alexametrics

Menelusuri Tempat-Tempat Makan yang Terimbas Beroperasinya Tol

Dulu Layani Pemakai Mobil
10 Juni 2019, 12:03:52 WIB

Pembangunan jalan tol berdampak pada bisnis kuliner lokal. Rumah makan di jalan non-tol kini jarang dikunjungi pembeli. Sebaliknya, daerah di sekitar pintu keluar-masuk tol menjadi lahan basah yang diincar calon investor kuliner.

Ahmad Didin, Surabaya

SEPI dan sunyi. Begitulah gambaran Warung Rujak Cingur Asmuni di Trowulan, Mojokerto, kemarin (9/5). Kursi-kursi berjajar rapi mepet dengan meja karena tidak ada pengunjung. Bahkan, di bagian sudut belakang, kursi diletakkan di atas meja karena saking lamanya tidak ada pelanggan yang memakainya.

Padahal, saat itu jarum jam menunjuk pukul 12.00 alias jam makan siang. ”Baru ada dua pelanggan. Ya, beginilah kondisinya akhir-akhir ini,” ucap Antina, istri pelawak Asmuni, yang kini dipasrahi mengelola tempat makan tersebut.

Bahkan, saat tim Jawa Pos datang, satu pelanggan yang dimaksud Antina sudah tidak berada di tempat. Kondisi warung itu pun kosong melompong. Hanya tampak seorang karyawan yang bertugas sebagai kasir. Itu pun hanya pekerja freelance saat musim Lebaran seperti saat ini.

Ya, pelan-pelan, jumlah pekerja di warung milik itu terus berkurang. Jumlah pengunjung yang datang tidak sesuai dengan pengeluaran untuk membayar karyawan. Dulu sampai ada 20 karyawan yang membantu. Kini semua diurus keluarga Asmuni. ”Saya yang belanja dan masak. Anak saya merangkap jadi kasir dan bersih-bersih warung,” imbuh perempuan 73 tahun tersebut.

Itu semua terjadi secara perlahan. Pertama karena pembangunan separator jalan bypass di depan warungnya. Akibatnya, pengendara dari arah Jombang harus putar balik cukup jauh jika ingin datang ke warung itu. Sungguh merepotkan.

Kedua, menurut Antina, pembangunan sentra PKL sepanjang Jalan Bypass Mojokerto ikut mereduksi jumlah pelanggan. ”Sudah begitu, sekarang tambah ada tol, makin sepi warung saya,” keluhnya.

Sebelumnya, tempat makan yang dibangun pelawak senior Srimulat itu selalu ramai. Bahkan, saat masa kejayaannya, dalam sehari Asmuni bisa mengantongi omzet hingga Rp 15 juta. Saat ini omzet mereka mentok hanya Rp 2 juta per hari. Bahkan sering kurang dari itu.

Antina ingat betul saat-saat warungnya masih ramai. Banyak pengunjung yang mengincar makanan andalan di tempat itu, yakni rujak cingur. Campuran cingur, tahu, sayuran, dan beberapa buah yang diguyur sambal kacang dan petis membuat siapa pun yang mencobanya pasti ketagihan.

Beberapa artis terkenal, terutama para anggota Srimulat, masih sering mampir. ”Tarsan kadang sering ke sini kalau lagi ada acara di Surabaya atau pas lewat sini,” ungkap perempuan yang kemarin berkerudung hijau tersebut.

Kenangan tinggal angan. Masa kejayaan itu perlahan meredup. Mereka pun harus memutar otak agar warung tersebut kembali ramai. Salah satunya membuat menu-menu baru. Ada hidangan ayam kremes yang saat ini ikut dimasukkan dalam daftar menu. Ada pula menu paket hemat yang disediakan bagi para karyawan yang bekerja di sekitar warung tersebut.

”Biasanya memang banyak yang pakai mobil ke sini. Tapi, sejak sepi, yang kami andalkan adalah para tukang pentol, karyawan minimarket, dan tukang parkir. Dengan harga Rp 10 ribu, mereka sudah dapat makan plus minum,” ungkap ibu satu anak tersebut.

Akhirnya, segmen pasar pun diubah. Yang semula untuk kalangan menengah ke atas, kini asal ada pelanggan saja, mereka sudah bahagia.

Posisi warung Asmuni cukup jauh dari pintu tol. Paling dekat adalah Gerbang Tol (GT) Penompo, Mojokerto. Itu pun masih harus berkendara sejauh 17 kilometer ke arah Jombang.

Mereka tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah atas adanya jalan tol itu. Yang membuat mereka bisa bertahan adalah pesan yang sering diucapkan almarhum Asmuni. Yakni, jaga pola makan, pola pikir, lan ojo polah-polah (jangan banyak tingkah).

Rumah Makan (RM) Pojok II Jombang senasib dengan warung Asmuni. Namun, RM itu bisa dibilang lebih beruntung. Saat Jawa Pos datang pukul 13.00 kemarin, kondisinya cukup ramai. Mobil berjajar rapi di parkiran.

Masuk ke dalam RM, sebagian tempat duduk dipenuhi pengunjung yang asyik menyantap hidangan. ”Kalau dulu, akhir pekan seperti ini pasti ada yang tidak kebagian kursi. Penuh semua,” kata pemilik RM Pojok II Jombang Rahmad Wibowo.

Meski terlihat ramai, dia mengakui, jumlah itu sudah menurun hingga 70 persen. Dulu saat akhir pekan, pengunjung mencapai 800 orang per hari. Saat ini kondisinya makin tak menentu. Terutama setelah beroperasinya jalan tol Jombang-Kertosono yang membelakangi tempat makan milik Rahmad.

Berbagai cara sudah dilakukan. Salah satunya menambah menu baru, yakni sate maranggi. Rahmad juga terus berinovasi agar rasa hidangannya cocok di lidah generasi milenial.

”Memang, kebanyakan pelanggan kami kalangan orang tua. Namun, mereka ada masanya. Karena itu, fokus kami sekarang adalah agar disukai anak-anak muda ini,” tutur generasi kedua H Muhajjir, pemilik RM Pojok II Jombang, tersebut.

Sampai-sampai, ada hal besar yang ingin dia lakukan untuk menggaet kembali pelanggan. Yakni, menyosialisasikan tempat makannya yang terbilang tanggung. Yaitu, di antara GT Kertosono dan GT Ploso, Jombang. Tarif tol dua ruas tersebut Rp 17 ribu.

”Coba mereka keluar dari Kertosono, mampir ke sini, uang segitu sudah dapat makan kenyang. Lalu masuk Ploso lagi. Sama-sama bayar Rp 17 ribu, tapi dapat bonus perut kenyang,” ucapnya, lantas tertawa.

Makin sepinya RM miliknya membuat Rahmad harus berhemat. Dia tidak serta-merta memecat karyawannya. Namun, saat ada pekerja yang mengundurkan diri, Rahmad tidak mencari penggantinya.

Mengenai keberadaan jalan tol, dia merasa pengaruhnya sangat signifikan. Namun, lagi-lagi, sama seperti Antina, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Satu permintaan Rahmad agar pelanggannya tidak sampai lari. ”Okelah gak apa-apa ada tol. Tapi, saya minta jalan di depan ini (Jalan Raya Jombang-Nganjuk) jangan sampai rusak. Kalau sampai rusak, pada lari ke tol semua,” tegasnya.

Dari Jombang, perjalanan kami berlanjut ke tempat makan yang sering disinggahi pemudik yang menumpang bus antarkota dalam provinsi (AKDP) maupun antarkota antarprovinsi (AKAP). Yakni, RM Utama Caruban, Madiun.

Benar saja, sesampai di tempat makan tersebut, area parkir dipenuhi bus besar pariwisata. Namun, tidak terlihat sama sekali kendaraan pribadi. ”Inilah yang masih bertahan. Segmen kami telah berubah drastis. Yang awalnya pemakai kendaraan pribadi, sekarang didominasi bus,” ujar pengawas RM Utama Dedi Sapto Pamungkas.

Itu pun harus dengan usaha yang getol. Betapa tidak, bus-bus itu sebenarnya juga lewat tol. Namun, karena adanya kontrak dengan RM tersebut, mereka keluar melalui GT Caruban, kemudian menuju RM Utama untuk beristirahat.

Aturan kontrak juga ikut berubah seiring dengan beroperasinya tol Wilangan-Kertosono. Ikatan kontrak yang semula bisa selama 4 tahun kini harus diperbarui tiap tahun. ”Pemilik perusahaan bus juga terus melirik rest area tol. Kalau lebih menguntungkan, mereka bisa saja berhenti di situ dan tidak perlu keluar tol menuju ke sini,” keluh pria 35 tahun tersebut.

Ada keinginan besar untuk dapat membuka cabang baru di dalam rest area jalan tol. Namun, karena tarif sewa lahan yang terlampau tinggi, Dedi pun berpikir ulang. Itulah yang juga diinginkan pemilik tempat makan lain yang terkena imbas jalan tol. Harus ada regulasi baru sehingga tempat makan tidak mati.

Warung Rujak Cingur Asmuni nampak sepi di Trowulan Mojokerto, kemarin. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Rezeki di Sekitar Exit Toll

Nasib berbeda dirasakan para pemilik warung di sekitar exit toll. Bak ketiban durian. Banyak pemudik yang mampir setelah keluar pintu tol. Misalnya, sekitar pintu tol Bandar, Jombang, kemarin (9/6). Kendaraan roda empat berjajar rapi di depan warung-warung yang terletak di depan Masjid Moeldoko.

Pilihannya pun banyak. Ada warung sego wader, soto daging, sampai warung kopi. Banyaknya pilihan itulah yang memikat pemudik untuk berhenti. ”Sedikit ngantuk habis lewat tol. Makanya berhenti ngopi di sini. Keluar langsung nemu,” ungkap M. Fikri, pemudik asal Sragen, yang akan kembali ke Surabaya.

Kondisi tersebut diamini pemilik salah satu warung makan di deretan itu, Puji Rahayu. Menurut dia, sejak jalan tol beroperasi, warungnya semakin ramai pembeli. Entah dari dalam tol atau bukan, yang pasti banyak pengunjung yang membawa mobil. ”Mereka banyak tanya daerah tujuannya, apakah bener keluar di tol Bandar ini,” katanya.

Keramaian warung-warung itu juga didukung lokasi yang strategis. Betapa tidak. Pertigaan tersebut dikenal macet. Apalagi kalau berbelok ke barat, akan ketemu pertigaan Mengkreng, pusat kemacetan dari arah Jombang menuju Kediri atau Nganjuk. Mereka yang berbelok ke warung-warung itu kebanyakan pasti melepas lelah setelah terjebak kemacetan panjang.

Jumlah pengunjung memang tak menentu. Namun, dalam sehari, para penjual bisa saja mendapat omzet Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Belum lagi saat puncak arus mudik atau balik seperti kemarin, omzet bisa dua kali lipat.

Meski ramai, penjualan mereka tidak bisa maksimal. Lokasi yang terlalu mepet dengan badan jalan membuat area parkir terbatas. Daya tampung kendaraan pun tidak banyak. ”Kalau sudah penuh, tidak boleh ada pengunjung berhenti. Mereka disuruh jalan terus sama polisi. Jadinya, saya kehilangan pembeli,” keluh perempuan 31 tahun tersebut.

Pemandangan serupa terlihat di sekitar exit toll Mojokerto Barat. Sebelum ada jalan tol, sejumlah warung dan tempat makan di daerah Lespadangan, Mojokerto, tampak sepi. Namun, setelah tol Sumo dibuka pada 2017, tempat-tempat tersebut lebih laris.

Salah satunya dirasakan Santik, pemilik kedai mi ayam. Sejak adanya jalan tol, pengunjung meningkat hingga 30 persen. Dia bersyukur atas adanya jalan bebas hambatan yang melintasi wilayahnya tersebut. Benar bahwa jalan tol itu akan mengangkat sejumlah potensi ekonomi di sekitar.

“Semoga ramainya stabil. Tidak musiman saat Lebaran saja,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c5/oni)