alexametrics

Tiga Dekade Sastro Moeni Bertahan Jadi Band Regenerasi Level Kampus

Mempertemukan GN’R dengan Rita Sugiarto
10 Maret 2020, 13:32:13 WIB

Sastro Moeni konsisten memelesetkan lagu, mencampuradukkan aransemen yang pas, dan srawung dengan komunitas musik lain. Para personel direkrut terbuka atau dengan cara ’’mbribik’’.

DIAR CANDRA, Jogjakarta, Jawa Pos

MENONTON Sastro Moeni (Sasmoen) itu ibarat menyetir lewat jalur pegunungan. Sudah tahu jalurnya naik dan berkelok-kelok, tapi kok ya masih kaget saja.

Tahu intro lagu Sweet Child O’Mine pasti akan dipelesetkan, tapi ya tetap mbatin ’’asem ki!’’ saat liriknya jadi Poco-Poco. Sudah membayangkan Heaven-nya Bryan Adams setidaknya akan digandengkan sesama lagu romantis, eh kok malah dilarikan ke Du Di Dam-nya Enno Lerian. Itu tuh lagu yang liriknya, antara lain, ’’kamu makannya apa…’’

Sudah tiga dekade band komunitas Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) itu bikin penontonnya mbatin ’’asem’’, ’’anjrit’’, ’’a*u’’, dan sebagainya. Tapi, hebatnya, mereka masih awet sampai sekarang.

Regenerasi personelnya terus berjalan. Yang sekarang merupakan Sasmoen angkatan ke-17. Di seantero Jogjakarta, mungkin Sasmoen satu-satunya band kampus yang umurnya sepanjang itu. Padahal, tahu sendiri, ada begitu banyak kampus di Kota Gudeg itu.

Dan, job juga terus mengalir. Tiap bulan, angkatan yang sekarang setidaknya manggung 5–6 kali.

Sabtu lalu (7/3), di sela Dies Natalis Ke-74 FIB UGM, Sasmoen dari berbagai generasi itu reunian. ’’Dulu tak terpikir kalau Sasmoen bisa sepanjang ini sejarahnya. Karena waktu awalnya saya dan delapan teman lain bermusik mewakili UGM di Festival Musik Country di Jakarta,’’ kata Mas Menyung, sapaan akrab J. Susetyo Edy Yuwono.

Mas Menyung merupakan salah seorang pendiri Sasmoen pada sekitar 1988–1989. Sebelum bernama Sasmoen, Mas Menyung ingat bahwa band itu pernah bernama Sastro Gambir.

Gara-garanya, saat tampil di Festival Musik Country di Jakarta, sambutan penonton adem ayem. Tapi, pas main di Stasiun Gambir sambil menunggu kereta kembali ke Jogjakarta, sambutan penonton di salah satu stasiun kereta api di ibu kota itu malah hangat.

Komedian Anang Batas, rekan Mas Menyung di Sasmoen generasi pertama, menyebutkan, regenerasi awalnya tak pernah menjadi bagian paten dari Sasmoen. Jika ada yang tak bisa main, digantikan rekan yang lain. ’’Sing penting guyub (Yang penting rukun, Red),’’ ucap Anang yang juga hadir Sabtu malam lalu (7/3).

Rekrutmen personel dilakukan terbuka. Bisa juga dengan cara ’’mribik’’: personel yang ada mendekati calon personel lain untuk diajak bergabung.

Sesuatu yang tak diniatkan itu ternyata berjalan. Sasmoen berhasil bertahan dengan caranya sendiri.

Nikho, manajer Sasmoen generasi ke-10 (2002–2004), menceritakan, ’’penertiban’’ regenerasi mulai dilakukan tiga generasi di atasnya. Jadi, tiap pemain secara tak langsung punya komitmen kuat pada keberadaannya dalam band.

Sasmoen generasi ke-10 juga memulai langkah lain. Misalnya, membikin company profile band, merekam lagu-lagu parodi yang dihasilkan, membuat jadwal latihan rutin, sampai standard operating procedure (SOP) pementasan.

Penertiban demi penertiban itu membuahkan hasil. Di antaranya, popularitas Sasmoen tak cuma bergema di level regional Jog-jakarta. Tapi, juga sudah ke taraf nasional. Sasmoen generasi ke-10 beberapa kali tampil saat acara on air maupun off air Audisi Pelawak Indonesia (API) yang melahirkan generasi pelawak seperti Sule di awal dekade 2000-an.

Generasi boleh terus berganti, tapi Sasmoen tetap konsisten memelesetkan lagu dan mencampuradukkan aransemen yang pas. Juga, srawung dengan komunitas musik lain.

Pada periode yang hampir bersamaan, di era 1990-an, band-band kampus dengan konsep mirip Sasmoen juga bermunculan di sejumlah kota lain. Misalnya, Suku Apakah (belakangan berubah jadi Teamlo) di Solo. Di Surabaya juga ada Bluekutuq dan Jangan Asem Band.

Mereka memelesetkan lagu orang atau menulis lagu sendiri yang kocak, tapi tergolong berani di era itu. Era ketika cengkeraman rezim Orde Baru yang menghendaki penyeragaman di berbagai bidang begitu kuat menekan.

Bluekutuq, misalnya, pernah menulis lirik begini: ’’Kemenyan kusebar di bawah meja//agar kalau si putri duduk dia tergila gila//ternyata kemenyan dijilati anjing//dianya gak papa, anjingnya yang gila.’’

Di Jogja, upaya-upaya membuat Sasmoen makin dikenal juga terus dilakukan.

Memelesetkan terminologi aristokrat olahraga Orde Baru M.F. Siregar, digencarkanlah program ’’memasyarakatkan Sasmoen dan men-Sasmoen-kan masyarakat’’.

Mulai menyebar stiker setiap kali pentas dan membuat mug bersablon nama band juga korek api berlogo Sasmoen. Ada pula poster dan kaus Sasmoen.

Sasmoen juga tak pernah menolak tawaran manggung di area kampus humaniora UGM. ’’Kan kami ini komunitas, jadi kalau dengan komunitas lain yang ada di kampus juga harus srawung dan saling ndolani,’’ tutur basis Sasmoen generasi ke-11 (2004–2007) Adhi ’’Cedel’’ Sakti.

Bertahan puluhan tahun dengan gaya bermusik parodi atau pelesetan bukanlah pekerjaan gampang. Vokalis Sasmoen generasi ke-11 Totok ’’Blendok’’ Aryanto mengatakan, me-medley lagu tak segampang yang diperkirakan orang. Bagian-bagian yang disam-bungkan harus pas.

Apalagi, harus tetap ada unsur ’’kejutan’’ atau ’’humor’’-nya. Misalnya, mencampur hit Guns N’ Roses Sweet Child O’ Mine de-ngan Otherside-nya Red Hot Chili Peppers, lalu disambung Hello Dangdut dari Rita Sugiarto sampai Poco-Poco-nya Yoppie Latul.

’’Ide nyampur-nyampur atau meramunya kadang spontan datang dari personel, terus disampaikan ke rekan yang lain. Tapi, kadang ada juga yang lahir pas latihan di studio,’’ ucap mahasiswa diploma pariwisata 2003 itu.

Salah satu risiko main lagu campur-campur sudah pasti lupa lirik. ’’Pas awal-awal sering kayak gitu,’’ kata Blendok yang meng-gantikan vokalis generasi sebelumnya, Afrizal Fiter Jimmy.

’’Seringnya lupa karena grogi,” katanya.

Lupa lirik karena yang diingat main lagu A, padahal cah-cah (personel lain) main lagu B. ’’Makanya itu ada dua vokalis di Sasmoen buat membantu kalau ada salah satu yang lupa,” tambahnya.

Menjadi keluarga besar Sasmoen juga mendatangkan keuntungan sendiri. Lasmanto, vokalis Sasmoen generasi ke-12 (2007–2009), menuturkan, menjadi bagian band regenerasi seperti Sasmoen memudahkannya bergaul.

Datang dari Bengkulu, kalangan pertemanan Antok, sapaan Lasmanto, semula terbatas. Kalau tidak rekan sejurusan, ya kawan sedaerah. Namun, setelah bergabung dengan Sasmoen, Antok punya kenalan yang berlipat jumlahnya.

’’Sebelumnya saya minder dan ada beban. Saya bahkan baru bisa los di panggung setelah pementasan ketiga,’’ katanya.

Tantangan ke depan Sasmoen adalah inovasi. Menurut basis Sasmoen generasi ke-17 Alfian Aulia Bapi, pasar musik parodi yang me-medley lagu tak seberapa luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, Bapi berencana melakukan perubahan.

’’Kita akan bikin lagu sendiri, tak mencomot lagu orang di sana-sini,’’ ujarnya. Kekuatannya, lanjut Bapi, ada di lirik yang lucu dan aransemennya juga mesti nyeleneh. ’’Intronya misal rock, di tengah ganti keroncong, trus ending-nya bisa lain lagi,’’ tuturnya.

Sejauh ini, nama Sasmoen masih bergema kuat. Sebulan mereka bisa manggung lima sampai enam, bahkan kadang delapan kali. Paling ramai biasanya di akhir pekan.

’’Meski personel gonta-ganti, nyampur musiknya juga makin berbeda, tapi kita tetap mempertahankan salam khas Sasmoen. Salam telu papat,’’ ujar Fikra Ahnaf, manager Sasmoen angkatan 17.

Salam telu papat atau tiga empat adalah kode yang dilontarkan vokalis Sasmoen kepada personel lain sebagai tanda akan memulai-nya sebuah lagu. Tapi, ciri khas lain yang tak boleh hilang dari Sasmoen adalah kejutannya. Yang bisa bikin siapa saja yang nonton kaget dan misuh, tapi tetap pengin nonton lagi.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg



Close Ads