alexametrics

Ketika Seniman Manfaatkan Media Sosial untuk Aktif Berpameran

Lebih Mudah Mendata Karya Favorit Pengunjung
9 Juni 2020, 06:06:50 WIB

Menghelat pameran menjadi salah satu kegiatan yang dilarang sejak masa pandemi datang. Tidak berputus asa, para seniman kini sering memamerkan karya mereka secara virtual lewat promotor. Ternyata, banyak hal positif dari model pameran anyar tersebut.

MARIYAMA DINASurabaya

Menikmati pameran seni rupa secara virtual memang terasa berbeda dengan langsung mengunjungi tempat pameran. Pengunjung tidak bisa langsung mengabadikan karya yang menarik lewat gawai masing-masing.

Ikut eksis di depan salah satu karya yang disukai juga tidak bisa lagi dilakukan. Namun, esensi pameran tetap bisa didapatkan. Setiap pengunjung bisa mengapresiasi karya para seniman dengan berbagai cara. Itulah yang dipegang para promotor alias penyelenggara pameran virtual selama masa pandemi ini. Salah satunya adalah Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda).

Sejak Mei lalu, Dekesda Bidang Seni Rupa mengadakan pameran virtual di akun @sr.dekesda di platform Instagram. Kegiatan Dekesda Bidang Seni Rupa kini memang lebih sibuk dengan gawainya. Bukan untuk bermain-main, melainkan untuk memilih karya yang masuk dengan tepat dan mengunggah karya setiap hari. Ternyata mereka makin sibuk saat Minggu tiba.

Karena sistem pameran dibuat berkala mingguan, setiap Minggu bakal menjadi waktu untuk mengurasi dan mengedit karya dengan tambahan bingkai dan logo Dekesda.

Syska Liana, ketua penyelenggara pameran, mengungkapkan, lewat pameran virtual, ternyata dirinya merasakan banyak hal positif. Pengunjung pameran terbilang lebih variatif. Sebab, pameran virtual lewat media sosial lebih mudah diakses siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

’’Lewat pameran virtual, pengunjung juga bisa lebih mudah mengapresiasi karya para seniman. Misalnya, mereka meninggalkan like atau repost di akun mereka. Atau, bisa juga langsung share link pameran,’’ ujarnya kemarin (7/6).

Selain itu, Syska menyatakan, lewat pameran virtual, ternyata pihaknya lebih mudah mendata karya mana yang paling disukai pengunjung. ’’Ini bisa dilihat lewat like dan komentar,’’ ungkapnya.

Bukan hanya itu. Hal positif lainnya juga bisa dilihat lewat sisi kunjungan. Para pengunjung pameran virtual bisa berkali-kali melihat dan mengapresiasi karya tanpa harus repot-repot datang ke ruang pameran atau galeri tempat pameran berlangsung.

Selain itu, dari sisi seniman, pameran virtual menjadi solusi untuk bisa tetap eksis memperkenalkan karya-karya mereka. Lewat pameran virtual tersebut, Dekesda juga punya program untuk menjadikan satu karya-karya yang sudah terpilih ke dalam e-catalogue.

Sementara itu, sibuk dengan gawai juga dirasakan founder Paguyuban Sedikit Masyarakat Seni (PSMS) Surabaya Alifiman Eratama. Untuk menyiapkan pameran virtual lewat Instagram, Facebook, dan YouTube, PSMS Surabaya juga tidak kalah sibuk dengan mempersiapkan pameran di sebuah galeri.

’’Saya ngerjain ini bener-bener kayak tidur cuma beberapa jam. Soalnya, sebelum diunggah, harus dipastikan nanti sudah pas seperti konsep kami atau belum,’’ katanya.

Pameran PSMS dibuat dengan mengategorikan jenis karya. Ada yang dikategorikan berdasar warnanya, ada juga yang dikategorikan sesuai dengan lukisannya. Misalnya, lukisan yang dibuat dengan konsep sketsa akan lebih dulu diunggah. ’’Jadi, feed di platform kami bisa tertata bagus dan enak dilihat,’’ tuturnya. Konsep itu dibuat agar pameran virtual yang diadakan tetap digarap serius dan di-layout dengan bagus layaknya pameran di ruang seni atau galeri.

Namun, menurut Alifian, pameran virtual juga tidak luput dari masalah. Karena butuh waktu untuk mengategorikan setiap karya yang masuk, para seniman harus taat deadline dalam mengumpulkan karya. Tetapi, ternyata masih ada saja yang tidak patuh. Padahal, di pameran virtual, mereka cukup mengirimkan karya berupa foto.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/ady



Close Ads