alexametrics

Melihat Tim Input Data Silon Calon Independen Pilwali Surabaya

Sepaneng Entri Ratusan Ribu Data
9 Februari 2020, 20:48:36 WIB

Pasangan calon independen punya pekerjaan besar nan berat menuju pilwali Surabaya. Tak hanya mengumpulkan KTP dukungan, tetapi juga input data dukungan tersebut ke aplikasi sistem informasi pencalonan (silon). Sebab, ada ratusan ribu data yang harus dimasukkan ke sistem tersebut. Mereka bekerja lembur sampai dini hari.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Surabaya

Ruangan di lantai 3 sebuah ruko di Jalan Kalibokor itu nyaris penuh dengan pemuda yang duduk lesehan. Hampir semuanya berfokus melihat laptop masing-masing. Tumpukan lembaran surat pernyataan dukungan pasangan calon berada di kanan-kiri mereka. Dengan serius, penuh ketelitian, dan kehati-hatian, mereka memasukkan satu per satu data pada lembaran tersebut ke aplikasi sistem informasi pencalonan (silon). Ruang tersebut merupakan sekretariat entri data pasangan calon independen M. Sholeh-Taufik Hidayat ’’Lho enek sing muka rata,’’ celetuk M. Syamsul Hadi, kapten tim entri data pasangan M. Sholeh-Taufik Hidayat. Perkataan itu sempat membuat belasan pemuda dan pemudi tadi mengalihkan perhatian mereka dari layar laptop. Ada yang tersenyum tipis. Ada yang langsung kembali lagi berkonsentrasi menatap layar komputer jinjingnya.

Apa yang dimaksud muka rata? Syamsul menunjukkan ada fotokopi e-KTP yang wajah pemilik kartu identitas itu tak terlihat. Nyaris putih semuanya. Tak jelas kontur wajah pemilik KTP tersebut. ’’Yang penting, datanya kan ada dan bisa terbaca. Itulah yang diinput di silon,’’ jelas Syamsul.

Memasukkan data ke aplikasi silon sebenarnya gampang. Tinggal menyalin setiap huruf nama orang dan angka per angka pada nomor induk kependudukan (NIK) atau tanggal lahir. Memang mudah kalau hanya puluhan atau ratusan data. Namun, sangat melelahkan jika input data sesuai dengan persyaratan. Khusus untuk syarat pencalonan jalur perseorangan di pilwali Surabaya, dibutuhkan minimal 138.565 e-KTP. Artinya, ada 138.565 lembar kertas surat dukungan dan harus input data dari 138.565 orang.

’’Sejauh ini satu orang ditargetkan bisa selesaikan input data 200 sampai 250 e-KTP per hari. Itu sudah sampai jam 2 pagi (dini hari, Red) kadang-kadang,’’ ungkap Syamsul.

Memang, mereka bekerja mulai siang setelah kuliah. Ada pula yang baru memulai saat malam. ’’Kendalanya itu kalau sudah sepaneng. Makanya, di sini ada proyektor kalau mau nonton TV. Bisa karaoke juga,’’ jelasnya.

Di tim Sholeh-Taufik, aktivitas menginput data ke aplikasi silon dimulai Desember tahun lalu. Tepatnya setelah mereka mendapat PIN akses ke aplikasi tersebut dari KPU Surabaya. Input atau entri data ke aplikasi silon itu paralel dengan pengumpulan fotokopi e-KTP dukungan.

Syamsul menyebutkan, awalnya ada sekitar 30 orang dalam tim entri data. Hampir semuanya adalah mahasiswa. Syamsul adalah mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang tinggal menunggu diwisuda. Dia kenal akrab dengan Taufik Hidayat alias Taufik Monyong. ’’Saya juga ajak teman-teman mahasiswa untuk entri data. Jumlahnya naik turun, tapi awalnya ada sekitar 30 orang,’’ ucap Syamsul.

Seiring dengan bertambahnya data yang diinput dan waktu penyerahan syarat dukungan silon yang makin dekat, orang-orang yang diminta untuk entri data juga ditambah. Misalnya, ada kelompok mahasiswa Gorontalo yang terdiri atas sekitar 25 orang yang turut membantu. Ada pula mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ’’Veteran’’ Jatim dan Universitas Wijaya Kusuma (UWK). Total, ada sekitar 65 orang yang tergabung dalam tim silon tersebut. ’’Sekarang ini sudah sekitar 80 ribu data yang masuk ke silon. Memang masih banyak. Nanti tinggal nambah orang,’’ ujar Syamsul pada Kamis (6/2).

Sementara itu, sudah ada sekitar 150 ribu surat dukungan. Di lantai 2 ruko tersebut, Syamsul menunjukkan tumpukan berkas yang sudah ditata dalam kontainer plastik yang ditempeli nama-nama kecamatan se-Surabaya. Masih ada tumpukan yang belum dipilah-pilah.

Dalam suatu kesempatan wawancara, Sholeh menargetkan sedikitnya 180 ribu surat dukungan yang akan dibawa ke KPU Surabaya pada tanggal penyerahan syarat dukungan calon independen. Tepatnya pada 19–23 Februari.

Selain pasangan Sholeh dan Taufik, ada empat pasangan lainnya yang meminta PIN untuk input data silon. Yaitu, Samuel Teguh Santoso-Gunawan, Usman Hakim-M. Yasin, Fatchul Muid-Tatik Effendi, serta Sungkono Ari Saputro-Agung Purnomo.

Di antara empat calon tersebut, Muid sudah mundur alon-alon dari pencalonan. Syarat dukungan dan input data silon menjadi penyebabnya. Dia telah mengumpulkan sekitar 50 ribu dukungan dan input sekitar 20 ribu data di aplikasi silon. ’’Tapi, ndelok waktune gak nutut. Daripada memaksakan diri dan malah menempuh cara yang tak benar, kami mundur saja,’’ tuturnya pekan lalu.

Sungkono Ari Saputro yang paling belakangan memperoleh PIN menyatakan masih melakukan konsolidasi untuk input data silon. Dia mengklaim ada ribuan relawan dari kaum miskin kota, para pedagang kaki lima (PKL), hingga warga setren kali yang mendukung perjuangannya. Sudah disiapkan sejumlah KTP dukungan. ’’Laptopnya masih cari yang minimal RAM 4, katane KPU,’’ jelas Sungkono yang biasa disapa Pokemon.

Usman Hakim menyatakan, timnya pun sudah menginput data. Dia menyebutkan bahwa ada sekitar 40 orang yang diminta untuk membantu input data tersebut di posko di daerah Kutisari. Namun, dia masih merahasiakan lokasi tersebut. ’’Sudah banyak yang diinput datanya,’’ ujar Usman.

Samuel mengungkapkan, dirinya juga dibantu puluhan mahasiswa dan pemuda untuk input data. Namun, mereka bekerja di kos atau tempat tinggal masing-masing. Ada banyak drama yang dihadapi dalam input data silon tersebut. ’’Yang jelas, sering kali ngadat ketika kami memasukkan data itu. Sebenarnya KPU sudah melayani dengan baik kalau ditanya, friend,’’ jelas Samuel.

Dia hanya menyesalkan PIN silon baru diberikan pada Desember. Semestinya, sejak jauh hari, minimal enam bulan sebelumnya, ada pemberian PIN tersebut. Karena waktu yang makin mepet, tim input silon pasangan Samuel-Gunawan pun kejar target. ’’Sampek mripat panas, friend. Lha melek nganti bengi. Awak yo ngancani ngasih motivasi,’’ katanya.

Tim entri silon paslon Sholeh-Taufik mengalami kelelahan yang tak jauh berbeda. Entri ratusan ribu data membuat sepaneng. Mereka pun butuh hiburan untuk mengatasi rasa bosan tersebut.

Jepri Yanto Tuloli dari tim input data mengungkapkan, para mahasiswa yang dalam koordinasinya boleh membawa data tersebut ke kos masing-masing agar tak mudah bosan. ’’Pak Taufik kadang juga video call untuk melihat kerjaan teman-teman di sekretariat kami,’’ ucap Jepri yang berasal dari Gorontalo. ’’Kadang, kalau sudah bosen input data, jalan-jalan ke luar dulu. Misalnya ya ke minimarket depan,’’ ujar Valentina Vireska Nirmala yang turut input data di tim Sholeh-Taufik.

Masih ada waktu kurang dari dua pekan bagi tim input silon setiap pasangan calon independen. Waktu yang tak terlalu lama untuk memasukkan puluhan ribu data. Padahal, input data baru bagian awal dari perjuangan paslon independen untuk ikut kontestasi pilwali Surabaya. Masih ada kerja-kerja perjuangan untuk ikut kontestasi dengan calon dari partai politik (parpol).

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/ady


Close Ads