alexametrics

Kiprah Ekskul Generasi Muda Pencinta Alam SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Gresik

Dari Empati Kini Dilatih Skill Tinggi
9 Februari 2017, 21:04:17 WIB

Gara-gara air bah, warga Gresik Selatan benar-benar susah. Di tengah kesedihan ribuan korban banjir, muncul remaja-remaja yang peduli. Mereka tergabung dalam Generasi Muda Pencinta Alam (Gempa).

UMAR WIRAHADI

BANJIR melanda Desa Iker-Iker Geger, Kecamatan Cerme, selama sepekan lalu. Tinggi genangan air mencapai pinggang orang dewasa. Bahkan, di beberapa titik, genangan sampai setinggi dada. Rumah-rumah terendam. Namun, penghuninya enggan pergi. Mereka belum mau dievakuasi. Padahal, para korban banjir itu butuh makan.

Kiprah Ekskul Generasi Muda Pencinta Alam SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Gresik
KOMPAK: Para relawan SMA Muhammadiyah 8 Cerme menggelar latihan kebencanaan di Kali Lamong. (Umar Wirahadi/Jawa Pos/JawaPos.com)

Pada Sabtu (4/2), puluhan anak muda berkaus biru-merah menerobos banjir. Dengan berjalan kaki, mereka membagikan nasi bungkus kepada penduduk. Selain nasi, ada bingkisan sembako sumbangan dari para donatur. ’’Ini bentuk keprihatinan kami atas musibah ini,’’ kata Chacha Yuniawati, siswi SMA Muhammadiyah 8 Cerme. Remaja 18 tahun itu terlibat aktif sebagai relawan yang tergabung dalam Gempa, sebuah organisasi ekstrakurikuler yang menghimpun para siswa.

Chacha menjelaskan, Gempa aktif memberikan bantuan sejak banjir kali pertama datang menerjang pada Kamis (2/2). Mereka mendirikan tenda darurat yang dipusatkan di petigaan Jalan Raya Morowudi, Cerme. Ada tim yang bertugas membuka dapur umum, posko kesehatan, hingga petugas evakuasi warga. ’’Kami bagi-bagi tugas,’’ ujar siswa kelas XII tersebut.

Natasya Risha, 17, siswi lain, sangat menikmati kegiatan tersebut. Dengan menjadi relawan, dia dan sesama siswa belajar untuk berempati pada penderitaan orang lain. ’’Ada yang kelaparan karena tidak kebagian makanan. Makanan kan habis didistribusikan kepada warga,’’ ungkapnya.

Kepala SMA Muhammadiyah 8 Cerme Hasan Abidin menyatakan, Gempa didirikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler pada Desember 2014. Inspirasi sebenarnya datang saat bencana tsunami mengoyak wilayah pesisir Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004. Bencana itu menewaskan 126.741 warga Aceh. Lalu, 93.285 korban dinyatakan hilang. Tragedi mahadahsyat tersebut mengetuk hati keluarga besar SMA Muhammadiyah 8 Cerme. ’’Hasilnya, berdirilah Gempa. Sejak saat itu, kami bertekad membantu korban bencana melalui Gempa,’’ tuturnya.

Gempa kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi kegiatan siswa. Alhasil, setiap rekrutmen anggota, banyak siswa yang tertarik. Saat ini jumlah anggotanya mencapai 45 anak. Aksi Gempa kini sudah dilengkapi berbagai peralatan. Termasuk perahu karet dan berbagai jenis perlengkapan kebencanaan. Para siswa mahir menggunakannya.

Keberadaan Gempa telah dikenal luas oleh masyarakat Gresik Selatan. Khususnya wilayah Kecamatan Cerme. Sebab, setiap kali banjir, mereka selalu datang sebagai pahlawan. ’’Warga sudah tahu aksi anak-anak,’’ ucap Hasan.

Bukan hanya di wilayah Gresik. Aksi solidaritas anak-anak Gempa juga dilakukan di berbagai daerah. Di antaranya, Surabaya, Lamongan, Bojonegoro, dan Jogjakarta. Kegiatan Gempa juga bukan melulu aksi solidaritas kebencanaan. Pembina Gempa Lukman Arif menuturkan bahwa kegiatan Gempa mulai dikembangkan ke berbagai keahlian lain. Mulai olahraga arus deras alias rafting, teknik mendaki gunung (mountaineering), menyusuri gua (caving), dan panjat tebing (rock climbing). Belakangan, kegiatan lain berupa konservasi flora dan fauna juga dilakukan. Siswa menanam bibit pohon jati dan mangrove di kawasan pesisir. ’’Siswa makin terlatih untuk penyelamatan dengan tingkat kesulitan tinggi. Termasuk korban kebakaran,’’ tandas Lukman. (*/c14/roz/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo



Close Ads
Kiprah Ekskul Generasi Muda Pencinta Alam SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Gresik