alexametrics

Sensasi Berenang Bersama Hiu di Penangkaran Hiu Karimunjawa

10 Agustus 2017, 14:19:03 WIB

Keganasan ikan hiu, tampaknya, sudah terpatri di alam bawah sadar setiap orang. Tapi, di penangkaran ikan hiu di Pulau Karimunjawa, semua orang bisa berswafoto di antara liukan hiu.

IDA NOR LAYLA, Karimunjawa

BELASAN ikan hiu karang putih dan hiu karang hitam meliuk-liuk. Hewan itu seolah tak menghiraukan keberadaan orang yang turun ke dalam kolam, termasuk wartawan Jawa Pos Radar Semarang Ida Nor Layla, saat berada di kolam penangkaran ikan hiu, Hiu Kencana, Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Rabu pagi (9/8).

Hiu-hiu tersebut sengaja datang karena bau amis satu ekor ikan mati yang sengaja diturunkan sang petugas pemelihara ikan ke dalam air kolam itu.

Hiu terbesar di area tersebut, dengan panjang sekitar 1,75 meter dan berat 91 kilogram, turut di antara hiu-hiu yang lain. Hiu tersebut terus berputar mencari sumber bau amis ikan.

’’So exciting. Baru kali ini berada di air bareng beberapa hiu. Ada deg-degannya. Tapi, akhirnya menyenangkan,’’ kata Erwin Kusumawan, salah seorang pengunjung, memanfaatkan momen tersebut untuk difoto.

Dia mengaku tak kapok berada di antara hiu. Padahal, saat ini ada puluhan ekor hiu besar dan kecil yang ditangkarkan di dua kolam yang masing-masing terhubung dengan ukuran 17 x 20 meter tersebut. Sementara itu, kedalaman airnya menyesuaikan pasang surutnya air laut. Pagi itu cuaca normal sehingga kedalaman air di penangkaran ikan hiu hanya sekitar 140 sentimeter. ’’Saya masih ingin lagi ke sini, tapi dengan memegang hiu-hiu tersebut,’’ tutur Erwin.

Dia yakin banget. Kalau dalam kehidupan manusia ada istilah memanusiakan manusia, dengan binatang, khususnya hiu, bisa diperlakukan hal serupa. ’’Saya yakin, kalau kita menghiukan hiu, mereka juga mengerti kalau disayang. Buktinya banyak orang memelihara binatang buas, tapi rukun-rukun saja. Seperti ular, singa, harimau, dan lainnya. Karena mereka diperlakukan dengan sangat baik dan saling mengerti,’’ jelas Erwin.

Semakin beranjak siang, semakin banyak rombongan wisatawan lain yang datang melakukan swafoto dengan hiu. Syaratnya, tangan harus tetap berada di atas air, tidak boleh dimasukkan ke air.

Alasannya, tangan menyerupai bentuk hewan air bintang laut yang selama ini menjadi santapan hiu. ’’Sebenarnya, yang namanya ikan hiu, semua ganas dan menggigit. Makanya, tangan tak boleh ke bawah. Kalau tangan di bawah, seolah-olah umpan,’’ tutur pengelola Hiu Kencana, Agus Hermawan, 38.

Yang terpenting lagi, ucap bapak dua anak asal Lamongan, Jawa Timur, itu, kalau hendak berinteraksi dengan hiu-hiu tersebut, pengunjung harus bersih dari bau amis. Dilarang memegang ikan yang menjadi makanan hiu-hiu tersebut.

’’Dulu ada pengunjung yang habis memegang ikan yang menjadi pakan hiu tak dibersihkan langsung masuk ke dalam kolam. Sama ikan hiu dikira makanannya sehingga langsung digigit,’’ tutur Agus yang sehari-hari menghabiskan waktu di penangkaran hiu.

Kendati begitu, kata Agus, hiu yang ditangkarkan tersebut memang lebih jinak ketimbang hiu yang hidup di alam bebas. Namun, tetap ada peraturan yang harus dipatuhi untuk kewaspadaan.

’’Makanya, banyak tamu yang turun ke dalam kolam dan berfoto, sebetulnya tak apa apa. Yang penting tahu batas dan ada pelindung,’’ jelas Agus.

Dia mengakui penangkaran hiu tersebut memang tidak selalu ramai. Kalau weekend, pengunjung lumayan banyak. Tapi, hari biasa kadang banyak, kadang tak ada sama sekali. Tiap orang yang masuk dikenai tiket seharga Rp 40 ribu, baik terjun ke dalam kolam maupun hanya melihat-lihat.

’’Masuk ke area penangkaran hiu kadang dimasukkan ke dalam paket wisata, kadang tidak. Sehingga jumlah wisatawan kadang banyak, kadang tidak ada,’’ tuturnya.

Selain itu, imbuh dia, keberadaan wisatawan bisa membantu biaya pemeliharaan hiu. Sebab, biaya pakan hiu-hiu tersebut cukup besar. ’’Tiap hari butuh 40–50 kg ikan yang harga per kilogramnya turun naik,’’ ungkap Agus.

Dia menyatakan, sang pemilik menangkarkan hiu sejak puluhan tahun. Usaha yang diberi nama Hiu Kencana itu dimiliki pribadi oleh pengusaha dari Semarang, Jawa Tengah, bernama Cunming, 80. ’’Sudah puluhan tahun silam. Ramai wisatawan kan baru 5–7 tahun ini,’’ tuturnya.

Benar saja, sang pemilik penangkaran hiu, Cunming, mengaku menangkarkan hiu sejak 1963. ’’Awalnya dari hobi memancing ikan. Dulu saya memancing ikan di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dapat hiu kecil. Terus saya memeliharanya di akuarium Semarang,’’ ujarnya.

Waktu itu belum kepikiran membuat penangkaran hiu. Tapi, setahun kemudian, memancing di luar Karimunjawa, Jepara, dia mendapat dua hiu kecil. Akhirnya, dibuatkan kolam di Karimunjawa yang masih dihuni dua hiu tersebut.

Editor : Miftakhul F.S

Reporter : (*/JPG/c19/diq)


Close Ads
Sensasi Berenang Bersama Hiu di Penangkaran Hiu Karimunjawa