian dari kompleks Gunung Gergaji yang terletak di lereng timur punggungan Bukit Batu Raya. Pada awalnya gua itu bernama Gua Jeriji. Tapi, selanjutnya dinamai Gua Saleh untuk menghormati salah seorang penunjuk jalan lokal yang bernama Saleh.

Gua Saleh ditemukan pada 1998 dengan ruang gua yang cukup luas. Dan, penyebaran gambar-gambar yang ada di ruang utama serta anak-anak gua. Gambar yang ditemukan terdiri atas cap tangan, fauna (banteng dan rusa), serta trek perburuan.

Dari base camp BPCP, Gua Tewet yang paling mudah dijangkau. Kurang dari satu jam berjalan. Naik dan memanjat tebing setinggi 15 meter. Gua itu kali pertama diidentifikasi tiga penjelajah dan arkeolog.

Dua asal Prancis, yakni Luc Henri Fage dan Jean Michel Chazine. Plus peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Pindi Setiawan pada 1999. Atas petunjuk seorang speleolog (orang yang mempelajari ilmu tentang gua) lokal, Tewet.

Di Gua Tewet, seni cadas mencapai kesempurnaan, seperti dibuktikan lukisan luar biasa ini. Semacam pohon kehidupan yang menghubungkan, dengan garis lengkung penuh corak bunga, tangan dihiasi tanda. Itu adalah puncak karya tulis tangan yang dikombinasi, didampingkan, dihubungkan. Tak pelak lagi estetis, mengusung emosi, dan menggegerkan.

Sedangkan jalur menuju Gua Liang Karim ada dua. Pertama melalui Gua Tewet. Memutar dan terjal. Lewat jalur ini bisa mampir ke Gua Pindi.

Gua Pindi juga punya garca, tapi telah rusak. Yang juga terancam akibat penurunan badan gua. Diduga karena salah satu pilar penyangga gua patah. Dari gua itu puncak Gunung Tandoyan terlihat megah.

Rute lain melalui jalur kiri. Itu adalah rute utama. Telah ada papan petunjuk yang dipasang. Namun, rute tersebut bisa membuat pendaki amatir putus asa. Dengan kemiringan 80 derajat. “Jalur ini berbahaya kalau hujan. Licin,” kata Edy.

Sayang, ancaman kerusakan lingkungan besar telah menunggu kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. Stepanus Gung dan Satriadi, dua jupel yang ikut dalam rombongan, bercerita, dari Hambur Batu, di sisi kiri Sungai Bengalon hingga ke hulu Sungai Marang, telah dikuasai berbagai perusahaan. Dari yang berstatus hutan tanaman industri (HTI), perkebunan sawit, hingga yang paling membuat masyarakat setempat khawatir, tambang batu bara.

“Tiga tahun lalu sudah ada eksplorasi dari perusahaan batu bara. Itu pondoknya,” tunjuk Stepanus ke salah satu bangunan ulin.

Meski saat ini tambang batu bara belum beroperasi, apabila terjadi pembukaan lahan secara masif di dekat karst, dikhawatirkan garca di dalam gua terpengaruh.

“Suhu yang paling berpengaruh. Panas di tubuh manusia saja dari kajian kami bisa merusak gambar,” ungkap Edy.

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang menyatakan, ada 37 izin usaha dan lokasi usaha yang menancapkan taringnya di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Dari izin usaha pertambangan (IUP), perkebunan sawit, karet, hingga HTI.

Padahal, telah terbit Perda 1/2016 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kaltim 2016-2036. Yakni, ada 307.337 hektare karst di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat yang ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi karst Kaltim. “Karst ini jantung, sumber air tawar yang menghidupi masyarakat dan ekosistem melalui sungai hingga ke laut. Kalau ini rusak, dampaknya hingga ke laut,” paparnya. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (*/c10/ttg)

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads
Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Tempat Lukisan Binatang Tertua Dunia