alexametrics

Sariningsih, Penerima Woman of Excellence Indonesia Awards

Yoga Gaya Hidup, Bukan Pamer Pose
10 Oktober 2019, 20:48:02 WIB

Konsistensi Sariningsih dalam olahraga yoga menuai hasil. Dia diganjar beberapa penghargaan tahun ini. Salah satunya kategori Woman Excellence in Professional. Dia dianggap memberikan pengaruh positif di kalangan kaum hawa.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

SAYA lebih memilih untuk membesarkan apa yang saya miliki ketimbang panjat sosial dengan memanfaatkan nama orang lain,” ujar Sariningsih mengawali perbincangan dengan Jawa Pos pekan lalu. Perempuan yang akrab disapa Sari itu selama ini dikenal khalayak sebagai professional yoga teacher and pole international certificate. Baru-baru ini, namanya juga dinobatkan sebagai Inspiring Woman dalam penghargaan Top Woman di Bali.

Selain itu, dalam penghargaan berbeda, dia mendapatkan kategori Woman Excellence in Professional. Tepatnya dalam Woman of Excellence Indonesia Awards. Tidak berhenti di situ. Founder The Arts of Yoga (TAOY) By SS itu juga diganjar Best of the Best Studio Yoga. Dalam penghargaan terakhir itu, Sari dianggap sebagai instruktur yoga yang konsisten dan stabil mengajar selama bertahun-tahun.

Perempuan 44 tahun tersebut mengawali usaha dengan membuka House of Sari pada periode 2000-an. Itu menjadi pionir studio yoga di Surabaya. ”Sekitar delapan tahun lalu, saya kembali menetap di Surabaya setelah beberapa tahun tinggal di luar. Waktu itu, saya lihat yoga belum terlalu booming di sini. Orang belum tergila-gila dengan yoga,” kenangnya Padahal, ketika tinggal di beberapa negara seperti Skotlandia, Swiss, maupun Kuala Lumpur, Sari melihat yoga sudah menjadi gaya hidup. Bukan sekadar olahraga rutin untuk mencapai pose tertentu. Artinya, yoga tidak sekadar dilakukan untuk mencapai goal pose indah, lantas diunggah di media sosial. Tetapi, yoga menjadi terapi kesehatan. Atau healing bagi organ-organ tubuh.

”Inti yoga itu ada di pernapasan. Bisa dibilang, itu jantungnya yoga. Kalau cuma mau pose bagus, sebulan dua bulan pasti sudah mrotol. Tapi kalau sudah jadi lifestyle, sampai tahunan juga latihannya masih awet,” paparnya. Ketika peyoga sudah mencapai level tersebut, manfaatnya akan dobel-dobel. Sehat fisik luar sekaligus meningkatkan kualitas fungsi jantung, hati, dan sebagainya.

”Nggak cuma casing-nya yang bagus. Tapi, organ-organ dalam juga ikut sehat. Imun tubuh lebih meningkat. Usia lebih panjang,” imbuhnya. Itulah yang terus diedukasi Sari tanpa henti. Dia juga selalu mengingatkan member-nya untuk peka terhadap alarm tubuh. Tahu limitnya sampai di mana. Dengan demikian, mereka tidak memaksakan suatu gerakan yang belum bisa dikuasai. Ketimbang nanti kecetit, baru bisa sembuh tiga bulan.

Penerima sertifikasi resmi dari Viyasa Yoga School Singapore (cabang Swami Vivika Nanda Bangalore, India) itu punya satu kesedihan. Yakni, masih ada beberapa instruktur yoga abal-abal di Surabaya. Mereka telah mengajar yoga, padahal belum mengikuti teacher training selama 200 jam yang sesuai ketentuan mesti ditempuh dalam waktu sekitar satu bulan dengan kelas seharian, full, pagi hingga sore.

”Kebanyakan ikut workshop yoga, setelah itu langsung buka kursus,” ujarnya. Sari mengaku diminta oleh sekolah yoga di India dan Singapura untuk mengeluarkan sertifikasi yoga dengan izin dari mereka. Namun, tawaran itu belum diiyakan. Sebab, baginya, dibutuhkan tanggung jawab moral yang besar untuk mencetak instruktur yang sungguh punya kualitas.

Ke depan, dia juga masih punya mimpi. Bisa mengadakan kembali Karma Yoga gratis bagi lansia. Kegiatan amal itu pernah digelar tiga tahunan lalu setiap pekan. Namun, kemudian berhenti karena terbatasnya waktu dan tenaga

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia



Close Ads