alexametrics
Cerita Minggu

Natuna, Harta Karun di Dasar Lautan, dan Pencurian

Dari Keramik, Perhiasan, sampai Kapal Rusia
9 Februari 2020, 19:16:53 WIB

Setidaknya ada 24 titik kapal tenggelam yang membawa berbagai barang berharga di lautan Natuna. Karena pengawasan lemah, para penjarah yang justru diuntungkan.

ILHAM WANCOKO, Natuna, Jawa Pos

LAPORAN dari warga itu sampai juga ke Hadisun. Ada tiga warga Tiongkok yang bermaksud melakukan penyelaman.

Sampai di situ sepertinya semuanya wajar.

Kabupaten Natuna nun di utara Indonesia yang terdiri atas ratusan pulau memang punya banyak spot penyelaman.

Namun, ada yang memicu kecurigaan. Tindak tanduk tiga orang tersebut tak tampak seperti turis. Mereka juga tidak tinggal di hotel. Tetapi, memilih menyewa sebuah rumah penduduk di tepi pantai.

Hadisun, kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, dan jajarannya pun bergerak. Tiga orang itu ditemui.

Sulitnya komunikasi dengan mereka tak menyurutkan putusan instansi yang berwenang. ”Mereka kami usir karena kemungkinan besar akan mencuri BMKT,” papar dia kepada Jawa Pos kemarin.

BMKT adalah benda muatan kapal tenggelam. Natuna kaya akan harta karun di dasar laut itu.

Versi pemerintah setempat, ada 24 titik BMKT yang tersebar di 17 pulau dan karang di sekitar wilayah kabupaten di Kepulauan Riau tersebut. Itu yang baru diketahui sejauh ini.

Diprediksi masih banyak lagi titik kapal tenggelam lainnya.

Itu dimungkinkan karena Natuna yang berbatasan dengan Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja itu punya lautan yang ramai jadi perlintasan perdagangan dunia. Sejak dulu.

Terutama di era ”Jalur Sutra”. Itu adalah jalur imajiner perlintasan perdagangan dan kebudayaan yang menghubungkan ”Timur” dengan ”Barat”. Persisnya antara Asia Timur dan Tenggara dengan Asia Selatan, Persia, Semenanjung Arab, Afrika Timur, serta Eropa Selatan.

Kapal-kapal yang tenggelam itu membawa serta berbagai barang yang, antara lain karena kandungan sejarahnya, demikian berharga. Mulai keramik, perhiasan, peralatan rumah tangga, sampai bongkahan emas.

Berkali-kali nelayan setempat menemukan keramik. Sejauh ini, dari hasil penelitian, diketahui bahwa keramik-keramik yang telah ditemukan berasal dari Dinasti Qing, Sung, dan Ming di Tiongkok.

”Pernah suatu kali saya dengar warga ada yang menemukan rantai emas dan bongkahan emas,” kata Wan Tarhusin, salah seorang sejarawan Natuna.

Sayang, tak ubahnya gula yang selalu mengundang semut, bertebarannya harta karun di lautan Natuna itu juga memikat perhatian para pencuri. Kisah tiga warga Tiongkok di atas hanyalah satu dari sekian banyak di antaranya.

Pernah suatu kali, tutur Hadisun, ada sebuah perusahaan asal Jakarta yang mengajukan izin pengangkatan BMKT di kawasan Serasan. ”Oleh pemkab tentunya diserahkan ke pemerintah pusat. Kalau diizinkan pusat, silakan saja,” tuturnya.

Tapi, izin dari pemerintah pusat tidak turun. Kabarnya memang ada moratorium untuk pengangkatan BMKT.

Tak lama berselang, KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) mengecek lokasi BMKT tersebut. Apa yang didapat? BMKT di titik tersebut sudah habis.

Tak ada lagi barang yang tertinggal. ”Hanya tinggal puing belaka,” ujarnya.

Zulkifli Flora, salah seorang nelayan Natuna, juga mengaku sering mendengar adanya penyelaman untuk mengambil barang dari dalam laut. Dari besi hingga barang berharga lain. ”Namun, semua itu hanya jadi cerita.”

Hadisun mengakui, pengawasan terhadap BMKT memang menghadapi jalan terjal. Kewenangan untuk BMKT berada di KKP. ”Pemkab yang dekat tidak punya kewenangan apa pun,” tuturnya.

Hasilnya mudah ditebak. Ke-24 titik BMKT itu rawan pencurian. Banyak yang sudah rusak. Dicuri orang tak bertanggung jawab.

Aset negara hilang. Barang kebudayaan yang tak ternilai harganya raib entah ke mana. ”Data itu pun kami dapat dari KKP,” ujarnya.

Kapal-kapal yang tenggelam di lautan Natuna bermacam-macam asalnya. Ada, misalnya, kata Wan Tarhusin, kapal Inggris yang tercatat tenggelam pada 1848. Juga, kapal Rusia pada 1941.

”Ada pula kapal pembawa delegasi India ke Konferensi Asia-Afrika (di Bandung pada 1955, Red),” kata Wan.

Catatan dari buku petualang Tiongkok I Tsing memperlihatkan, dahulu, pada abad ketujuh, Natuna yang kala itu bernama Nan Toa dikuasai Sriwijaya. Di masa Majapahit, namanya diubah menjadi Serindit.

Kemudian berubah lagi menjadi Nalma dalam peta abad ke-17. Kini kepulauan di Jalur Sutra itu dikenal sebagai Natuna.

Wilayah Natuna yang luas juga menyulitkan pengawasan. Kabupaten yang beribu kota di Ranai itu memiliki 154 pulau. Dan, hanya 27 yang berpenghuni.

Karena kewenangan ada di pusat, pemerintah setempat hanya bisa mendata. Jadi, tak ada pengawasan yang spesifik.

Zulkifli mengusulkan, akan efektif bila nelayan diajak untuk membantu langkah mengamankan aset-aset negara tersebut. Sebab, mereka sangat mengenal luar dalam lautan di sekitar Natuna. ”Itu juga bisa membantu memperbaiki kesejahteraan nelayan,” urainya.

Itu pun mungkin belum cukup. Sebab, menurut Wan Tarhusin, teknologi para penjarah tinggi sekali. ”Angkat BMKT malam saja bisa, pemerintah Indonesia bagaimana,” keluhnya.

Seharusnya, lanjut dia, BMKT itu bisa dijadikan aset negara dan menghasilkan untuk masyarakat Natuna. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: yang diuntungkan hanya para pencuri.

”Ini masalah yang seharusnya diselesaikan,” tuturnya.

Senada, Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kiki Firdaus menyebutkan, BMKT itu bisa dibuatkan museum sebagai tambahan daya tarik pariwisata Natuna.

Museum serupa, kata Kiki, memang sudah ada di Natuna. Tapi, milik pribadi. ”Daripada dibiarkan di laut dan jadi sasaran pencurian, mending dimaksimalkan jadi museum. Sekaligus bisa jadi alat edukasi kebudayaan,” paparnya.

BERVARIASI: Sejumlah barang temuan warga di lautan maupun daratan Natuna. Sedang dibangun museum untuk menampung barang-barang itu. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Laut, Darat Bertemu di Museum

TAK cuma di laut Natuna ”berjaya”. Dalam arti punya kekayaan terpendam. Di daratan juga.

Karena itulah, di kabupaten yang masuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau itu dikenal istilah ”macok”. Menancapkan besi untuk mencari barang di tanah. Barang yang berharga tentu saja.

Nah, yang datang dari darat dan laut itulah yang berusaha disatukan Pemkab Natuna di museum yang kini tengah dalam proses penyelesaian. Museum Perdagangan Maritim.

Menurut Kabid Kebudayaan Pemkab Natuna Hadisun, sengaja dinamakan demikian karena sulit memperuntukkan museum itu khusus barang muatan kapal tenggelam (BMKT), harta karun di lautan Natuna.

”Sebab, banyak BMKT yang sudah dicuri,” kata Hadisun.

Dibangun sejak 2016 dengan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, museum itu sejatinya direncanakan bisa dibuka tahun lalu. Sejauh ini sudah sekitar 500 item yang dikumpulkan.

Barang-barang tersebut dikumpulkan dari koleksi pemkab dan masyarakat yang bersedia menyerahkan temuan mereka. Baik yang ditemukan di lautan maupun daratan. Termasuk dari hasil macok tadi.

Dari hasil macok itu bisa ditemukan berbagai benda peninggalan bersejarah. Misalnya, perhiasan atau kuningan. Kegiatan tersebut dilakukan sampai jauh ke dalam hutan.

Natuna memang sudah ramai jadi jalur perlintasan dan persinggahan perdagangan dunia sejak dulu. Letaknya pun berbatasan dengan empat negara sekaligus: Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja.

Hadisun menuturkan, sejauh ini benda paling tua yang berhasil didapat adalah keramik dari Dinasti Tang yang menguasai Tiongkok dari tahun 618 sampai 907. ”Dalam konteks kebudayaan, ini tak ternilai (harganya),” jelasnya.

Meski begitu, tidak semua barang calon koleksi museum masih utuh. Ada yang sudah pecah. Bahkan, ada yang hanya bentuk serpihan.

Sumbangan juga datang dari museum milik pribadi. Menurut Hadisun, ada warga Natuna yang memiliki museum pribadi dengan isi yang menakjubkan. ”Ada keris dan berbagai barang kuno lain,” jelasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg


Close Ads