alexametrics

Tiga Mahasiswa UHT Bikin Obat Penyembuh Luka Ekonomis

Dapat Emas di Jepang berkat Udang dan Kaktus
8 Juli 2019, 16:23:51 WIB

BERAGAM inovasi di bidang kesehatan terus bermunculan dari para generasi muda. Salah satunya, inovasi yang dibuat tiga dara dari Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya. Mereka menciptakan obat penyembuh luka dengan memakai bahan sederhana yang mudah didapat.

AHMAD DIDIN KHOIRUDDIN, Surabaya

Suasana sepi langsung menyambut saat masuk salah satu laboratorium milik UHT beberapa waktu lalu. Di salah satu sudut, ada tiga mahasiswi yang sedang asyik membuat percobaan. Gelas ukur, pipet, dan tabung reaksi sudah tersedia di atas meja. Di samping mereka, terdapat serbuk hijau.

”Ini adalah serbuk yang berasal dari tanaman kaktus,” celetuk salah seorang mahasiswi, Sang Ayu Prischa Esterina. Selain kaktus, bahan utama yang dipakai untuk membuat serbuk penyembuh luka ciptaan mereka adalah kulit udang. Setelah semua bahan lengkap, pengolahan pun segera dimulai.

Ketiganya punya peran masing-masing. Kathleen Aldora bertugas mencampur larutan. Kemudian, Prischa menyiapkan serbuk kaktus dan kulit udang. Sementara itu, Ayu Mira Cyntia Dewi kebagian mencatat semua perlakuan yang dikerjakan kedua rekannya tersebut.

Tak hanya asal buat, karya tiga mahasiswa jurusan kedokteran itu baru saja meraih medali emas dalam ajang Japan Design, Idea & Invention Expo di Tokyo, Jepang, yang digelar pada 15–17 Juni. Tidak hanya itu, karena keunikan bahan yang dipakai, mereka mendapatkan special award dari dua negara. Yakni, Arab Saudi dan Kamboja.

Ide awal pembuatan karya itu cukup sederhana. Di pasar, mereka sering melihat kulit udang yang terbuang sia-sia. Maklum, kulit sisa hewan air umumnya tidak dimakan. Kalaupun dipakai, itu hanya untuk campuran makan ternak. ”Nah, kami pelajari lagi beberapa jurnal. Ternyata kulit udang atau chitosan banyak sekali manfaatnya. Terutama di bidang kesehatan,” tutur Prischa.

Bahan itu sangat mudah didapat. Bahkan, mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk memperoleh kulit udang.

Karena dianggap sebagai limbah, penjual udang memberikan bahan itu secara cuma-cuma alias gratis. Berbekal keliling di beberapa pedagang, mereka pun bisa mengantongi beberapa kresek kulit udang untuk diolah.

Dalam beberapa referensi, chitosan memang bisa mempercepat pembekuan darah sehingga cukup efektif dipakai untuk kulit yang terluka atau terbakar. Namun, itu saja tidak cukup. Ketiganya sepakat mencari unsur pelengkap temuan mereka. ”Setelah darah kering, butuh bahan untuk mempercepat pembentukan jaringan kulit,” imbuh mahasiswa semester IV tersebut.

Buku dibolak-balik. Searching sana-sini. Banyak bahan alami yang ditemukan. Namun, yang paling dekat dan mudah dicari adalah kaktus. Kaktus yang mereka pakai bukan kaktus hias kecil dengan harga selangit itu. Melainkan kaktus gepeng yang jumlahnya paling banyak di Indonesia. ”Itu biasanya ada di pinggir jalan, di kampung-kampung. Tinggal petik saja kalau butuh,” tuturnya.

Bermodal dua bahan gratisan itu, mereka dapat menciptakan sesuatu. Memang, untuk bisa dipakai sebagai obat penyembuh luka komersial, dibutuhkan pengembangan dan penelitian yang mendalam. Untuk saat ini, mereka sudah menguji coba karyanya pada beberapa objek hewan. ”Kami bandingkan, luka yang dibiarkan dan diberi serbuk. Hasilnya, lebih cepat sembuh yang serbuk,” jelasnya. Untuk memvalidkan hasil, dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali.

Mendapatkan berbagai penghargaan internasional tidak membuat mereka berpuas diri. Masih ada target yang mereka kejar. Sementara ini, serbuk berukuran nano yang mereka buat masih dicampur dengan plester pabrikan. Ke depan, mereka ingin membuat plester sendiri dari bahan alami yang dicampur dengan serbuk tersebut.

Targetnya, produk itu bisa dijual ke pasaran. Hal itu bukan isapan jempol semata. Sebab, saat ajang perlombaan lalu, sudah ada investor yang melirik karya mereka. ”Kami pastikan akan menjualnya di bawah USD 1 (setara Rp 1 ribu),” kata Prischa.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyempurnakan karya itu memang terhitung cukup lama. Yakni, delapan bulan. Namun, waktu itu sudah terpotong rutinitas kuliah yang cukup padat. Saat libur semester kali ini, mereka berencana kembali mengutak-atik karya tersebut hingga terbukti semakin valid.

Salah satu tujuan terbesar mereka adalah melakukan pengujian langsung pada manusia. Namun, masih dibutuhkan beberapa tahap penyempurnaan lagi. Selain itu, perlu ada pengurusan ethical clearance (EC) untuk bisa mencoba karya tersebut pada tubuh manusia. ”Kami ingin produk ini bisa dipakai sebagai penanganan pertama pada orang yang terluka,” tandasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia