JawaPos Radar | Iklan Jitu

Anne Kamphorst Kenalkan Wisata Surabaya lewat Aplikasi

Bikin Peta Sendiri, Libatkan Desainer Lokal, Bule Tertarik Keranjang Sampah dari Ban Bekas

09 Januari 2017, 01:05:38 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Anne Kamphorst Kenalkan Wisata Surabaya lewat Aplikasi
CITA RASA LOKAL: Anne Kamphorst (kiri) dan tim dari Hongkong, Nancy Wong, men ja jal aplikasi iDiscover. Tak hanya jalan-jalan biasa, aplikasi ini memudahkan turis untuk meng- eksplorasi wisata budaya dan sejarah lokal. (Lai Chun Fung Idiscover Team)
Share this

Seorang warga Belanda berupaya mengenalkan spot-spot wisata Surabaya melalui aplikasi. Segala hal tentang Surabaya bisa dicari dengan mudah. Termasuk makanan enak dan cenderamata.

DEBORA DANISA

SIANG itu, seorang perempuan tinggi berambut pirang sedang menanti santap siang di Museum House of Sampoerna. Dia bernama Anne Kamphorst.

Didampingi Freddy Istanto dari Surabaya Heritage, perempuan asal Belanda itu mengamati interior museum yang klasik. Bangunan yang terletak di Jalan Kalisosok tersebut menjadi salah satu objek yang masuk daftar situs bersejarah di catatannya.

Dia lalu membandingkan bangunan museum itu dengan bangunan di negara asalnya. ’’Rokok tidak terlalu populer di Belanda,” ungkap pencinta traveling tersebut.

Karena itu, dia begitu takjub begitu mengetahui ada perusahaan rokok yang memiliki museum secantik House of Sampoerna. Di ruangan museum tersebut, aneka lukisan kontemporer tergantung di dinding.

Selain itu, lebih dari 20 objek wisata Kota Pahlawan telah Anne pelajari. Dia datang, lalu mengamati segala sesuatu yang menarik di setiap objek wisata tersebut.

Dia mendokumentasikan semua informasi tentang spot-spot wisata itu dengan rapi. Ketertarikan alumnus University of Amsterdam itu bukan tanpa sebab.

Dia kini sedang menggarap proyek aplikasi bernama iDiscover City Walks. Namanya sudah mencerminkan aplikasi tersebut berbau jalan-jalan.

Aplikasi berupa peta interaktif itu menyajikan beragam informasi terpadu tentang berbagai destinasi wisata di Surabaya. Khususnya yang berkaitan dengan sejarah dan identitas lokal.

Di sana, pengguna aplikasi bisa mendapatkan info lengkap mulai tahun berdirinya, rute menuju lokasi menggunakan angkutan umum, hingga restoran dan tempat berburu cenderamata terdekat.

Semuanya dikemas dalam lima menu berbeda: iSee, iShop, iDrink, iEat, dan iSurprise. Bila dibandingkan dengan aplikasi jalan-jalan lain, iDiscover memiliki keunikan yang istimewa.

Ia tidak mengandalkan sinkronisasi dengan Google Maps. Tapi, membikin peta sendiri. Peta yang muncul di iDiscover dirancang langsung oleh desainer grafis asli Surabaya.

Jadi, jangan heran jika nanti peta masing-masing area tampak berbeda. Perempuan yang memiliki darah Indonesia dari neneknya itu mengungkapkan, iDiscover memang punya misi untuk mendukung bisnis lokal.

Termasuk memberikan kesempatan bagi para desainer untuk menunjukkan talenta dan kontribusinya bagi wisata setempat. Anne dengan bangga menunjukkan berbagai peta hasil rancangan desainer yang kreatif.

Ada yang bergaya seperti peta harta karun dan peta kartun. Bahkan, ada yang berwarna hitam putih seperti sketsa.

Selain dari segi kreativitas, iDiscover memiliki kelebihan dalam hal teknologi. Pengguna aplikasi tidak harus terkoneksi dengan internet karena peta tersebut bisa diakses secara offline.

Namun, tak perlu khawatir, lokasi pengguna tetap bisa terlacak layaknya global positioning system (GPS). ’’Saya sendiri kurang paham, tapi memang ada teknologi yang memungkinkan seperti itu. Semua dikerjakan ahli IT tim kami,” terang perempuan yang pernah bekerja di kedutaan Belanda itu.

Akhirnya menu makan siang datang. Anne memesan pepes pindang. Selagi Anne menikmati hidangannya, Freddy Istanto yang sedari tadi menemaninya menyambung obrolan.

Pencinta sejarah itu merasa senang bisa mendampingi Anne untuk melihat-lihat sisi historis Surabaya. Menurut dia, wisatawan asing memang punya ketertarikan tinggi terhadap sesuatu yang berbau sejarah dan budaya.

’’Saya pernah menemani wisatawan dari Belanda juga. Dia ingin melihat kampung pembuatan bak sampah dari ban bekas,” kenang Freddy.

Saat itu Freddy sempat sangsi dengan keinginan sang turis karena dirinya merasa kampung pembuatan bak sampah tersebut kurang menarik. ’’Yang menurut kita kurang menarik justru dicari sama bule,” tambah Freddy, lantas tersenyum.

Setelah makan, Anne menunjukkan slide profil iDiscover di laptopnya. Aplikasi tersebut awalnya diciptakan warga negara Belanda yang tinggal di Hongkong, Ester von Steekelenburg.

Dia memang punya ketertarikan pada wisata lokal, terutama Asia. Kemudian, lahirlah lembaga Social Enterprise Urban Discovery yang berfokus pada pengembangan informasi wisata.

Ester bekerja sama dengan banyak kontributor muda untuk menggarap objek wisata berbagai kota di Asia Timur dan Tenggara. Total sudah ada tiga kota yang memiliki iDiscover saat ini. Yakni, Hongkong, Makau, dan Yangon.

Surabaya menjadi kota ketiga di Indonesia yang dibuatkan aplikasi jalan-jalan oleh tim iDiscover. Sebelumnya, ada Jakarta dan Denpasar.

Aplikasi wisata untuk Jakarta dinamai iJava, sedangkan versi Pulau Dewata bertajuk iBali. Anne Kamphorst yang pernah tinggal di Jogjakarta itulah yang dipercaya untuk mengumpulkan informasi mengenai potensi wisata Surabaya.

Lantas, mengapa Surabaya menjadi pilihan? Menurut Anne, Surabaya adalah kota yang penting dalam sejarah Indonesia. Apalagi, selama ini para turis mengenal Surabaya sebagai kota penghubung menuju Bromo.

Karena itu, dia ingin menyajikan Surabaya dalam perspektif yang berbeda. Bukan sekadar kota metropolitan yang dipenuhi mal dan gerbang menuju Gunung Bromo semata.

Ketika menggarap aplikasi tersebut, Anne didukung Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dan komunitas-komunitas lokal. Dari Surabaya, ada komunitas Surabaya Memory Perpustakaan Universitas Kristen Petra.

Lewat komunitas tersebut, Anne bisa menemukan tempat-tempat menarik yang justru jarang dijadikan jujukan wisata di Surabaya. Awalnya iDiscover City Walks Indonesia digagas pada 2012.

Kala itu, Ester sang pendiri dan timnya mengadakan workshop di Hotel Sheraton Surabaya. Workshop itu diikuti para pemerhati wisata lokal Jawa dan Bali.

Mereka juga bekerja sama dengan travel bloggers lokal maupun mancanegara. ’’Bukan hanya penduduk lokal, terkadang bloger mancanegara juga punya banyak dokumentasi tentang wisata di Indonesia,” ungkapnya.

Meski masih seumur jagung, aplikasi tersebut telah memenangkan setidaknya tiga penghargaan. Pada 2014 mereka menjuarai Cathay Pacific Shooting Star Award kategori Innovative and Creative Entrepreneurship.

Lalu pada 2016, iDiscover menyabet dua penghargaan sekaligus: ajang City Tech Award dan AIA HK Chapter Citation, keduanya di Hongkong.

Hingga saat ini, aplikasi iDiscover telah diunduh lebih dari 8.000 kali. Jumlah itu adalah akumulasi dari iDiscover semua kota sejak versi Hongkong pada 2014.

Memasuki tahun baru 2017, mereka memasang target fantastis sebanyak 25.000 unduhan. Sementara masih tahap pengerjaan, Surabaya belum tersedia dalam iDiscover.

Versi Jakarta saja baru diluncurkan pada 4 Februari 2017. ’’Rencananya diluncurkan tahun depan, tapi belum pasti tanggal dan bulan berapa,” jelasnya. (*/git/c7/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up