alexametrics

Agus Ali Fauzi, Ahli Paliatif RSUD dr Soetomo yang Juga Penceramah

Diantar Helikopter Ceramah di Trenggalek
10 Agustus 2019, 20:48:56 WIB

GAYA kocak tapi bikin nyes di hati saat dr Agus Ali Fauzi PGD PallMed (ECU) memberikan ceramah kesehatan mental bikin audiens terpukau. Ciri khas itulah yang membuat dia terkenal.

KARTIKA SARI, Surabaya

Tampang sangat serius. Tatapannya tajam. Kalau berdiskusi dengannya tentang dunia medis, bisa habis waktu seharian. Namun, kalau sudah mendengar dia berceramah tentang kesehatan mental, boom! Semua orang bisa terbahak-bahak karena kelucuannya. Mulai tutur kata hingga tingkah lakunya. Dialah dr Agus Ali Fauzi PGD PallMed (ECU), ahli paliatif RSUD dr Soetomo.

Agus dikenal banyak orang dengan sebutan Pak Ustad karena dia sering mengisi ceramah siraman rohani. Bukan hanya orang pada umumnya yang dia beri ceramah. Melainkan juga orang-orang yang punya penyakit kanker stadium lanjut. Dia dipercaya banyak orang untuk memberikan dukungan kepada pasien agar termotivasi untuk sembuh atau meninggal dalam keadaan ikhlas.

”Ini bukan untuk menakut-nakuti orang, tapi memang semua orang akan mati. Dan untuk mati itu kita harus mempersiapkannya,” tuturnya. Sudah banyak kota yang dia kunjungi untuk mengenalkan masyarakat pada paliatif. ”Paliatif adalah bagaimana menyembuhkan pasien yang sakit tapi bukan dari fisiknya, melainkan dari jiwanya,” lanjut Agus.

Kepiawaian Agus memberikan spiritual support bikin orang yang pernah mengikuti kajiannya terpukau. Undangan pun silih berganti Tahun lalu, misalnya, Agus hendak mengisi ceramah untuk bidan dan perawat di Trenggalek. Tapi, sebelumnya dia harus mengisi ceramah di depan para anggota kepolisian di Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur. ”Saat itu Kapolda Machfud Arifin meminta saya langsung. Saya katakan bahwa saya ada agenda lain. Tapi, Kapolda bilang akan diberi tumpangan helikopter ke Trenggalek,” kata Agus.

Dipikirnya itu guyonan. Ternyata, pada hari itu juga, Kapolda benar-benar telah menyiapkan helikopter untuk Agus. Hari itu menjadi pengalaman pertamanya naik helikopter untuk mengisi ceramah di Trenggalek. ’’Kapan lagi bisa dapat fasilitas naik helikopter pribadi?” tuturnya, lantas tertawa.

Pada 2017 dia juga mengalami kejadian yang membuatnya trenyuh. Masih jelas di ingatannya, saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang dari visit pasien di RS. Tiba-tiba teleponnya berdering. Di ujung telepon, terdengar temannya berbicara. Istri penelepon tersebut merasa kesakitan karena kanker payudara. Setelah menyelesaikan urusan pribadinya, Agus pun mendatangi rumah temannya itu.

Benar saja, perempuan berusia lebih dari 60 tahun tersebut menjerit-jerit kesakitan. ”Istrinya itu terlihat duduk sambil mendekap bantal. Lalu, suaminya memegangi istrinya dari belakang,” kata Agus. Setelah memberikan obat antinyeri dan antisesak, Agus membantunya dengan spiritual support. ’’Biar tenang, orang kalau panik akan tambah sakit,” ucapnya. Akhirnya perempuan itu bisa tertidur.

Beberapa hari kemudian, Agus mendengar kabar bahwa perempuan tersebut meninggal. ”Mulai saat itu saya merasa kalau ada orang sakit, jangan ditunda untuk ditolong atau dijenguk,” ucapnya. Dia merasa senang perempuan tersebut bisa meninggal dengan kondisi tidak terbebani.

Dia juga pernah mendapatkan pasien kanker tulang. Masih cukup muda. Empat belas tahun usianya. Setelah melakukan pendekatan, Agus mengetahui bahwa anak itu masih ingin bersekolah. ”Kami juga berusaha membuat dia bisa bersekolah. Kakinya memang diamputasi. Tapi, kami gantikan dengan kaki palsu sehingga dia bisa bersekolah lagi,’’ ucap laki-laki kelahiran Surabaya, 23 Februari 1963, itu.

Menurut Agus, setiap orang sakit tidak boleh merasa terbebani. Apalagi merasa bahwa penyakit yang dideritanya disebabkan dosa-dosanya yang banyak. ”Kalau tidak bisa membawa beban sendiri, ya ceritakan ke orang lain, sharing. Nanti yang cari solusi orang-orang di sekitar pasien,” tutur Agus. Dengan begitu, pasien hanya berfokus pada kesehatannya.

Ketika ditanya siapa yang membuat dia mau berkecimpung di dunia paliatif, Agus menyebutkan deretan nama senior-seniornya. Merekalah yang membuat Agus semangat terus melakukan pendekatan kepada pasien, mencoba memahami keinginan mereka, dan mengatakan kepada keluarga agar bisa mengabulkan keinginan tersebut.

Namun, jalan yang ditempuhnya itu tidak berarti tanpa halangan. Bombardir cercaan dan pertanyaan dari teman-temannya yang silih berganti datang sempat membuatnya risi. ”Saya sering dapat pertanyaan dari teman-teman, ’Kenapa orang yang mau mati kamu tolong?’,” kata Agus yang menirukan ucapan teman-temannya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia



Close Ads