alexametrics

Duduk-Duduk tanpa Masker, Awas Malam Minggu Kelabu

10 Oktober 2020, 18:08:39 WIB

Pemkot punya tim khusus. Tugas yang diembannya cukup berat. Sebagai garda terdepan penanganan korona, tim itu harus stand by 24 jam. Memburu pelanggar protokol kesehatan (prokes). Swab Hunter namanya. Seperti apa kiprahnya?

ARISKI PRASETYO, Surabaya

Akhir pekan lalu, tepatnya lewat pukul 21.00, lima pemuda terlihat berkeliling di depan Gelora 10 November. Kelimanya mengendarai sepeda motor. Seketika mereka berhenti. Motor ditepikan di depan Taman Mundu.

Pemuda itu lantas duduk berdempetan di jalur pedestrian. Obrolan dibuka. Asap rokok mengepul. Momen malam panjang memang nikmat dihabiskan dengan cerita. Namun, mereka tidak awas. Di ujung jalan, sejumlah petugas sudah mengintip. Kelimanya menjadi target. Pasalnya, pemuda itu abai. Tidak mematuhi protokol kesehatan (prokes). Masker tidak dikenakan.

Dalam hitungan detik, petugas bergegas turun. Kelimanya digerebek. Mereka kaget bukan kepalang. Lantas, berupaya mencari celah. Untuk ambil langkah seribu.

Malam minggu berakhir kelabu. Entah memakai cara apa, empat pemuda berhasil berkelit dari sergapan petugas. Motor dipacu kencang. Tim berupaya mengejar. Aksi pengejaran pun terjadi. Sayangnya, petugas kalah cerdik. Empat pemuda itu masuk ke jalan-jalan sempit sehingga berhasil lolos.

Satu pemuda lain tak bisa berkutik. Dia dikepung empat petugas. Pelanggar prokes tersebut nekat. Memacu kencang motornya. Alhasil, petugas ditabrak. Petugas tumbang. Dia ikut jatuh. Tim berhasil menangkap pemuda itu.

Aksi heroik tersebut masih diingat Camat Tambaksari Ridwan Mubarun. Kala itu, sebagai pimpinan Swab Hunter, dia bersama satpol PP, linmas, TNI, serta Polri turun menggelar razia. Menyasar pelanggar prokes. ’’Target kami yang tidak memakai masker dan berkerumun,’’ paparnya.

Nah, lima pemuda itu menjadi sasaran. Mereka tidak memakai masker. Sayangnya ketika dikejar, empat yang lain lolos. ’’Malah ada petugas yang luka karena ketabrak,’’ ucapnya.

Ya, sejak seminggu lalu, tugas Ridwan bertambah. Tidak hanya melayani warga, memimpin kecamatan, serta menelaah kawasan Tambaksari, Ridwan juga harus turun memelototi wilayah setiap hari. Menggelar razia prokes. Sebagai Swab Hunter.

Razia itu terus dilakukan. Pagi dan malam. Bagi yang melanggar, sanksi berat sudah menanti. Warga yang tidak mengenakan masker dan berkerumun langsung diangkut dengan kendaraan satpol PP dan linmas. Mereka diharuskan menjalani uji usap. ’’Kalau tidak tes swab, tidak kami perkenankan pulang,’’ ucapnya.

Tambaksari merupakan wilayah paling padat di Surabaya. Permukiman terus bertambah. Kafe, warung, serta fasilitas publik terhampar. Tentu, hal itu menjadi perhatian Ridwan. Jangan sampai korona merebak.

Swab Hunter menjadi solusi. Pagi dan malam, seluruh wilayah dipelototi. Yang melanggar dikenai sanksi. Total jumlah pelanggar prokes di Tambaksari mencapai 60 orang. ’’Sesuai perintah Bu Wali, kami harus menekan korona,’’ tegasnya.

Lain Tambaksari, lain pula Sawahan. Swab Hunter tidak hanya menggelar razia di jalan. Pasar juga menjadi sasaran. Tujuannya memastikan seluruh pedagang dan pembeli mematuhi prokes.

Minggu lalu, Swab Hunter turun ke pasar yang berlokasi di Jalan Kranggan itu. Personel lengkap. Tim dinas kesehatan (dinkes) memakai baju hazmat. Namun, kondisi pasar yang ramai tiba-tiba sepi.

Pedagang enggan menjalani uji usap. Mereka khawatir dinyatakan terinfeksi korona. Alhasil, satu per satu pemilik toko memilih tutup. Camat Sawahan Yunus bergegas bertindak. Dia turun ke lokasi. Menghampiri pedagang yang masih buka. ’’Saya ajak komunikasi pedagang,’’ ucapnya.

Bukan sembarang dialog. Yunus memahami bahwa mayoritas pedagang Pasal Blauran berasal dari Madura. Nah, dia lantas bercakap-cakap dengan bahasa Madura. Satu per satu pedagang diajak bicara. Meyakinkan penjual bahwa uji usap bukan untuk menutup pasar. Namun sebaliknya, untuk memutus mata rantai korona. ’’Ini bentuk perhatian pemkot. Kami berupaya memastikan kesehatan pedagang,’’ jelasnya.

Kerja keras itu akhirnya terbayar. Pedagang bersedia menjalani uji usap. ’’Kuncinya harus memahami lapangan,’’ terangnya.

Selain pasar, tempat keramaian juga menjadi sasaran berikutnya. Mulai kafe, warkop, hingga warung makan. Yunus mengatakan, sebelum turun, sasaran razia ditentukan. ’’Pagi di pasar, malam di tempat keramaian,’’ katanya.

Tidak hanya melakukan uji swab, pihaknya juga memberikan imbauan. Terutama kepada pedagang. Pemkot tidak melarang pedagang membuka usaha. Namun, harus mematuhi prokes.

Di antaranya, jumlah pengunjung dibatasi. Kapasitas tempat tidak diperbolehkan terisi 100 persen. Maksimal 50 persen. Selain itu, jarak tempat duduk diatur. Tidak boleh berdempetan. Pengelola harus menyediakan wastafel dan hand sanitizer.

Yunus menjelaskan, Swab Hunter terus berkeliling. Memantau keramaian. Sudah tujuh hari tim itu beraksi. Total lebih dari 100 orang yang terjaring.

Swab Hunter merupakan garda terdepan penindakan prokes. Tim itu dibentuk di seluruh kecamatan. Nakhodanya camat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPB) Linmas Irvan Widyanto mengatakan, untuk meredam Covid-19, pemkot melakukan sejumlah cara. Salah satunya mengerahkan Swab Hunter. Untuk mengawasi dan menindak pelanggar prokes.

Mantan Kasatpol PP itu menilai, Swab Hunter sudah berjalan dengan baik. Dari telaah, kerja tim itu optimal. Mampu menekan jumlah pelanggar prokes. ’’Warga jera dengan sanksi uji usap,’’ jelasnya.

Kondisi Surabaya semakin membaik. Tingkat persebaran korona bisa dikendalikan. Tingkat kesembuhan terus bertambah. Irvan menyatakan, Surabaya harus kembali hijau. Agar aktivitas warga kembali berjalan normal. Ekonomi pun bisa menggeliat. Sekolah dapat menggelar pembelajaran tatap muka.

Pemkot punya harapan besar bagi Swab Hunter. Tim itu diminta terus bergerak. Menindak seluruh pelanggar prokes. Yang tidak kalah penting mengedukasi warga tentang bahaya korona. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (*/c6/git)




Close Ads