alexametrics

Gereja Ortodoks di Kazakhstan, Spirit Natal dan Upaya Relasi

Karena Setiap Agama Selalu Mencari Perdamaian
10 Januari 2020, 16:57:18 WIB

Awal Januari adalah masa-masa penting bagi umat Gereja Ortodoks di Kazakhstan. Berbeda dengan gereja Kristen/Katolik Barat yang merayakan Natal pada 25 Desember, Gereja Ritus Timur (termasuk Ortodoks Rusia), natalan pada 7 Januari. Mereka menjaga spirit kelahiran itu untuk terus menjalin keutuhan negeri.

DOAN WIDHIANDONO, Nur-Sultan, Jawa Pos

BERSAMA empat kawan, perempuan itu melangkah memasuki halaman Katedral Pengangkatan ke Surga (Holy Assumption Cathedral), Nur-Sultan, ibu kota Kazakhstan. Dalam bahasa Rusia, katedral itu bernama Syvyato-Uspensky Kafedralnyy Sobor.

Sebelum memasuki gerbang halaman katedral, mereka berhenti. Menunduk. Lantas membuat gerakan tanda salib. Menyentuh dahi, dada, pundak kanan, lalu pundak kiri. Berbeda dengan gereja Katolik sentuhan tanda salibnya pada pundak diawali dari kiri dulu.

Gerakan penghormatan itu tak berhenti hanya di depan gerbang tersebut. Sebelum naik ke tangga menuju pintu utama gereja, para perempuan tersebut kembali membungkuk dan membuat tanda salib. Mereka kembali melakukan itu saat melewati pintu utama, membuka pintu dalam, dan melangkah ke ruang peribadatan.

Ruang ibadat itu besar. Dindingnya berhias ikon, gambar-gambar kudus, mulai dinding bawah hingga langit-langit ruangan yang melengkung. Luas dinding yang bergambar itu, mulai atas hingga bawah, mencapai 6 ribu meter persegi.

Bagi umat Gereja Ortodoks di Kazakhstan, gereja tersebut memang punya nilai penting. Ide pembangunannya pada 1998 disokong penuh oleh mantan Presiden Nursultan Nazarbayev.

Pada 1999, tanah tempat gereja berdiri ditentukan langsung oleh Akimat (semacam Pemkot) Nur-Sultan (dulu bernama Astana) di kawasan Jalan Zhumabaev. Begitu rampung dibangun pada Paskah 2009, gereja tersebut menjelma sebagai yang terbesar di Kazakhstan dan Asia Tengah.

Tinggi gereja hingga ke salib di puncaknya adalah 68 meter. Gereja itu punya dua ruang ibadat. Yang satu di bawah tanah. Total luas ruang tersebut mencapai 2 ribu meter persegi dan bisa menampung hingga 4 ribu orang. Tinggi ruang ibadah atas, dari lantai hingga langit-langit kubah adalah 32 meter. Kalau ke puncak kubah, tingginya menjadi 44 meter. Gereja tersebut terus disempurnakan dengan altar-altar dan ikon hingga 2014.

Senin malam (6/1), pukul 22.30, waktu setempat itu (lebih lambat satu jam daripada WIB), para perempuan tersebut lantas membaur dengan umat yang sudah memenuhi ruang ibadah. Ritual malam itu memang istimewa: Misa Malam Natal.

Ya, berbeda dengan Gereja Ritus Barat, Gereja Ritus Timur memang merayakan kelahiran Yesus pada 7 Januari. Dasarnya adalah kalender Julian yang mereka gunakan sejak berabad-abad silam. Jauh sebelum Gereja Katolik menggunakan sistem penanggalan Gregorian sejak 1582.

Sebagai gereja ’’tua’’, sistem peribadatan Gereja Ortodoks memang berbeda dengan gereja Katolik yang mengalami beberapa perubahan. Meski begitu, ritus peribadatannya diakui sah oleh Gereja Katolik. Walaupun Gereja Ortodoks Rusia tidak mengakui kepemimpinan paus di Vatikan.

Umat beribadat dengan berdiri. Jadi, tak ada kursi di ruangan itu. Mereka berdiri menghadap altar yang ditutup pintu keemasan yang penuh dengan berbagai gambar. Berbeda dengan Gereja Katolik yang peribadatannya dilakukan dengan duduk-berdiri-berlutut. Sehingga ada kursi di ruang ibadah. Altar Gereja Katolik terletak di panti imam yang bisa dilihat oleh semua umat yang mengikuti misa.

Misa Malam Natal tersebut seakan menjadi lorong waktu kembali ke masa silam. Nyanyian terasa syahdu bergema di gereja yang memiliki sistem resonansi sempurna itu. Dengan demikian, ucapan dan nyanyian imam bisa didengar ke seluruh penjuru gereja. Walau tanpa sistem pengeras suara.

Para imam memakai jubah keemasan dan putih dengan peci tinggi. Pemimpin utama ibadah malam itu adalah Metropolitan (semacam Uskup Agung) Alexander. Dia adalah pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks di Astana dan seluruh Kazakhstan.

Gereja Ortodoks di Kazakhstan memang menginduk pada Gereja Ortodoks Rusia yang dipimpin Patriakh Moskow Kirill. Status Kazakhstan adalah distrik metropolitan atau semacam keuskupan agung.

Dalam amanat tertulis yang disampaikan kepada umat menjelang Natal, Metropolitan Alexander berpesan agar umat selalu rendah hati. ’’Untuk menjaga kedamaian jiwa, kita harus sebisa-bisanya menghindari berkata-kata buruk kepada orang lain,’’ katanya.

Ya, kerendahhatian dan kebersahajaan itulah yang tampak pada tradisi umat Gereja Ortodoks di Kazakhstan. Natal mereka tak terlampau gebyar di negara-negara Barat. ’’Inti Natal adalah ibadah itu,’’ kata Ierei (Romo/Pastor) Nikolay Koval dari Gereja Santo Konstantin-Helena (Konstantino-Eleninsky Sobor).

Jawa Pos mewawancarai Romo Koval di gereja kecil yang terletak di Respublika Avenue, Nur-Sultan, tersebut. Meski kecil, gereja itu juga bersejarah. Ia dibangun pada 1854 atas izin Tsar Nikolas I. Wawancara dilakukan di peribadatan bawah tanah yang dihubungkan dengan tangga melingkar yang hanya cukup untuk satu orang.

Di ruang yang hangat itu, Koval mengatakan bahwa umatnya di Nur-Sultan tak banyak. ’’Jumlahnya naik turun. Sebab, banyak yang bekerja di luar kota. Datang dan pergi,’’ kata lelaki berumur 35 tahun tersebut.

Berdasar sensus Kementerian Perekonomian Nasional Kazakhstan pada Agustus 2019, jumlah umat Gereja Ortodoks adalah 23,9 persen dari seluruh penduduk di negeri itu yang mencapai 18,7 juta jiwa. Sedangkan 70,2 persen warga Kazakhstan beragama Islam.

Meski kecil, kata Koval, umat Gereja Ortodoks sangat dihargai oleh pemerintah. ’’Kami sering diundang untuk berdialog dengan pemerintah dan perwakilan agama lain. Kami harus satu suara untuk membendung ekstremisme dan terorisme,’’ kata bapak tiga anak tersebut. Ya, berbeda dengan Gereja Katolik, imam Gereja Ortodoks boleh menikah. Keputusan itu harus diambil sebelum ditahbiskan menjadi imam. Kalau ingin selibat, seumur hidup mereka tidak menikah. Dan imam selibat itulah yang biasanya dipercaya memimpin gereja hingga pada hierarki tertinggi.

Stabilitas negeri dengan merangkul berbagai umat beragama memang sangat kentara di Kazakhstan. Nur-Sultan melabeli diri sebagai kota yang ramah pada berbagai perbedaan. Ia adalah kota perdamaian dan toleransi. Sejak 2006, tiga tahun sekali, Nur-Sultan menjadi tuan rumah Kongres Pemimpin Agama-Agama dan Tradisi Dunia. Sekali lagi, acara itu diprakarsai mantan Presiden Nazarbayev.

Tempat kongres itu juga istimewa: Palace of Peace and Reconciliation. Istana Rekonsiliasi dan Perdamaian. Istana itu berwujud piramida setinggi 62 meter dengan sisi-sisi dasarnya sepanjang 12 meter. Di situ para pemimpin tertinggi agama-agama, termasuk Islam, Yahudi, Taoisme, Buddha, duduk bersama di meja bundar di bawah puncak piramida.

’’Sebab, semua agama pasti berusaha mencapai perdamaian dan harmoni,’’ kata Romo Koval dalam bahasa Rusia.

***

Malam kian larut. Misa belum berakhir menjelang tengah malam. Umat masih tenggelam dalam kesyahduan peringatan kelahiran Sang Juru Selamat. Dan peribadatan itu adalah rangkaian Natal yang ditutup pada 19 Januari mendatang. ’’Ini juga upacara besar. Dan pemerintah sangat mendukung,’’ ujar Koval.

Pada hari itu, umat memperingati Hari Raya Epifani. Salah satu tradisinya, mereka akan menceburkan diri pada sungai yang permukaannya membeku. Arak-arakan umat pada peringatan itu selalu didampingi aparat pemerintah yang bersiaga. Baik untuk hal-hal darurat maupun untuk menjaga agar tradisi itu selalu aman. (*)

Editor : Ilham Safutra


Close Ads