Generasi Emas

Mengunjungi Kampung Saiful Rijal, Peraih Emas Asian Games 2018

Sepak Takraw Tak Pernah Absen di Kaki Semeru

09/09/2018, 14:31 WIB | Editor: Ilham Safutra
()
Share this image

Meski olahraga asli Indonesia, tak banyak yang memainkan sepak takraw. Nun di Jawa Timur bagian selatan, di kaki Gunung Semeru, olahraga itu tak pernah absen dimainkan.

---

SORE telah jatuh di Desa Sumberurip, Pronojiwo, Lumajang, Jumat lalu (7/9). Seperti sore-sore sebelumnya, puluhan anak-anak memadati halaman SMP Nusantara Pronojiwo. Kaki-kaki mereka dengan lincah melakukan tendangan demi tendangan pada bola yang terbuat dari rotan.

Saiful Rijal (tengah) ketika berada di tengah keluarga. Orang tua dan adik-adiknya di Dusun Krajan Desa Sumberurip RT 19 RW 10 Kec. Pronojiwo Kab. Lumajang. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Ketika ada yang melakukan salto dan bola tendangannya menghunjam ke tanah, tepuk tangan pun membahana.

Di desa yang terletak di kaki Gunung Semeru itu, sepak takraw tak pernah absen dimainkan. ''Sebelum saya masuk, sepak takraw memang sudah ada di sini,'' kata Suganda, guru SMP Nusantara Pronojiwo. Pria asal Bandung itu datang ke Lumajang pada 2004.

Selain sepak bola, sepak takraw telah menjadi pengisi hari-hari orang Sumberurip, Pronojiwo. Hampir setiap sore, olahraga tersebut dimainkan. Bukan saja oleh orang-orang dewasa, melainkan juga anak-anak.

Sepak takraw, olahraga asli Indonesia, sudah menjadi tradisi di kampung nun di Jawa Timur bagian selatan tersebut. Turnamen antarkampung kerap dilaksanakan di desa tersebut. "Sebenarnya banyak anak-anak yang berbakat karena sudah terbiasa main sejak SD," ungkap Suganda.

Suganda tidak sedang melebih-lebihkan dengan penilaiannya itu. Dari desa itulah salah seorang pemain sepak takraw paling dikenal publik saat ini, Saiful Rijal, berasal. Di desa itu pula Rijal mengenal dan memulai menendang bola rotan.

"Sepak takraw sudah jadi budaya di sini. Olahraganya sederhana dan mudah,'' ujar Rijal. Di Sumberurip, bola sepak takraw cukup dibeli dengan harga 7 ribu rupiah. ''Murah kan. Apalagi, ini bisa dimainkan banyak orang dan minim alat. Nggak harus pakai sepatu. Net pun bisa dibuat sendiri," terang Rijal.

Pada 2006, sepak takraw mencapai puncak kepopuleran di Sumberurip. Kala itu, di desa yang berjarak 45 km dari pusat kota Lumajang tersebut, tarkam rutin digelar setiap bulan. Sampai-sampai ada belasan klub sepak takraw. Semua bersifat amatir. Pengelolaannya swadaya. Dari warga, untuk warga, dan oleh warga. Demikian juga turnamennya.

Hadiah turnamennya pun hanya cukup untuk makan-makan merayakan kemenangan hari itu. Meski begitu, semua dilakoni dengan sukacita. "Dulu hampir setiap sudut desa ada lapangan untuk main sepak takraw. Tiap sore main," kata atlet berusia 28 tahun itu.

Selepas 2010, gairahnya sempat meredup. Usia para pemain yang dulu aktif di lapangan sepak takraw bertambah. Pertambahan itu diikuti pula dengan bertambahnya tanggung jawab kepada keluarga. Prioritas bukan lagi bermain sepak takraw. Tapi lebih untuk mencari pekerjaan dan menyambung hidup. Mayoritas pekerjaan masyarakat adalah petani. Di luar itu, banyak pemuda yang memilih merantau ke luar daerah. Maka, berkuranglah potensi-potensi untuk melanjutkan sepak takraw.

Namun, denyut sepak takraw tidak benar-benar berhenti di Sumberurip. Di sekolah-sekolah, denyut itu terus dijaga dan dirawat. Meski tidak seramai dulu, pembinaannya terus berjalan. Sepak takraw masuk salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Bibit-bibit muda terus tumbuh seiring dengan banyaknya kejuaraan tingkat sekolah yang diadakan setiap tahun. Termasuk di SMP Nusantara Pronojiwo, tempat anak-anak Jumat sore itu memainkan bola rotan tersebut. Di sekolah itulah awal karir sepak takraw Rijal hingga menjadi atlet nasional terasah. Selain Rijal, ada nama Brian Agung Sari Pamungkas yang pernah memperkuat tim PON Jatim.

Kini, setelah kesuksesan tim sepak takraw Indonesia meraih medali emas nomor kuadran Asian Games 2018, sepak takraw pun kembali ramai di Sumberurip, Pronojiwo. Apalagi, salah seorang pemain yang turut mengantarkan Indonesia menjadi juara adalah putra kampung tersebut. Sepak takraw yang tak pernah absen dimainkan di kaki Gunung Semeru itu pun diyakini kembali meriah dimainkan layaknya 2006 silam.

Dari situ, tentu diharapkan ada Rijal-Rijal baru yang akan membawa harum nama Indonesia dari arena sepak takraw. 

(gil/c19/fim)

Berita Terkait

Rekomendasi