alexametrics

Jelang Vaksinasi, Pemkot Surabaya Rapatkan Barisan, Dokter Jaga Imun

10 Januari 2021, 07:48:25 WIB

Pemberian vaksin anti-Covid-19 kian dekat. Pemkot bersiap-siap. Mulai menyiapkan gudang penyimpanan hingga membuat aplikasi yang memantau penerima vaksin. Ada yang berupaya menata hati supaya tidak khawatir berlebihan. Ada pula yang menganggap vaksin sebagai oasis di tengah pandemi yang tak berkesudahan.

ARISKI-NURUL KOMARIYAH- RETNO DYAH, Surabaya

WARGA Kota Pahlawan harus dilindungi dari persebaran virus korona. Siapa pun itu. Entah dia pejabat atau dari kalangan biasa. Sebab, sejatinya hidup merupakan hak seluruh warga.

Ikhtiar itu menjadi pedoman pemkot menjelang pemberian vaksin Covid-19 Sinovac di Surabaya. Pesan tersebut menjadi penanda bahwa vaksin antikorona itu bakal disuntikkan kepada seluruh warga metropolis.

Minggu lalu vaksin antikorona itu tiba di Jatim. Jumlahnya 77.760 vaksin. Saat ini vaksin tersebut disimpan Pemprov Jatim sebelum disalurkan ke seluruh kabupaten/kota.

Jatah vaksin Sinovac untuk Surabaya memang belum dipastikan. Pemprov Jatim tengah menelaah. Berapa pengajuan seluruh daerah. Jumlahnya disesuaikan dengan ketersediaan vaksin tersebut.

Meski belum pasti, pemkot tidak ingin sekadar menunggu. Pemkot pun menyiapkan sejumlah kebutuhan. Di antaranya, tempat penyimpanan antivirus dan petugas penjagaan vaksin. Juga memastikan warga yang mendapatkan vaksin tersebut.

Tidak sembarang tempat penyimpanan. Ada persyaratan khusus. Yaitu, lokasinya aman, mudah dijangkau serta memiliki fasilitas penunjang. Pilihannya, gudang farmasi. Tempat itu dikelola Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkot Surabaya. Lokasinya berada di Rungkut.

Kepala Bagian Humas Febriadhitya Prajatara menjelaskan, gudang farmasi memenuhi kriteria. Tempat itu dijaga ketat. Kebersihan juga terus dipelototi. Dengan demikian, vaksin Sinovac terjaga.

Gudang itu juga memiliki lemari pendingin. Yaitu, cool room. Tersedia dua cool room. Satu tempat tersebut mampu menampung 30 ribu vaksin. ”Total mampu menampung 60 ribu vaksin,” jelasnya.

Faktor suhu juga menjadi perhatian. Temperatur vaksin harus dijaga. Berkisar 2 derajat Celsius. ”Sesuai aturan, harus disimpan di suhu dingin,” paparnya.

Persiapan sudah berjalan. Mesin pendingin terus ditelaah agar bisa beroperasi. Juga mampu menampung antivirus itu.

Yang tidak kalah penting adalah penjagaan. Sejumlah petugas dikerahkan. Mereka memastikan keamanan vaksin. Pemkot tidak ingin vaksin yang diberikan itu tiba-tiba amblas. Dicuri orang yang tidak bertanggung jawab. ”Ini untuk warga. Jadi, harus dijaga ketat,” terangnya.

Penyaluran antivirus juga menjadi perhatian. Pemkot membuat aplikasi. Tujuannya, memudahkan petugas serta memastikan warga yang mendapatkan antivirus itu. Aplikasi tersebut berisi data warga. Mulai nama terang hingga alamat lengkap. Informasi itu nanti menjadi pegangan petugas.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) M. Fikser mengatakan, aplikasi itu dirancang tiga minggu lalu. Selepas pemerintah memastikan mendatangkan Sinovac. ”Karena kami harus mendata 3,3 juta jiwa warga. Tidak mungkin satu-satu diperiksa. Apakah sudah divaksin,” terangnya. Warga juga bisa bertanya, kapan dirinya mendapatkan vaksin. Kemudian, petugas bergegas mengirim pemberitahuan. ”Misalnya, nanti dapat SMS lokasi dan jam vaksinasi,” paparnya.

Pemkot sudah mengajukan jumlah warga yang mendapatkan vaksin itu. Totalnya mencapai 1,9 juta jiwa warga. Mayoritas merupakan tenaga kesehatan (nakes). Itu sesuai dengan instruksi pemerintah. Dokter dan perawat merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Meski demikian, kekhawatiran menerima vaksin tetap ada. Dokter Dyah Yuniati SpS, wakil direktur pelayanan medis di Rumah Sakit Islam Surabaya (RSIS) Jemursari, termasuk nakes yang mendapat pesan singkat alias SMS pada Sabtu (2/1) sebagai peserta vaksinasi. Meski tanggal pasti pelaksanaan vaksinasi belum diumumkan hingga saat ini.

”Kalau sakit sih aku yakin tidak, ya. Karena rasanya vaksin apa pun itu kan sama saja. Cuma secara pribadi, memang masih meragukan apakah BPOM-nya sudah sesuai prosedur dan tidak dipaksakan. Apakah uji klinisnya juga betul-betul sempurna sehingga layak dipakai untuk human,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (7/1).

Selain itu, Dyah menjelaskan bahwa korona merupakan virus yang bisa menjelma dalam seribu wajah dengan strain yang berbeda-beda. Dia pun skeptis terhadap vaksin yang akan disuntikkan. ”Apakah vaksin yang dibuat dari virus yang sudah dilemahkan itu merupakan strain yang masih satu family dengan yang sekarang ataukah berbeda. Itu sih pemikiranku sebagai orang yang juga dokter sekaligus pengajar,” jelas dia.

Meski begitu, Dyah berusaha membawa dirinya dengan santai. Supaya tidak khawatir berlebihan. Dia juga rutin memberikan suplai immune booster setiap hari demi menjaga dirinya tetap sehat.

Beberapa asupan yang setiap hari tidak pernah alpa dikonsumsinya, antara lain, infuse water lemon, vitamin C 250 mg, curcuma, hingga vitamin D3 untuk kekuatan tulang. Itu menunjang aktivitasnya yang padat sebagai bagian dari manajemen rumah sakit, dokter praktik, sekaligus dosen. ”Dibuat santai saja. Belum tentu juga aku nanti masuk gelombang pertama dan langsung ikut,” katanya.

Baca Juga: Surabaya Tolak PSBB Jawa-Bali Selama 2 Pekan, Ini Respons Satgas Pusat

SMS pemberitahuan vaksin gelombang pertama pada Sabtu (2/1) terasa seperti berkat Tuhan bagi dr Salmon Charles P.T. Siahaan SpOG. Dari jutaan tenaga medis yang diutamakan, Charles merasa beruntung masuk gelombang pertama. Adanya info miring tentang vaksin selalu berusaha dijawab Charles lewat beragam riset dan artikel ilmiah yang sudah muncul.

”Jadi meski hasil uji klinis fase III Sinovac belum muncul, saya beracuan pada fase pertama dan kedua,” paparnya.

Menurut dia, dua fase awal sudah menunjukkan angka efektivitas yang baik. Pada fase kedua, angkanya mencapai 90 persen. Angka tersebut sudah cukup meyakinkan Charles. Menurut wakil dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra tersebut, keraguan yang muncul di benak masyarakat wajar terjadi. Tapi, keraguan tersebut bisa dihilangkan jika mau membaca lebih jauh tentang proses penelitian vaksin itu. ”Kita tahu kondisi kita ini darurat sekali dan proses penelitian vaksin begitu panjang dan rumit,” jelasnya. Jadi, vaksin Covid-19 justru menjadi oasis di tengah padang gurun pandemi. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git


Close Ads