Jejak Bahan Kimia di Mata Nisa dan Saguanto setelah Tragedi Kanjuruhan

10 Oktober 2022, 10:36:32 WIB

SAAT tembakan gas air mata pertama masuk ke tribun selatan Stadion Kanjuruhan, Fabianca Cheendy Chairun Nisa masih bertahan. Dia hanya naik ke bagian atas bersama teman-temannya. Dia masih bisa melihat dan bernapas seperti biasa.

Tapi, ketika tembakan gas air mata kedua pada Sabtu (1/10) jelang tengah malam lalu itu jatuh tepat 2–3 meter di depannya, matanya langsung perih. Lantas pada tembakan ketiga, dadanya mulai sesak. ”Saya sudah tidak bisa melihat. Napas juga susah,” ungkapnya.

Nisa hanya menutup mata saat itu menahan perih.

Dia pun langsung ditarik temannya untuk turun melalui gate 12. ”Saya digandeng. Tapi, tetep nutup mata kayak orang buta. Cuman ikuti instruksi orang-orang di situ untuk turun,” kenangnya kepada Jawa Pos.

Karena tangga gate 12 Stadion Kanjuruhan cukup curam, remaja 14 tahun itu terpeleset. Dia terjatuh dan langsung tak sadarkan diri. ”Ketika saya buka mata, saya lihat ada Mas-Mas di kamar mandi, saya minta tolong,” jelasnya.

Nisa pun ditolong. Dia mengaku sempat berdiri dan melihat dalam keadaan buram. ”Mas itu bilang mata saya berdarah. Saya diminta cuci muka. Setelah itu tidak apa-apa, sudah bisa melihat lagi,” paparnya.

Perempuan kelas VIII SMP Taman Dewasa, Kota Malang, itu menuturkan, seusai cuci muka, dirinya sudah bisa berjalan. Dia keluar dari Stadion Kanjuruhan dengan digandeng pria yang sempat menolongnya. ”Di depan saya ketemu teman saya. Langsung ke puskesmas buat periksa,” ujarnya. ”Saya sudah melihat seperti biasa saat itu,” lanjutnya.

Ibunya, Anita Fransiska, menuturkan bahwa ketika menemui Nisa di puskesmas, dirinya kaget melihat kondisi anak pertamanya itu. Mata Nisa berwarna hitam. ”Bengkak di sekitar matanya. Matanya itu hitam warnanya, putih-putihnya kelihatan sedikit. Sekarang ini masih mending,” bebernya.

Jawa Pos yang kemarin (9/10) mengunjungi rumah Nisa di Jalan Kresno, Malang, melihat kondisi mata Nisa masih merah. Bengkak di sekitar matanya masih terlihat. ”Tapi, sudah tidak apa-apa. Tidak sakit, sudah seperti biasa,” kata Nisa.

Sang ibu juga membenarkan. Menurut dia, mata Nisa berwarna merah seperti sekarang setelah dibawa ke rumah sakit pada Minggu (2/10) lalu.

”Di rumah sakit matanya dicuci, ada darahnya kata dokter. Lalu, beberapa kali dites pH, katanya ada bahan kimia di matanya,” tegasnya.

MEMBEKAS: Fabianca Chenny Chairun Nisa menceritakan efek terkena gas air mata yang mengakibatkan matanya memerah di Kota Malang, Minggu (9/10). (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

Kondisi yang dialami Nisa juga terjadi pada Nur Saguanto. Hingga kemarin ketika Jawa Pos berkunjung ke kediamannya di daerah Karsidi, Desa Tegalsari, Kabupaten Malang, matanya masih merah. Masih terdapat luka seperti terbakar di bagian wajahnya.

Pada bagian dada hingga perut Saguanto juga seperti ada bekas luka bakar. Membentuk garis tas selempang yang dipakainya saat tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu. ”Saya sendiri tidak tahu kenapa, Mas. Saya pingsan ketika kejadian,” ujarnya.

Pemuda 19 tahun itu menuturkan, saat kejadian dirinya berada di tribun selatan. Di dekat pintu 11 saat itu. ”Saya biasanya nonton di bawah papan skor (tribun timur), tapi tidak tahu kemarin kok ingin di selatan,” ungkapnya.

Saguanto mengatakan sempat melihat tembakan gas air mata pertama. Tembakan itu mengarah ke pintu 12 dan 13. ”Itu sudah ada asap,” kenangnya.

Tapi, Saguanto yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu tidak merasakan apa pun. Matanya tidak perih dan dadanya tidak sesak. ”Setelah itu, ada asap di atas saya. Tidak tahu itu tembakan atau apa,” ungkapnya.

Dia langsung menengok asap tebal di atasnya. Matanya seketika perih. Napasnya sesak dan badannya langsung lemas. ”Saya langsung duduk, sandaran ke bahu teman saya. Lalu, sudah pingsan, tidak sadar. Bangun-bangun di rumah sakit,” ungkapnya.

Saguanto tidak tahu siapa yang menolongnya. Dia hanya merasakan kaki kirinya sakit. Telinga dan hidung mengeluarkan darah. Wajahnya juga terluka. ”Yang paling aneh ya di dada saya ini, Mas, ngebentuk tas selempang yang saya pakai. Tidak sakit, tapi gosong gitu,” tuturnya.

Ibunya, Nafiza Zaqiatul, menerangkan, menurut dokter yang merawat di rumah sakit, mata merah dan pembengkakan di sekitarnya terjadi karena ada bahan kimia yang masuk. Untuk luka lain, dokter tidak bisa menjelaskan lantaran anak pertamanya itu sama sekali tidak ingat apa yang terjadi karena pingsan.

Luka gosong yang dialami Saguanto ternyata juga terjadi pada salah seorang korban meninggal dunia di pintu 13, Natasha Debi. Sang ayah, Defi Antok, menuturkan, ketika memandikan jenazah Natasha, dada anak sulungnya itu gosong. Wajahnya membengkak. ”Di hidungnya masih keluar darah. Tidak merah, tapi pink warna darahnya,” jelasnya.

Selain itu, mulutnya masih bau amonia. Defi makin yakin jika yang ditembakkan polisi di tribun selatan tersebut bukan sekadar gas air mata. ”Itu racun, Mas. Saya beberapa kali kena gas air mata, tidak seperti ini efeknya,” tegasnya.

GAS AIR MATA: ZAT KIMIA, METODE PENYEBARAN, DAN EFEK

APAT ITU GAS AIR MATA?

  • Zat aktif dalam gas CS (senyawa paling umum digunakan sebagai gas air mata) adalah 2-chlorobenzalmalononitrile. Zat padat putih tersebut disebarkan sebagai partikel mikroskopis atau dilarutkan dalam sebuah cairan.
  • Chloreacetophenone (senyawa CN atau biasa disebut mace) juga bisa dipakai sebagai gas air mata. Namun, sebagian besar sudah diganti dengan CS.
  • Semprotan merica berbeda dengan gas air mata. Produk tersebut mengandung capsaicinoid, senyawa yang diambil dari cabai.

METODE PENYEBARAN GAS AIR MATA

  • CS disebarkan menggunakan kaleng (cartridge) yang dibakar. Asap dari kaleng tersebut memproduksi penyebar dari gas air mata sebagai awan yang terdiri atas partikel mikroskopis ke lingkungan sekitar.

RAMUAN AWALAN

  • Campuran awal mulai terbakar saat kaleng dinyalakan. Campuran tersebut terdiri atas batu bara sebagai bahan bakar dan potasium untuk membantu oksidasi sehingga zat inti bisa terbakar lebih cepat

RAMUAN ASAP

  • Ramuan asap terdiri atas zat aktif CS. Ditambah dengan sukrosa sebagai bahan bakar dan lagi-lagi kalium klorida untuk meneruskan reaksi oksidasi. Magnesium karbonat digunakan untuk menekan level asiditas. Sedangkan, nitroselulosa digunakan untuk menyatukan semua zat.
  • CS juga bisa dilarutkan dalam cairan dan digunakan sebagai semprotan. Salah satu zat pelarut yang paling umum adalah metil isobutik keton. Semprotan dengan kandungan 1 persen CS digunakan di AS. Sedangkan semprotan CS dengan kandungan 5 persen digunakan di Inggris.

EFEK GAS AIR MATA

  • Gas air mata bisa menyebabkan iritasi pada mata, hidung, mulut, kulit, dan saluran pernapasan. Hal tersebut bisa menimbulkan gejala inflamasi, batuk, dan kesulitan bernapas. Efek itu bakal berlangsung selama 15–30 menit.
  • Individu dengan penyakit bawaan yang memengaruhi sistem pernapasan merupakan kelompok paling rentan terhadap gas air mata. Ada beberapa bukti bahwa pemaparan CS bisa berakibat pada penyakit pernapasan.

CARA MERAWAT PAPARAN GAS AIR MATA

Tidak ada penawar untuk gas air mata. Meskipun, beberapa sumber menyatakan penggunaan susu atau solusi baking soda untuk menyiram area yang sakit. Namun, tidak ada bukti yang menyatakan solusi tersebut lebih efektif daripada air.

1 . Jauhi area yang terkontaminasi dan cari tempat yang punya udara segar.

2. Lepaskan semua pakaian yang sudah terkontaminasi dan usap wajah untuk menyingkirkan partikel.

3. Gunakan air mengalir dan sabun untuk menghapus kontaminasi dari kulit. Siram mata dengan air atau cairan garam selama 10–20 menit.

Sumber: Coumpoundchem.com

Editor : Ilham Safutra

Reporter : rid/c7/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads