alexametrics

Aswin, Penyandang Tunagrahita yang Kerap Juara Renang Internasional

Teriakan Ibu dari Pinggir Jadi Penyemangat
10 Februari 2020, 20:48:15 WIB

Banyak penyandang disabilitas yang memiliki semangat dalam menggapai prestasi. Aswin Nugroho, salah satunya. Murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Kumara Wardana 2 itu memiliki segudang prestasi di ajang internasional. Dia kini juga aktif membuat kue kering.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

Senyum merekah terpancar di wajah Herawati Kartawinata saat merapikan tumpukan medali di etalase rumahnya. Ibu Aswin Nugroho itu tidak akan pernah lupa dengan catatan sejarah yang telah dibuat anaknya. Khususnya dalam bidang renang.

Bukan saja karena Aswin berbakat, tapi Hera melihat di semua capaian itu ada semangat juang dari sang buah hati yang juga penyandang tunagrahita. ”Saya melihat potensinya sejak empat tahun. Memang suka renang,” kata perempuan 69 tahun itu saat dijumpai kemarin (9/2).

Bertempat di Jalan Kenjeran Nomor 401 B, Hera menceritakan bagaimana Aswin bisa cinta pada renang. ”Setelah melihat bakatnya itu, saya pun berkenalan dengan banyak atlet renang. Ketemulah dengan organisasi Special Olympics Indonesia (Soina). Saya pun mendaftarkan Aswin ke situ,” ungkapnya.

Setelah mendapat bimbingan selama empat tahun, Aswin lantas mengikuti lomba pertama kejuaraan taraf nasional yang diselenggarakan Soina pada 2008. Saat itu, Aswin mengikuti kategori renang gaya bebas 100 meter. Namun, Aswin hanya mendapat peringkat harapan.

”Terus berlanjut ke tingkat internasional. Kali pertama di Singapura pada 2009. Kategorinya sama,” ungkap dia. Sayang, kala itu pria 28 tahun tersebut belum beruntung.

Usaha pria kelahiran 1991 itu tidak berhenti. Aswin terus giat berlatih dan berkompetisi di banyak event. Pada 2011, dia mendapat kesempatan berlaga di Athena, Yunani.

Kala itu, Hera merasa deg-degan. Sebab, saingan Aswin berjumlah 15 orang dari berbagai negara. ”Saya hanya berdoa yang terbaik buatnya,” ujar perempuan tiga anak itu.

Datang sebagai turis, Hera lantas masuk ke tempat renang yang disediakan panitia. Dari atas tribun dia menyoraki Aswin dengan berbagai motivasi. ”Ayo, Aswin. Ayo, Nak. Kamu pasti bisa,” ucapnya berkali-kali.

Kategori yang diikutinya tetap sama. Renang 100 meter gaya bebas. ”Puji Tuhan, di sini Aswin mendapat juara II,” ungkap Hera sembari memperlihatkan penghargaan dalam bentuk pita.

Sejak saat itulah, Aswin semakin sering ikut kompetisi. Tercatat ada beberapa event internasional khusus penyandang difabel yang diikutinya. Antara lain, SEA Games Australia dan Singapore Open pada 2015. Aswin mendapat juara I untuk dua lomba tersebut.

Hera menerangkan, ada kepuasan tersendiri yang didapat ketika melihat anaknya naik podium. Terutama saat menang pertandingan di Australia pada 2017. Baginya, itu pengalaman yang paling berkesan.

Datang sendiri, Hera tidak bisa bertemu anaknya selain di arena pertandingan. ”Saya pun hanya bisa melihat dari kejauhan. Tapi, saya yakin dukungan tidak terbatas ruang dan waktu. Bisa menembus apa pun. Baik lewat doa ataupun langsung,” ungkapnya sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Dia lantas menunjukkan video berdurasi dua menit yang diambilnya saat menyaksikan Aswin menghadapi 20 orang tunagrahita di turnamen tersebut. ”Ketika pertandingan dimulai, saya langsung teriak semangat ke Aswin. Ya, walaupun saya tahu dia pasti enggak dengar,” ucapnya disambut senyuman kepada Aswin. ”Lihatlah ini. Saya malu sendiri kalau dengan suara saya sekencang ini,” tambahnya, lantas tertawa.

Suara itu, kata dia, semakin kencang ketika Aswin mendekati garis finis. Hera melihat lawan Aswin di jalur kiri mendekat. Teriakan dukungan pun terus diberikannya. ”Luar biasa, Aswin menang dan mendapat juara I,” katanya.

Momen itu dirasa spesial bukan hanya karena juara yang didapat, tapi tangan lawan Aswin di jalur kiri tadi hanya berjarak 10 sentimeter. ”Kalau dihitung-hitung, ya sepergelangan tangan ini,” paparnya.

Lengkaplah kebahagiaan Hera. Sepulang dari Australia, dia menceritakan kabar baik itu kepada suami dan dua anaknya. ”Saudara Aswin ikut senang,” tuturnya.

Deretan prestasi yang didapat Aswin, bagi Hera, menandakan bagaimana kuasa Tuhan bekerja. Dia meyakini bahwa kondisi yang dialami anaknya tersebut bukan kekurangan. Justru, dia paham betul bahwa Tuhan punya rencana baik buat masa depan Aswin. ”Anak ini tipenya memang semangat. Mau dilatih. Dan pantang menyerah,” katanya.

Dalam seminggu, biasanya Aswin mengikuti latihan renang selama lima kali di Gedung KONI, Kertajaya. Dalam sekali latihan dia menghabiskan waktu dua jam. ”Jika mengikuti lomba internasional, porsinya bisa ditambah,” imbuhnya.

Namun, sudah dua bulan ini Aswin tidak berlatih. Sebab, Gedung KONI kabarnya sedang diperbaiki. ”Nah, untuk membuatnya tidak suntuk di rumah, saya ajarkan membuat kue kering,” ungkap dia.

Penjualannya saat ini masih terbatas pada tetangga atau orang yang dikenal. Harganya Rp 25 ribu–Rp 50 ribu, bergantung ukuran. ”Produk yang dihasilkan mengikuti pesanan. Paling banyak 200 kotak yang isi 250 gram. Dia membuat sendiri, mengadon, serta mengeringkannya,” tutur Hera sembari menunjukkan kue berlabel Kue Kering Aswin.

Lantas, apa sesungguhnya yang hendak diajarkan Hera dari usaha itu? Dia mengaku tidak ingin Aswin hanya menggeluti satu bidang. Dia yakin bahwa olahraga renang itu memiliki batas. ”Maka, saya alihkan ke kue ini. Supaya dia lebih mandiri,” tuturnya.

Usia Hera yang hampir menginjak kepala tujuh jadi alasan lain. ”Kita tak tahu umur sampai kapan. Setelah ini, biar Aswin yang lanjutkan,” ungkapnya. Dia yakin Tuhan pasti membantu setiap langkah yang dilakoni sang anak tersebut. ”Ada saudaranya juga yang membantu. Yang penting, dia harus terus semangat,” kata Hera, lantas mengelus kepala Aswin.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads