alexametrics

Kekecewaan Mereka karena Audisi Djarum Beasiswa Harus Berhenti 2020

Berlatih 6 Jam Sehari demi Hadapi Audisi
10 September 2019, 15:46:55 WIB

Bakal berhentinya audisi tak cuma berarti hilangnya kesempatan banyak bakat muda berkompetisi. Tapi, juga tidak adanya lagi ajang penyulut motivasi.

RAGIL PUTRI IRMALIA, Purwokerto, Jawa Pos

AKMAL Zidan Pamuji tahu, tak ada lagi ruang untuk melakukan kesalahan. Dia harus habis-habisan di Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis tahun ini. Itu kalau dia mau merebut slot untuk jadi atlet PB Djarum, raihan yang hampir berhasil dia gapai tahun lalu.

”Mudah-mudahan bisa lolos. Soalnya tahun depan kan sudah nggak ada lagi (audisinya),” kata bocah 12 tahun itu kepada Jawa Pos yang menemuinya di GOR Satria, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kemarin (9/9).

Farida Asriani, sang bunda, menambahkan bagaimana si buah hati kecewa mendengar keputusan penghentian tersebut. Kekecewaan yang tentu juga dirasakannya. ”Kalau ada audisi, latihannya lebih giat lagi. Karena ada tujuan yang ingin dicapai,” katanya.

Djarum Foundation (Yayasan Djarum) memilih menghentikan audisi mulai tahun depan. Keputusan itu diambil buntut dari tudingan eksploitasi anak yang dilontarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tudingan yang telah ditepis Djarum Foundation, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Juga, banyak pihak lain.

Lewat audisi yang berlangsung sejak 2006 itu, banyak bakat yang bisa ditemukan. Salah satunya Kevin Sanjaya Sukamuljo. Duetnya bersama Marcus Fernaldi Gideon merupakan ganda pria nomor satu dunia saat ini.

Tahun ini audisi dihelat di lima kota. Yakni, Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo, dan Kudus. Dan, diikuti total 1.607 peserta yang dibagi ke dalam tiga kategori: U-11, U-13, dan U-15 putra dan putri.

Suara kekecewaan seperti yang dilontarkan Zidan dan sang bunda juga didapati Jawa Pos dalam percakapan dengan sejumlah peserta dan orang tua mereka kemarin di GOR Satria. Nasim, kakek Affizah Rahmadani, peserta di kategori U-11, misalnya, menceritakan bagaimana tak sedikit klub sebenarnya sudah menawari sang cucu bergabung.

Tapi, Affizah keukeuh memilih mengikuti audisi agar bisa masuk PB Djarum, klub bulu tangkis yang telah melahirkan begitu banyak legenda.

”Pas 2017 lalu, dia tiga kali main, lalu kalah. Tahun 2018 nggak lolos skrining, lalu sekarang ikut lagi,” katanya.

Karena itu, kakek 59 tahun asal Purbalingga, Jawa Tengah, tersebut bisa membayangkan betapa kecewanya sang cucu jika tahun ini tak lolos. Sebab, tahun depan tak ada lagi audisi. Pihak Djarum Foundation belum memastikan sampai berapa lama penghentian itu.

Padahal, pengorbanan sang cucu begitu besar untuk bisa mewujudkan mimpi besarnya tersebut. Tiap sore Nasim memboncengkan cucunya itu dengan motor, menempuh jarak sekitar 27 kilometer, untuk berlatih ke PB Jupiter di Banjarnegara. Itu agar Affizah bisa mendapatkan latihan terbaik.

”Latihan setiap hari jam 3 sore, pulang sampai jam 9 malam. Kadang pas boncengan motor, dia (Affizah) selalu saya ikat biar tidak jatuh karena ngantuk,” kata Nasim.

Audisi yang dihelat di Purwokerto juga sangat membantu Nasim dan Affizah. Sebab, lokasinya tak begitu jauh untuk dijangkau dari Purbalingga.

”Jika harus ke Kudus (markas PB Djarum), butuh biaya yang besar. Kalau tidak ada audisi lagi tahun depan, ya terpaksa ikut turnamen-turnamen yang dekat-dekat sini saja,” kata Nasim.

Di sekeliling GOR Satria kemarin, tidak tampak embel-embel nama Djarum. Apalagi merek rokok. Yang terlihat menonjol hanya brand makanan, minuman, dan toko online.

Di GOR Satria itu pula, Heru Salim, ayahanda Tina Syifa Sabila, peserta kategori U-11 putri, mengaku sudah berbagi keresahan dengan orang tua peserta yang lain. Apalagi, sang putri baru tahun ini berpartisipasi.

”Enaknya jemput bola kan seperti ini. Bisa terjangkau oleh kami,” kata Heru yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah, yang berjarak sekitar 88 kilometer dari Purwokerto.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin memang sudah mengatakan, meski audisi dihentikan tahun depan, pihaknya akan terus menjalankan pembinaan bulu tangkis. Hanya, caranya yang mungkin kembali ke pola lama: memantau turnamen-turnamen berskala nasional. Atau berburu bakat ke berbagai klub.

Tapi, tetap saja audisi punya kelebihan tersendiri. Karena tempat penyelenggaraan tersebar di berbagai kota, jumlah peserta yang berpartisipasi lebih banyak. Otomatis lebih banyak Kevin Sanjaya Sukamuljo lain yang akan terpantau.

Selain itu, seperti diakui Farida, audisi membuat motivasi anak-anak peserta lebih tersulut. ”Dampak positifnya bisa luas ya,” katanya.

Zidan, sang anak, pun kini berusaha keras melupakan kekecewaan karena audisi tak lagi dihelat tahun depan. ”Tahun depan belum tahu mau ngapain. Yang ini dulu, fokus biar bisa menang besok (hari ini),” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg

Close Ads