alexametrics
Hidup dan Perjalanan Didi Kempot (3)

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa

Mengadu Nasib di Jalanan Solo dan Jakarta
9 Mei 2020, 12:48:32 WIB

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang mengayomi membuat pengamen lain segan.

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Jawa Pos

JAUH sebelum menjadi The Godfather of Broken Heart yang bermandi lampu sorot benderang, temaram lampu jalanan Solo-lah yang kali pertama membasuh Didi Kempot. Mengutip rupiah demi rupiah, dari hasil genjrengan ngamen.

Itu tahun 1984–1985. Sepulang dia dari Samarinda, Kalimantan Timur, kembali ke Solo, kota kelahirannya. Dan sesudah Didi meminta izin kepada sang bapak, Ranto Edi Gudel, untuk tidak melanjutkan sekolah yang saat itu sudah sampai kelas II SMA.

Eko Guntur Martinus, adik Didi, mengenang sang kakak biasa ”beroperasi” di kawasan Jalan Teuku Umar, Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Solo. Didi biasanya mengamen mulai pukul 19.00 hingga 22.00. ”Targetnya Mas Didi itu Rp 3.000 sehari. Itu buat dibawa pulang untuk membantu keluarga. Kalau ada lebih, baru buat Mas Didi pribadi,” kata Eko kepada Jawa Pos Radar Solo.

AWAL KARIR: Kawasan Keprabon, Banjarsari, Solo, tempat awal Didi kempot ngamen. (ANTONIUS CHRISTIAN/Jawa Pos)

Bahkan, di usia semuda itu, bakat Didi bermain musik dan menulis lagu yang mulai diasah di Samarinda sudah sangat kelihatan. Hariyono, rekan ngamen Didi Kempot, mengenang, Cidro yang puluhan tahun kemudian melejit sudah diujidengarkan kepada mereka yang tengah makan atau minum di kawasan Keprabon. Juga Modal Dengkul dan banyak lagu lain.

”Kalau dulu memang lokasi itu base camp para pengamen. Pusat kuliner yang setiap malam pasti ramai pembeli, dari rakyat biasa, politikus, sampai artis ibu kota yang lagi pentas atau cuma mampir ke Solo,” kenang pria yang akrab dipanggil Hari Gempil tersebut.

Meski kala itu masih berusia muda, sekitar 18–19 tahun, Hari mengingat, setiap Didi datang, pengamen yang lain pasti memilih menepi. Di lokasi tersebut Didi memang dikenal sebagai jawara.

Selain karena suaranya yang memang merdu, juga karena sosok Didi Kempot yang sangat mengayomi para pengamen lain. ”Jadi, yang lain merasa pekewuh,” ucapnya.

Beberapa tahun mengamen di Kota Bengawan, Didi akhirnya merantau ke Jakarta sekitar 1987. Sama seperti di Solo, Lord Didi, sapaan dari para penggemar ketika popularitas Didi telah melejit, juga menghabiskan hari-harinya di ibu kota sebagai pengamen jalanan. Sekitar setahun Didi berada di Jakarta, Hariyono bersama beberapa rekan sesama pengamen dari Solo menyusul.

Seingat Hariyono, kala itu Didi sudah masuk dapur rekaman, tapi hasilnya belum terlalu menjual. Karena itu, Didi masih sering mengamen.

Hariyono.(ANTONIUS CHRISTIAN/Jawa Pos)

Pengakuan Eko, masa-masa sulit sang kakak tersebut bahkan masih terus berlangsung sampai saat dirinya (Eko) menikah pada 1994. Didi tak hadir kala itu dengan alasan manggung. Tapi, belakangan Eko tahu bahwa kondisi perekonomian sang kakak yang menjadi penyebab ketidakhadiran tersebut. Padahal, saat itu Didi sudah menghasilkan beberapa album. ”Dia juga sudah diundang konser ke Belanda dan Suriname. Tapi, hasilnya bisa dibilang hanya cukup untuk makan sehari-hari,” kenang Eko.

Di Jakarta, Didi tak hanya mengamen di kawasan kaki lima, tapi juga dari satu bus ke bus lain. Area mengamennya di kawasan Slipi, Palmerah, Cakung, hingga Senen.

Di ibu kota itulah nama Kempot yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengaman Trotoar disematkan, yang akhirnya menjadi nama panggung dia hingga tutup usia (dalam usia 53 tahun) pada Selasa (5/5) lalu. Tak seperti di hari-hari terakhirnya ketika dia terlihat lebih berisi, dengan pipi yang chubby, Didi zaman perjuangan berperawakan kurus. ”Sangat tirus,” kata Hari yang berusia dua tahun lebih muda daripada Didi.

Di jalanan Jakarta musik yang kerap dimainkan Didi adalah pop, bukan campursari yang belakangan mengangkat namanya. Lagu-lagunya ada yang berbahasa Indonesia. Ada pula yang berbahasa Jawa. ”Tergantung bus yang kami naiki. Kalau bus kota, lagunya Indonesia, kalau bus AKAP (antarkota antarprovinsi) tujuan Jawa ya lagunya Jawa,” ungkapnya.

Hampir semua lagu yang dinyanyikan Didi kala itu sudah merupakan hasil karyanya sendiri. Putra ketiga seniman tradisional Jawa Ranto Edi Gudel itu memang sangat prolifik dalam menulis lagu. Sampai akhir hayatnya, sudah 800-an lagu dihasilkannya.

Kata Hari, tak pandang tempat, asal pikiran Didi sedang jernih, satu lagu pasti jadi. ”Mas Didi itu orangnya titen, terus pintar mengolah rasa. Dan yang membedakan (dengan penulis lagu lain, Red), dia memiliki banyak diksi,” imbuhnya.

Ketika itu Didi dan Hariyono tinggal di tempat kos berbeda, tapi masih pada satu perkampungan yang sama bersama dengan pengamen jalanan lain. Di kawasan Slipi, dekat pemakaman.

”Karena area pemakaman, kalau ada yang habis meninggal, pasti tiker yang buat bungkus jenazah itu dibuang sama keluarga, itu jadi rayahan (rebutan) anak-anak. Lumayan dapat alas tidur seperti itu,” kata Hariyono.

Kenangan lain bersama Didi, lanjut Hariyono, tiap kali hawa Jakarta tengah sumuk, dengan segera mereka berebut ngisis (cari angin) tiduran di dalam makam. ”Yo jejer kijing-kijing kuwi (ya sejajar dengan makam-makam itu, Red),” kenang Hari seraya tergelak.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ttg



Close Ads