JawaPos Radar | Iklan Jitu

Perjuangan Tim Basket SMA Regina Pacis Bajawa yang Menginspirasi

08 Oktober 2015, 21:51:00 WIB | Editor: arwan
Perjuangan Tim Basket SMA Regina Pacis Bajawa yang Menginspirasi
Tim basket SMA Regina Pacis Bajawa (JawaPos.com)
Share this

Tim basket SMA Regina Pacis Bajawa berkompetisi di Honda DBL East Nusa Tenggara Series dengan penuh perjuangan. Tapi, pengorbanan mereka tak sia-sia: tim putri sukses merebut gelar.

 

Hendy Arif Setiadi, Surabaya

Perjalanan laut selama 10 jam itu memang berakhir ketika KM Wilis bersandar di Pelabuhan Kupang. Tapi, bagi rombongan SMA Regina Pacis Bajawa, perjuangan mereka justru baru dimulai.

Tugas pertama seturun dari kapal sudah menunggu: mengangkat 12 karung hasil ladang seperti labu jepang, kentang, dan wortel plus 5 karung beras ke tempat penginapan.

Tempat penginapan yang dituju pun jangan bayangkan layaknya hotel yang nyaman. Yang mereka inapi adalah salah satu asrama Sekolah Luar Biasa di Kupang. Kondisinya pun tidak langsung bisa dihuni.

"Jadi, begitu sampai asrama, seluruh anggota tim masih harus membersihkan ruangan agar siap ditinggali," ujar Rudi Wogo, pelatih tim basket SMA Regina Pacis Bajawa.

Tapi, tak ada yang mengeluh. Rombongan berisi 40 orang yang terdiri dari tim basket putra, putri, tim dance, dan guru-guru pendamping itu mengerjakan tugas masing-masing dengan penuh semangat.

Sebab, mereka sadar, semua pengorbanan itu demi mengejar prestasi di Honda Developmental Basketball League (DBL) East Nusa Tenggara Series yang digelar di GOR Flobamora, Kupang. Itu keikutsertaan mereka yang pertama di ajang bergengsi tersebut.

Dan, ternyata, perjuangan dan pengorbanan mereka di gelaran yang berlangsung pada 4-9 Mei lalu itu tidak sia-sia. Tim putri sukses merebut gelar juara setelah menundukkan SMA Giovanni, Kupang, 51-47.

Padahal, tim putri SMA Giovanni bukanlah tim sembarangan. Mereka pernah menjuarai ajang serupa edisi 2013. Untuk putra, raihan tim putra Regina Pacis Bajawa juga tidak memalukan dengan menembus delapan besar.  

"Sebagai debutan, bisa masuk final saja kami sebenarnya sudah bangga sekali. Saya sungguh kagum dengan niat mereka untuk dapat berkompetisi di Honda DBL," ujar Rudi.

Bajawa adalah ibu kota Kabupaten Ngada, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara geografis, Ngada berada di Pulau Flores yang terpisah oleh laut Sawu dengan Kupang, ibu kota NTT.

Karena itu, untuk bisa sampai Kupang saja, tim Regina Pacis harus melewati perjuangan yang tidak mudah. Mereka mesti menempuh perjalanan darat terlebih dahulu menuju pelabuhan Ende selama 4 jam. Baru dilanjutkan dengan perjalanan laut dengan kapal KM Wilis tadi.

Belasan karung bekal makanan tadi sengaja mereka bawa agar bisa berhemat selama sekitar tiga pekan berada di Kupang. Nah, kalau anggota tim basket cowok-nya kebagian mengangkat karung, tim putri dan dance bertugas memasak secara bergantian.

Untuk berlatih basket selama di Kupang, mereka menumpang latihan di lapangan Seminari Claret Kupang. Tantangan lain terkait salah satu regulasi pertandingan Honda DBL, yakni setiap jersey pemain wajib mencantumkan nama sekolah.

Demi alasan berhemat pula, akhirnya tercetus ide untuk menulis nama sekolah di jersey mereka dengan cat minyak. Tentu itu bisa dilakukan dengan mudah oleh tukang sablon.

Tapi, sekali lagi demi efisiensi, mereka pun rela bahu membahu bergantian mengecat jersey sendiri. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh tim basket manapun demi bermain di Honda DBL.

Forward tim putri SMA Regina Pacis Bajawa Hilgariani Irmansari Meo mengaku pertama kali mendapat info tentang Honda DBL dari pelatih tiga bulan sebelum kompetisi dimulai. Tapi, untuk membentuk tim saja tidak mudah.

"Kami harus mengajak teman-teman dekat agar tertarik dengan basket," ungkap Hilga, sapaan akrab Hilgariani.

Berlatih basket di Bajawa, kota berhawa sejuk yang berpenduduk sekitar 45 ribu jiwa itu, diakui oleh Hilga, sapaan akrabnya, penuh tantangan. Lapangan sekolahnya kerap dipakai oleh ektrakurikuler lain.

Memang ada lapangan basket untuk umum, tapi bisa dibilang fasilitasnya tidak layak. Seperti, banyak bagian lapangan yang rusak dan ring yang juga sudah tak berpapan.

Untuk mengumpulkan dana, mereka membuat usaha katering sederhana. Setelah terkumpul sekitar 15 juta rupiah ditambah sokongan dari sekolah dan donatur, sebagian dana lantas digunakan untuk membeli tiket kapal dan logistik serta perlengkapan lain.

Tapi, toh semua hambatan itu tidak pernah mengendurkan semangat mereka. Justru kian melecut. Dengan segala keterbatasan, baik tim putra maupun putri terus gigih berlatih sebelum terjun berkompetisi di Kupang.

Dan, hasilnya ternyata sangat mengagumkan. Juga, seperti mengirim pesan inspirasi kepada siapa saja: kekurangan atau keterbatasan tidak boleh jadi penghalang untuk meraih mimpi.

"Kami sangat bangga dengan apa yang telah kami raih. Tapi, kami tidak akan berpuas diri agar bisa terus mempertahankan prestasi," kata Rudi.

Kesuksesan mereka di Honda DBL East Nusa Tenggara Series itu pun disambut meriah di kampung halaman. Saat tiba kembali di Bajawa, rombongan diarak keliling kota sejauh 5 km dengan drum band sekolah. (*/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up