alexametrics
Mereka Terlibat dalam Pertempuran 10 November

Kini Moekari Jadi Satu-satunya Anggota Polisi Istimewa Surabaya

9 November 2019, 17:48:31 WIB

Pertempuran sengit terjadi di Surabaya 74 tahun lalu. Sekitar 15 ribu orang tewas dalam pertempuran yang berlangsung selama 21 hari itu. Moekari adalah salah seorang anggota Polisi Istimewa yang ikut mengangkat senjata dalam momen yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan tersebut.

EDI SUSILO, Surabaya

DUDUK di kursi roda, Moekari lebih banyak diam saat belasan anggota Brimob datang ke rumahnya di Blok D Asrama Brimob, Jalan Gresik No 39, Kamis (7/11). Pagi itu, Moekari menerima santunan dari para juniornya. Sesekali bibirnya yang penuh keriput tersenyum saat diajak berbicara. Senyum jadi isyarat paling mudah yang bisa dilakukan lelaki 94 tahun itu untuk membalas lawan bicara.

Moekari sudah tidak bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang disampaikan kepadanya. Usia senja telah mengurangi ketajaman telinga anggota Tokubetsu Keisatsu-tai itu.

Pria kelahiran Blitar, 10 Februari 1925, tersebut baru bisa menjawab jika pertanyaan diucapkan secara lantang seperti yang dilakukan Tari Moekari. Putri keempat Moekari itu sering bersuara lantang jika sang ayah belum mendengar apa yang disampaikan ”Sebenarnya tahun lalu bapak masih sehat. Tapi, sejak masuk rumah sakit Agustus lalu, kondisinya memang sempat drop,” ucap Tari kepada Jawa Pos. Sebelum itu, kondisi Moekari masih sehat. Masih lancar jika diajak mengobrol. Termasuk soal pertempuran 10 November. Bahasan yang sering ditanyakan orang kepadanya.

Maklum, kini setelah 74 tahun peristiwa tersebut terjadi, saksi sekaligus pelaku sejarah dari Korps Polisi Istimewa Surabaya tinggal Moekari seorang. Dari sekitar 250 anggota Polisi Istimewa Surabaya saat itu. Bak sebuah maps, Moekari adalah mbak-mbak Google petunjuk arah. Yang dengan suaranya menuntun orang mengenali sejarah. Membuka ruang-ruang sejarah yang masih kosong.

Sudah puluhan penulis, mahasiswa, dan wartawan yang datang menemuinya dengan keperluan macam-macam. Mulai sekadar mengkroscek data hingga menggali kisah 10 November lebih dalam. Semua itu masih bisa dilakukan Moekari hingga setahun lalu. Kini, suami mendiang Soekarti itu sudah lupa-lupa ingat kalau ditanya soal 10 November.

Misalnya, saat ditanya Jawa Pos soal posisinya ketika pertempuran 10 November. Dengan suara seraknya Moekari menjawab singkat. ’’Di rumah,” ucapnya. Tari yang mendengarnya langsung tertawa, lantas mengulangi pertanyaan tersebut kepada sang ayah. ”Sampean itu lo, Pak, waktu 10 November itu ndek endi?” tanya Tari. Moekari akhirnya menjawab singkat, ”Di Surabaya.”

Berpikir sejenak, Moekari pun memperinci lokasinya. ”Di Blauran,” ucap kakek 12 cucu tersebut. Selama pertempuran, Moekari mengatakan bahwa dirinya berpindah-pindah lokasi di Surabaya. Lalu, dia mundur ke Sidoarjo dan Malang setelah lebih dari dua minggu berjuang.

Tidak hanya berperan di pertempuran 10 November, Moekari juga sempat melakukan pelucutan senjata milik Jepang di Don Bosco, Jalan Tidar. Tepatnya, beberapa bulan sebelum 10 November meletus. Dipimpin Komandan Polisi Istimewa M. Jasin, ratusan senjata dibawa, lantas dibagikan ke beberapa badan dan laskar perjuangan.

”Saya mengambilnya siang sama teman-teman. Dapat banyak senjata,” ucapnya. Disinggung jumlahnya, Moekari mengaku lupa. Yang pasti, setelah mengambil senjata di Don Bosco, Korps Polisi Istimewa memiliki persenjataan paling lengkap saat bertempur.

Moekari mengatakan dengan nada datar bahwa selama pertempuran, dirinya tidak pernah takut mati. Justru yang ada saat itu adalah rasa bangga karena ikut berjuang bersama banyak orang mempertahankan republik. Yang membuat keder Moekari saat itu bukanlah serangan mortir dari sekutu atau tembakan meriam, melainkan komandannya sendiri, M. Jasin. ”Orangnya galak. Tegas,” ucapnya, lantas tersenyum.

Kisah mengenai kesaksiannya dalam 10 November sudah Tari tulis dalam sebuah buku pada 2016. Buku berjudul 500 Km, Sebuah Nilai Perjuangan tanpa Angka itu mengisahkan peran lengkap Moekari mulai masa pendidikan di kepolisian hingga masuk organisasi veteran cacat.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/any



Close Ads