alexametrics

Cerita Mereka yang Terdampak Kebijakan Tutup Pintu Negeri Jiran

Dulu Resah Lockdown, Kini Galau Sulit Balik
8 September 2020, 14:08:59 WIB

Ada yang bingung karena visa belajar akan habis, ada pula yang resah karena riset doktoralnya mesti dikerjakan di laboratorium kampus. Ada juga yang harus rela tujuh bulan tak bertemu suami.

M. HILMI DAN TAUFIQURRAHMAN, Jakarta, Jawa Pos

DULU Ambang Priyonggo cemas karena terjebak kuntara (lockdown) di Malaysia. Seminggu menjelang Lebaran baru mahasiswa studi doktoral (S-3) di University of Malaya, Kuala Lumpur, itu bisa balik ke tanah air.

Kini dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tersebut galau karena Malaysia kembali menutup pintu kedatangan untuk warga sejumlah negara, termasuk Indonesia, mulai kemarin (7/9). Kini kegalauan serupa kembali dia rasakan.

Ambang mengaku sempat akan balik ke Malaysia beberapa waktu lalu. Tapi, ternyata ada peraturan yang mewajibkan pendatang untuk menjalani karantina mandiri selama 14 hari.

Biaya untuk karantina mandiri itu 150 ringgit atau sekitar Rp 533 ribu per hari. Biaya karantina mandiri itu ditanggung oleh tiap-tiap pendatang. Kebijakan karantina mandiri tersebut berlaku sejak 1 Juni lalu.

’’Dalam perkembangannya, kebijakannya ternyata semakin ketat,’’ tutur Ambang.

Padahal, dalam waktu dekat dia harus kembali ke Malaysia. Mengurus visa belajarnya yang dalam waktu dekat habis masa berlakunya. ’’Untung saya belum beli tiket ke Kuala Lumpur. Ya, mudah-mudahan Malaysia segera buka pintu kedatangan untuk WNI,’’ katanya.

Untung, meskipun berada di tanah air, riset studi doktoralnya tidak terlalu terganggu. Sebab, risetnya berkategori sosial. Objek penelitiannya juga bisa dilakukan dari Indonesia.

’’Tapi, tentu pengerjaannya tidak semaksimal ketika saya berada di lingkungan kampus,’’ katanya.

Daniar Fahmi, mahasiswa program doktor di Fakultas Teknik University of Malaya, termasuk yang demikian, yang harus melakukan penelitian di laboratorium kampus.

Padahal, sejak 4 Juni atau sekitar sepekan setelah Lebaran, dosen ITS itu berada di tanah air. Dan, kebijakan terbaru pemerintah Malaysia kini membuatnya tak bisa balik ke kampus.

Semula dia akan kembali ke Kuala Lumpur awal Agustus lalu. ’’Tetapi, kebijakan di Malaysia berubah-ubah,’’ katanya.

Baca juga: Mulai Hari Ini, WNI Dilarang Masuk Malaysia

Dia menceritakan, sempat ada kebijakan yang mewajibkan pendatang harus tes PCR yang umurnya tiga hari terlebih dahulu. Padahal, ketika itu, di Surabaya cukup susah mendapatkan hasil PCR yang usianya tiga hari. Umumnya baru keluar setelah empat hari pengambilan sampel.

Sehari sebelum diumumkannya kebijakan penutupan akses untuk WNI oleh Malaysia, dia sempat membeli tiket dengan harga relatif lebih mahal.

Dalam kondisi normal, tiket dari Surabaya ke Kuala Lumpur sekitar Rp 700 ribu. Tetapi, kali ini dia mendapat tiket seharga Rp 1,5 juta dengan maskapai AirAsia.

Akhirnya tiket tersebut dia cancel. Meskipun sebenarnya tiket tersebut berlaku untuk 3 Oktober nanti, dia pesimistis bisa terbang ke Kuala Lumpur dalam kurun waktu tersebut.

’’Saya sudah memasukkan berkas-berkas. Tetapi, kemungkinan besar ditolak,’’ katanya.

Dari Singapura, Miranti C., WNI yang bekerja di sebuah agensi penerjemah di Central Singapore, Singapura, mengaku sudah terhitung hampir tujuh bulan tidak bisa bertemu dengan suaminya yang tinggal di Kalibata, Jakarta.

Mira memutuskan untuk menjalani long distance marriage dan tidak tinggal lagi bersama sang suami sejak September 2019. Ketika pandemi Covid-19 mulai terjadi per Maret 2020, kata Mira, mereka berdua semakin sulit untuk bertemu.

Sebab, Indonesia dan Singapura terus memperketat akses keluar masuk antar kedua wilayah. Terutama saat fase circuit breaker I berlaku di Singapura sejak Juni lalu. ’’Jadi, memang sudah kangen banget,’’ tutur Mira.

Namun, meskipun saat ini Singapura sudah masuk fase circuit breaker II yang lebih rileks daripada tahap I, Mira masih merasa enggan balik ke Indonesia.

Yang pertama karena mempertimbangkan risiko paparan virus. Meskipun di Singapura risiko infeksi relatif jauh lebih rendah, dia berusaha menghargai sang suami yang masih menjalani aktivitas di rumah saja di Jakarta.

’’Dia (suami, Red) sudah susah payah diam di rumah, kemudian saya datang bawa penyakit. Kan tidak baik juga,’’ jelasnya.

Selain itu, masih ada alasan teknis pekerjaan. Sebelumnya, pihak perusahaan mengupayakan Mira untuk bisa pergi ke Indonesia selama jangka waktu tertentu. Kemudian kembali ke Singapura.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg



Close Ads