alexametrics

Nastiti Intan Permata Sari, Doktor Termuda Unair dengan IPK 4,00

Lulus 2,5 Tahun, Langsung Ditawari Jadi Dosen
10 September 2019, 20:48:58 WIB

NAMA Nastiti Intan Permata Sari viral setelah predikat lulusan terbaik Universitas Airlangga (Unair) melekat pada dirinya. Selain mendapatkan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna, dia menyandang doktor termuda Unair.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

Nastiti tenggelam dalam ratusan buku di Perpustakaan Kampus C Universitas Airlangga (Unair) kemarin (9/9). Meski sudah lulus program doktor, kecintaannya pada buku tidak hilang. Perempuan 26 tahun itu terus menambah wawasannya dengan melahap buku.

”Tadinya iseng karena sudah alumni. Rasanya, saya ingin pinjam buku ini,” kata Nastiti saat mencari buku mikrobiologi.

Nastiti adalah alumnus program pendidikan magister menuju doktor untuk sarjana unggul (PMDSU) Unair. Program studi (prodi) yang diambil ilmu kedokteran fakultas kedokteran. Dia menyelesaikan program doktor hanya 2,5 tahun. Sementara itu, S-1 prodi biologi diselesaikan 3,5 tahun dan S-2 prodi ilmu kedokteran tropis hanya 1,5 tahun ”Saya ikut program PMDSU sejak 2015 saat S-2, lanjut S-3,” ujarnya.

Tidak sekadar menyelesaikan pendidikan dengan sangat singkat. Nastiti juga meraih IPK sempurna di program PMDSU ilmu kedokteran. Yakni, 4,00. Tesis yang digarap pun tidak main-main. Dia mengidentifikasi molekuler bakteri penyebab tuberkulosis (TBC) paru. ”Penelitian saya ini sudah saya mulai sejak S-2. Saya lanjutkan di S-3,” kata perempuan kelahiran Madiun, 20 Juni 1993, itu.

Nastiti tidak menyangka berhasil meraih predikat terbaik dengan nilai sempurna. Sebab, program S-3 itu tidak hanya ditempuh di Unair. Namun, juga di Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Di semester awal aktif di kuliah reguler. Setelah mendekati semester akhir, saya bisa memilih kuliah di perguruan tinggi lain. Saya ambil di UGM dan Unair,” ujar putri sulung dua bersaudara itu.

Dalam tesisnya, Nastiti harus melakukan penelitian di Indonesia dan Jepang. Pada semester IV, dia ke Jepang untuk mengerjakan penelitian molekulernya. Awalnya hanya untuk uji coba DNA (deoxyribonucleic acid) dari sampel pasien yang diambil di Indonesia. ”Uji coba DNA pertama tiga bulan di Jepang. Sampelnya kurang dan kembali ke Indonesia lagi untuk menambah sampel,” katanya.

Nastiti menjelaskan, sampel diambil dari pasien di Indonesia. Sampel tersebut kemudian dikultur. Lantaran bakteri TBC itu unik, dibutuhkan waktu sekitar 6–8 minggu untuk proses perkembangbiakan. Setelah itu, dilakukan isolasi DNA di Indonesia. ”Lalu, DNA tersebut dibawa ke Jepang lagi untuk diuji coba. Sekitar lima bulan uji coba di Jepang hingga selesai,” jelas putri pasangan Tego Diono dan Hartini itu.

Penelitian Nastiti tersebut didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti). Yakni, program beasiswa peningkatan kualitas publikasi internasional (PKPI). ”Tidak semua mendapatkan beasiswa tersebut. Harus mengajukan proposal, berkas, dan seleksi wawancara,” kata dia.

Nastiti mengatakan, penelitian tersebut berawal dari rekomendasi promotornya yang kebetulan di bidang mikrobiologi. Selain itu, kasus TBC di Indonesia menduduki urutan ke-3. Bahkan, Indonesia merupakan daerah endemis TBC. ”Saya kebetulan S-1 biologi. Pendekatan saya lebih ke bakterinya,” ujarnya.

Hasil penelitian Nastiti menyebutkan bahwa ada jenis bakteri modern dalam sampel yang dia teliti. Yakni, Beijing strain. Hipotesisnya sudah ada di jurnal internasional dan cenderung lebih resistan terhadap obat. Namun, belum diketahui resistansi bakteri tersebut terhadap jenis obat apa.

Nastiti menyatakan masih berkeinginan menjadi dokter. Meskipun saat ini dia sudah menyandang gelar doktor. Sebab, dengan menjadi dokter, dia bisa mengambil kebijakan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. ”Sekarang saya sudah ditawari Pak Rektor untuk menjadi dosen tetap non-PNS. Saya senang karena bisa sharing dan terus menjadi peneliti. Sekarang sedang mengurus berkas-berkasnya,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia

Close Ads