Generasi Emas

Rencana Manis Para Peraih Medali Emas di Asian Games 2018

Ajak Orang Tua Umrah dan Bangun Rumah

10/09/2018, 16:19 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tiara Andini (JAWA POS PHOTO)
Share this image

JawaPos.com - Sudah ada tiga rencana yang segera dijalankan Tiara Andini Prastika. Sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan merebut emas downhill putri di Asian Games 2018.

Yang pertama, bakal mengajak ayah-ibu dan keempat saudara untuk umrah. Rencananya, mereka berangkat Desember mendatang.

Yang kedua, ini yang lebih mendesak, merampungkan bangunan rumah orang tua di Semarang, Jawa Tengah. "Tembok dan lantai belum diplester. Itu dulu mungkin yang harus diselesaikan," sebutnya.

Khoiful Mukhib (JAWA POS PHOTO)

Di Asian Games lalu Indonesia berhasil mengawinkan emas di downhill. Nomor putri lewat Tiara dan di putra melalui Khoiful Mukhib. Itu sukses terbesar Indonesia di cabang olahraga (cabor) balap sepeda Asian Games dalam 56 tahun terakhir. Kali terakhir wakil Merah Putih merebut emas di cabor tersebut pada 1962.

Keberhasilan itu tentu diraih dengan tidak mudah. Tiara, misalnya, menderita cedera patah telunjuk kanan setelah mengalami insiden pada Februari lalu. Tetapi, dia memilih tidak langsung operasi dan melanjutkan latihan sembari terapi.

Proses penyembuhan berjalan lancar. Tiga bulan berselang, Tiara ikut serta tampil di kejuaraan Asia di Cebu, Filipina. Hasilnya cukup mengejutkan. Dengan kondisi belum sepenuhnya fit, dia finis tercepat ketiga. "Tetapi, makin ke sini makin berat. Saya masih merasakan agak ngilu kalau dipaksa latihan agak berat," ungkapnya.

Untung, Tiara punya trik khusus untuk bisa kembali beradaptasi dengan lintasan. Dia melakukan visualisasi dan menonton lagi videonya yang terdahulu. Dampaknya, Tiara bisa merasakan situasi lintasan walaupun saat itu belum kembali berlatih. "Kebetulan saya punya memori bagus. Jadi, waktu melihat video perlombaan, saya juga bisa merasakannya," ujar dia.

Karena itu, rencana ketiga yang juga bakal segera dia jalankan adalah naik meja operasi. Untuk menyembuhkan telunjuk kanannya. "Saya sudah berkonsultasi dengan PB ISSI," katanya.

Itu Tiara. Bagaimana Khoiful Mukhib? Bagi atlet asal Jepara, Jawa Tengah, itu, emas Asian Games, ditambah bonus Rp 1,5 miliar dari pemerintah plus ganjaran apresiasi dari berbagai pihak, adalah berkah menyambut anak pertama. Menurut perhitungan, September ini sang istri Hamidah Nasihati akan melahirkan.

Sejumlah rencana berbisnis sudah dia siapkan. Meski demikian, tawaran menjadi pegawai negeri sipil juga akan tetap dia ambil. "Buat pegangan setelah tidak menjadi atlet," katanya.

Mukhib sebenarnya tidak diunggulkan merebut emas. Sebab, ada koleganya, Popo Ario Sejati, yang selama ini lebih unggul secara prestasi. Tapi, petaka datang kepada Popo. Dia terlibat crash dan harus naik meja operasi.

Otomatis beban merebut emas berpindah ke pundak Mukhib dan dia berhasil menuntaskannya. Kelebihan Mukhib ada pada pemahaman mendalam tentang lintasan Khe Bun di Subang, Jawa Barat, venue cabor downhill di Asian Games lalu.

Budi Saputra, manajer balap sepeda Indonesia, mengungkapkan, kesuksesan Tiara dan Mukhib kian menambah semangat pihaknya untuk terus melakukan pembinaan. "Bagi kami ini capaian besar. Walaupun tidak dipertandingkan di Olimpiade, downhill tetap menjadi andalan kami," ujarnya. 

(nap/c9/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi