alexametrics

Yunaz Ali Akbar Bersepeda sembari Meminjamkan Buku

9 Juli 2020, 06:06:27 WIB

Bersepeda dan membaca adalah hobi Yunaz Ali Akbar Karaman. Melalui Perpustakaan Prasojo, dia ingin hobinya bermanfaat bagi orang lain. Sederhana dan sepantasnya saja.

LUGAS WICAKSONO, Surabaya

Sejumlah orang membaca buku di depan Pasar Pucang Anom. Sesekali mereka memilih-milih buku di boks kayu bertulisan Perpustakaan Prasojo. Boks kecil berisi 30 buku itu diikat di bagian belakang sepeda lipat milik Yunaz Ali Akbar Karaman.

Kemarin pagi pemuda 23 tahun tersebut menyempatkan berhenti di Pasar Pucang Anom. Konsultan media di perusahaan swasta itu memang hobi bersepeda sembari membawa buku-buku untuk dipinjamkan kepada orang-orang di jalan.

Aktivitas tersebut kerap dilakukan alumni jurusan sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya saat pagi sebelum berangkat kerja. Juga, ketika akhir pekan saat libur kerja. Dia berhenti di warung kopi, taman, kampus, hingga restoran untuk meminjamkan buku-bukunya.

’’Percaya diri saja. Saya biasanya izin ke pemilik warkop untuk berhenti dan pelanggan-pelanggannya baca buku,’’ ujar Yunaz kemarin (7/7).

Beragam jenis buku selalu dibawa ketika bersepeda. Mulai buku bacaan anak-anak, novel, komik, hingga majalah. Taman-taman tempat berkumpulnya anak-anak juga menjadi tujuannya. ’’Anak-anak antusias bacanya. Mereka senang baca-baca buku anak-anak. Habis dibaca di tempat, dikembalikan lagi,’’ katanya.

Sudah tiga tahun ini Yunaz bersepeda sembari meminjamkan buku-buku. Dia memulainya sejak kuliah di Unair. Tujuannya, mengajak banyak orang untuk membaca buku. ’’Membiasakan baca buku saja karena baca buku juga perlu biar tidak baca hoaks di handphone,’’ ucapnya.

Ide membuat perpustakaan sepeda ketika itu berasal dari Belanda. Dia melihat di negara tersebut sudah banyak orang yang meminjamkan buku melalui sepeda. Di Jepang juga demikian. Sudah banyak taman bacaan yang buku-bukunya bisa dibaca secara gratis.

Yunaz dengan kepercayaan dirinya mulai mewujudkan ide itu. Dia yang kini memiliki koleksi 500 buku mulai berkeliling menggunakan sepeda sembari membawa buku-buku. Aktivitas tersebut dinamakan Perpustakaan Prasojo. ’’Prasojo artinya sederhana dan apa adanya. Saya apa adanya saja mengajak membaca dengan sepeda. Dapat nama itu dari Angkringan Prasojo di Jogjakarta,’’ ungkapnya.

Anggota komunitas sepeda subcyclist tersebut memang sudah lama hobi bersepeda. Selain itu, dia sejak remaja hobi membaca. Karena itu, dia memutuskan menyatukan dua hobinya tersebut agar bermanfaat bagi orang lain. Membuka perpustakaan sepeda. ’’Hobi saya bersepeda. Kalau idealisnya solusi tanpa polusi. Suka membaca sejak SMA,’’ ucapnya.

Pria asal Sengkaling, Malang, tersebut juga kerap bersepeda sembari meminjamkan buku-bukunya di Malang dan Jogjakarta. Di kota-kota itu dia juga banyak kolega untuk singgah sembari meminjam buku-bukunya buat dibaca banyak orang. ’’Saya pakai sepeda lipat. Saya lipat naik kereta untuk ke sana,’’ ucapnya.

Selama pandemi Covid-19 ini, Yunaz mengurangi aktivitasnya menjalankan perpustakaan sepeda. Alasannya, dia juga ingin mencegah orang berkerumun. Sebagai gantinya, dia mengirim buku-bukunya ke kolega-koleganya di luar Surabaya yang ingin membuka taman baca.

Terakhir, dia mengirim buku-bukunya di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sebagian besar buku yang dikirim adalah buku anak-anak. Buku-buku itu dibeli dari uang pribadinya. Rencananya, dia juga mengirim buku-buku ke Riau dan Kebumen. ’’Anak-anak masih kekurangan buku bacaan,’’ katanya.

Kolega-koleganya di luar Surabaya menyambut baik. Mereka mulai membuat taman bacaan untuk anak-anak. Sebagian lain juga telah menjalankan perpustakaan sepeda. Fauzan Aditama, guru SD di Riau, dan Meilisa di Gresik, koleganya semasa kuliah. ’’Banyak orang-orang yang tergerak untuk buat taman baca. Buat perpustakaan gampang, yang penting konsisten,’’ tuturnya.

Selain itu, Yunaz aktif menulis dan menggambar buku cerita bergambar tentang cerita rakyat untuk anak-anak. Buku-buku itu ditulis dan digambar sendiri. Sebagian juga bekerja sama dengan koleganya. Dia yang menggambar, sedangkan koleganya yang menulis ceritanya.

Kini Yunaz terus mengembangkan Perpustakaan Prasojo yang sudah lama dirintis. Salah satunya membuat katalog di Instagram. Dengan demikian, pembaca yang ingin membaca bukunya bisa memesan melalui katalog lebih dulu. Pembaca bisa memesan melalui nomor WhatsApp yang tertera. Selanjutnya, dia membawakannya ketika bersepeda.

Dia juga memiliki e-book di blogspot Perpustakaan Prasojo. Beragam buku digital yang sudah diunggah di akun blogspot-nya bisa diakses dengan bebas dan gratis oleh semua pembaca. ’’Saya hanya ingin hidup saya bermanfaat bagi orang lain,’’ paparnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/git



Close Ads