JawaPos Radar

Cara Perguruan Silek Limbago Budi Jaga Tradisi leluhur Minangkabau

09/09/2018, 20:16 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Cara Perguruan Silek Limbago Budi Jaga Tradisi leluhur Minangkabau
Tuo Silek Limbago Budi, Rizal Intan Sati saat melatih seorang bule yang ingin belajar silek Ranah Minang (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this

Silek (silat) adalah seni bela diri turun-temurun yang diwariskan tetua Minangkabau sejak ratusan tahun silam. Tanpa terus dibumikan kepada generasi selanjutnya, bukan tidak mungkin tradisi yang menjadi simbol lelaki Ranah Minang itu hilang di telan masa.

Riki Chandra, Sumbar

Dari kerisauan itulah lahir Perguruan Silek Limbago Budi, di Nagari Cupak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar). Perguruan yang dibesarkan Rizal Dt Intan Sati itu supaya terus berupaya menjaga tradisi leluhur Minangkabau.

Cara Perguruan Silek Limbago Budi Jaga Tradisi leluhur Minangkabau
Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno bersama Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid menabuh gelaran Silek Arts Festival 2018 yang akan diselenggarakan hingga November 2018 mendatang, di Taman Budaya S (Istimewa)

Bahkan, eksistensinya kini telah merambah ke siswa di bangku sekolah. Rizal Intan Sati mengatakan, Limbago Budi dikukuhkan sejak 2015 silam. Meski sebetulnya, aktifitas melatih dan menghidupkan silat tradisi sudah berlangsung sejak tahun 2008 silam.

"Ini perguruan silek tradisi bukan silat. Limbago itu artinya lembaga. Sedangkan budi menyangkut akhlak. Jadi, limbago budi adalah lembaga atau wadah membina akhlak generasi muda, termasuk para gurunya dengan silek," kata Rizal Intan Sati saat berbincang dengan JawaPos.com, pekan lalu.

Tuo silek bernama asli Rizal Cardov itu mengatakan, Limbago Budi berjalan otodidak dengan tujuan akhir melahirkan pendekar Ranah Minang yang berdudi pekerti dan akhlak mulia. Seperti cita-cita hakekat silek yang diwariskan pada tetua Minangkabau dulunya.

"Perguruan ini lebih kepada wadah pendidikan informal yang membina mental dan karakter orang Minang sesungguhnya," sebut Intan Sati.

Logo sasaran Limbago Budi itu bulat menggelinding dengan makna mengikuti perputaran zaman. Namun, silat tradisi yang dikembangkannya tidak menghilangkan satu pun adat dan adab dalam bersilat.

Minangkabau sendiri, lanjut ayah tiga anak itu, memiliki banyak variasi dan corak langkah silek tradisi yang semuanya disebut aliran. Sampai hari ini, terdapat ratusan aliran silek tradisi yang berkembang dari pelosok Nagari di Sumbar.

Berkembangnya aliran silek tradisi ini, kata Rizal, adalah bentuk pengembangan silek dari tuo (guru silat). Misalnya, satu guru sila datang membawa aliran ke suatu daerah, dan nantinya di daerah itu, alirannya dilebur dalam tatanan adat dan istiadat daerah setempat.

"Hanya ada dua aliran yang kentara di Minangkabau. Pertama silek darek dan silek rantau. Silek darek berkembang di tiga luhak dan gerakannya akan cenderung mematikan, seperti silek harimau. Sedang silek rantau, berkembang di sepanjang pesisir pantai," katanya.

Perguruan Limbago Budi, terang lelaki 43 tahun itu, memadukan empat aliran silek tradisi. Pola langkah dasar dan galuik (bergelut)-nya, memakai langkah ampek (empat) Cupak, Kabupaten Solok. Sedangkan pola serangnya memakai silek tuo harimau.

Untuk kuncian, lebih memakai silek induak (induk) ayam dari Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan untuk serang bela, memakai langkah tigo (tiga) Kinari.

Melatih Sabar, Bukan Untuk Mencari Lawan

Seiring berjalan waktu, perguruan Silek Limbago Budi kian diminati generasi. Paling tidak, hari ini, perguruan ini memiliki sebanyak 227 orang lebih anggota. Jumlah sasarannya pun terus bertambah. Sedikitnya, sudah ada lima sasaran Limbago Budi yang tersebar di Kabupaten Solok, Kota Solok dan Kota Sawahlunto.

Perguruan silek tradisi ini juga mencoba menerobos hal baru dengan melahirkan gerakan Silek Masuk Sekolah (SMS). "Ini bagian jemput bola kami ke anak-anak muda di sekolah yang selama ini memandang silek itu kuno. Sehingga lebih suka belajar bela diri import," kata Rizal.

Sedikitnya, sudah ada tiga Sekolah yang dimasuki program latihan silek dari Perguruan Limbago Budi. Masing-masing, MIS Muara Panas, MAN Aman Kabupaten Solok, dan SMPN 6 Cupak. "Semua tanpa bayaran sepeser pun. Baik dari sekolah, maupun wali murid," katanya.

Rizal menerangkan, silek bukan sekedar melangkah dan tangkap-menangkap. Gerakan silek sesungguhnya melambangkan kesabaran. Pandeka (pendekar) dalam Minangkabau diartikan pandai aka (akal). Itulah simbolnya besar dan hitamnya baju pesilat Ranah Minang.

Hakikat silat adalah melatih kesabaran jiwa. Sebab, musuh terberat dari manusia tak lain diri sendiri. "Hitam itu melambangkan kesabaran dan tahan tempo (terpaan). Muara silat itu adalah melahirkan rasa kesabaran di hati generasi. Bukan untuk berkelahi, lebih kepada prilaku dan akhlak," bebernya.

Silat menjadi salah satu wadah membantu masyarakat, terutaman generasi muda untuk kembali ke karakter asli orang Minangkabau itu sendiri. Sehingga, mereka kenal dirinya dan lahirnya jati dirinya sebagai anak Minangkabau.

Perkembangan zaman, terus meracuni generasi yang secara tidak langsung bisa mengikis peninggalan budaya. Apalagi, kata Rizal, baru-baru ini, isu terorisme sedang mendera warga Sumbar. Padahal, jelas-jelas sikap seperti itu tidak ada dan pernah lahir di jiwa generasi Minang terdahulu.

Dulunya, silek identik dengan surau (musala). Sebab, di era 60-an, setiap murid mengaji khususnya laki-laki tak pernah tidur di rumah dan wajib tidur di surau. Usai belajar mengaji selepas magrib, malamnya remaja Minang berlatih silek. Kondisi tersebut nyaris ada dan terjadi di seluruh Nagari-nagari di Sumbar.

"Jika lurus memahami agama dan silat, semua akan berjalan dengan baik. Paham radikal dijamin musnah. Ini juga yang memotivasi kami gencar mengajar silek hingga ke sekolah," tutup Rizal Intan Sati yang sudah belajar silat sejak usia dini.

Warisan Minangkabau Yang Diperhatikan Pemerintah Pusat

Di sisi lain, tradisi Silek yang notabenenya warisan budaya di Ranah Minang juga kian dikenal dan sudah mendunia. Kerap wisatawan datang ke Sumbar untuk menikmati pertunjukan silek hingga belajar bela diri yang mayoritas berlatih malam hari itu.

Untuk terus menjaga tradisi itu, bahkan Pemerintah Provinsi Sumbar menggelar Silek Arts Festival 2018 dengan tema "Panjapuik Piutang Lamo". Festival silek yang diikuti 8 Kabupaten/Kota itu, ditabuh di Taman Budaya Sumbar, Sabtu (8/9) malam oleh Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno bersama Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, Silek Arts Festival akan berlangsung hingga 30 November 2018 mendatang. Agenda tersebut juga didukung penuh oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud dengan program Indonesiana.

Silek adalah karakter kepribadian orang Minang, terutama dalam hal menjaga harga diri. Paling tidak, ada sekitar 500 aliran silek yang ada di Ranah Minang. "Setiap gerakan silek juga mengandung sikap rendah hati yang ditautkan dengan agama dan adat Minang. Semoga festival ini menjadi momen Sumbar menjemput aset-aset budaya dan menghidupkan kembali silek tradisi," kata Irwan saat membuka kegiatan Silek Arts 2018.

Silek Arts ini tidak digelar di satu panggung dan lokasi yang sama. Melainkan digilir dari satu daerah ke kabupaten/kota lainnya. Delapan Kabupaten/Kota yang ikut meramaikan Silek Art Festival itu adalah, Kabupaten Solok, Tanah Datar, Padang Pariaman. Kemudian, Kota Padang, Sawahlunto, Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

"Banyak daerah lain yang semangat untuk ikut. Tapi, karena ini agenda perdana, makanya belum semua daerah bisa terlibat," katanya.

Di kesempatan sama, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid menyebutkan, Silek Arts Festival termasuk festival dengan durasi terlama dari 8 daerah program Indonesiana lainnya. "Waktunya tiga bulan. Dari September sampai November mendatang. Tapi digelar di kabupaten/kota," katanya.

Hilmar juga berpendapat, jika Silek Arts Festival 2018 dapat menggenjot kecintaan masyarakat terhadap silat. Apalagi, atlit pencak silat Indonesia berhasil meraih banyak medali emas dalam Asian Games 2018.

"Silat mendapat perhatian khusus dari Pemerintah. Sebab, gerakan pencak silat mengajarkan tentang pendidikan karakter, kepribadian, dan kerendahan hati," katanya.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up