alexametrics

Upaya Pemerintah dan Sejarawan Hidupkan Langgar Gipo Jadi Ikon Wisata

Bakal Jadi Rumah Ibadah Plus Museum
10 Agustus 2020, 06:06:39 WIB

Langgar Gipo di Jalan Kalimas Udik, Pabean Cantian, sudah lama mati. Sejarawan, arsitek, dan pemerintah bekerja sama untuk menghidupkan rumah ibadah peninggalan keluarga Abdul Latif Tsaqifuddin (Sagipoddin) tersebut. Selain menjadi tempat salat, langgar itu bakal dimanfaatkan untuk museum dan destinasi wisata.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

Wajah Langgar Gipo sudah banyak berubah. Kini warna jendela dan pintunya semakin cerah. Perpaduan cat hijau dan cokelat justru semakin menguatkan kesan kuno bangunan tersebut.

Langgar Gipo ditata ulang sejak awal Juli. Dulu, kondisi rumah ibadah berarsitektur kolonial itu cukup memprihatinkan. Seluruh temboknya terlihat usang. Lantai dan atapnya tampak kotor. Temboknya juga mengkhawatirkan karena sebagian batu batanya cuil.

Langgar tersebut terkesan tidak terawat. Bangunan berlantai dua itu sudah lama tidak dipakai untuk beribadah. Kesehariannya, tempat ibadah itu hanya dimanfaatkan para tunawisma untuk beristirahat.

’’Kira-kira sudah 50 tahun tidak terpakai. Kami sulit merawatnya,’’ ungkap Muhammad Yunus, keturunan ketujuh Sagipoddin. Pria tersebut dipercaya sebagai penjaga langgar. Yunus pun mengungkapkan senang mendengar komitmen sejarawan dan pemerintah untuk menghidupkan lagi tempat ibadah.

Bagi keluarga Sagipoddin, Langgar Gipo memang cukup bersejarah. Bukan hanya tempat berkumpulnya ulama Nahdlatul Ulama (NU) zaman dulu. Bangunan berusia 200 tahun itu juga tercatat sebagai asrama haji pertama di Surabaya.

Dulu, banyak orang yang berhaji dengan memanfaatkan kapal. Mereka naik angkutan laut yang berlayar di Sungai Kalimas. Lokasi naik turunnya penumpang kapal terletak di dekat Jalan Kalimas Udik, Kampung Bandar Baru. ’’Jamaah haji menunggu dan beristirahat di Langgar Gipo sebelum berangkat ke Makkah,’’ ungkap Yunus.

Yunus menjelaskan bahwa keinginan untuk menghidupkan bangunan bersejarah mendapat dukungan ahli waris. Mereka merestuinya. Keluarga Sagipoddin senang lantaran langgar bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Persetujuan ahli waris jadi modal sejarawan. Setelah musyawarah, para pegiat sejarah di Surabaya sepakat menata Langgar Gipo. Proyek rehab dilakukan dengan bantuan banyak pihak.

Lantas, akan dikembangkan jadi apa Langgar Gipo? Ketua Komunitas Laskar Soeroboyo Muhammad Saiful menjelaskan bahwa proyek penataan langgar dilakukan secara bertahap. Yang pertama difokuskan pada perubahan warna.

’’Tentu, pewarnaan ulang tidak ngawur. Kami sesuaikan dengan sejarahnya,’’ kata Saiful. Dia mengakui bahwa upaya menghidupkan kembali bangunan lawas tidak mudah. Mereka juga bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Ada pernak-pernik yang akan membuatnya semakin hidup. Misalnya, pemasangan lampu model klasik yang menjamur di kawasan kota tua.

’’Untuk desainnya sudah selesai. Fungsi lantai 1 dan 2 berbeda,’’ kata Saiful. Menurut dia, bagian bawah akan dipakai untuk tempat beribadah. Sementara itu, lantai 2 digunakan untuk museum.

Ada berbagai pertimbangan kenapa harus terdapat museum di Langgar Gipo. Bukan hanya nilai sejarah bangunan yang cukup tinggi. Pegiat sejarah dan pemerintah juga melihat posisi langgar sebagai penunjang wisata di Surabaya.

Langgar Gipo berada di kompleks strategis. Tidak jauh dari Ampel dan Jalan Panggung yang sudah masyhur. Pegiat sejarah optimistis jika keberadaan Langgar Gipo akan mendukung program wisata kota tua yang mulai didengungkan Pemkot Surabaya.

Apalagi, modal pendirian museum cukup banyak. Ahli waris pun sudah menyetujuinya. Selain itu, banyak peninggalan keluarga Sagipodin yang layak ditampilkan ke publik. ’’Jumlahnya sudah sekitar 30-an. Nanti dikumpulkan seluruhnya,’’ ucap Saiful.

Dia menyebut peninggalan lawas terkait Langgar Gipo tidak hanya berupa kitab dan buku. Ada pula tikar selebar 60 cm yang dulu dipakai untuk berdiskusi para ulama zaman dulu. ’’Meski kecil, alas duduk itu peninggalan bersejarah. Sekarang kami akan mengumpulkan koleksi satu per satu,’’ papar Saiful.

Kepala Disbudpar Surabaya Antiek Sugiharti menyebutkan bahwa usul-usul terkait penetapan Langgar Gipo jadi cagar budaya sudah ditindaklanjuti. Tim cagar budaya sudah melakukan survei. ’’Sekarang masih diproses,’’ papar Antiek.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/ady




Close Ads