JawaPos Radar

Tokoh-Tokoh yang Berusaha Merekatkan Hubungan Indonesia dan Rusia (2)

Awalnya karena Tergila-gila Bumi Manusia

08/07/2018, 14:02 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tokoh-Tokoh yang Berusaha Merekatkan Hubungan Indonesia dan Rusia (2)
MAESTRO BAHASA: Victor Pogadaev dengan kamus bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia yang dia susun di rumahnya, di Moskow, akhir Juni lalu. (Ainur Rohman/Jawa Pos-Dokumen Victor Pogadaev)
Share this image

Victor Pogadaev penulis kamus bahasa Rusia-Indonesia pertama dan satu-satunya di dunia. Dia juga turut menerjemahkan berbagai karya sastrawan Indonesia. Di antaranya, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail.

AINUR ROHMAN, Moskow

---

BERBARING di atas tikar, di tengah kepungan udara panas Jakarta, Victor Pogadaev mulai membaca buku yang baru dia beli. Juga, dengan segera dia takjub. Tidak bisa berhenti menikmatinya.

"Plot dan ceritanya menarik. Begitu pula bahasanya, penuh dengan metafora. Segalanya ada di sana," kata Pogadaev kepada Jawa Pos yang menemuinya di Moskow akhir Juni lalu.

Buku yang dimaksud adalah Bumi Manusia, mahakarya sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Pogadaev membelinya saat buku itu kali pertama terbit dan kemudian menimbulkan kehebohan pada 1980.

"Bumi Manusia itu begitu bagus. Pramoedya itu mungkin setara dengan (Fyodor) Dostoevsky. Romannya sangat psikologis," katanya. Pogadaev ketika itu bekerja sebagai staf Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta.

Dostoevsky (1821-1861) adalah sastrawan dan filsuf terkenal Rusia. Seperti Pram yang pernah mendekam di Pulau Buru, dia juga pernah menghabiskan empat tahun di kamp Siberia. Di antara karya-karya terkemukanya, ada Notes from Underground (1864), Crime and Punishment (1866), dan The Brothers Karamazov (1880).

---

Pogadaev bekerja sebagai staf Kedutaan Besar Uni Soviet di Indonesia sampai 1982. Ketika itu Orde Baru berada di puncak kejayaan. Jadi, hubungan Uni Soviet dan Indonesia tentu saja sangat renggang. Berbeda sekali dengan kehangatan kedua negara ketika zaman Presiden Pertama RI Soekarno.

Meskipun demikian, saat itu hampir semua staf Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta mahir berbahasa Indonesia. Mereka adalah anak-anak muda yang terlebih dulu mendapatkan pelatihan berbahasa Indonesia dari beberapa akademi dan lembaga kursus pada akhir 1960-an.

Ketika relasi dengan Uni Soviet sangat erat, Indonesia memang mendapatkan banyak bantuan tenaga profesional dari negeri itu. Dampaknya, Uni Soviet membutuhkan banyak sekali ahli bahasa Indonesia.

Menurut Pogadaev, dari semua kantor perwakilan negara asing di Indonesia, Kedutaan Besar Uni Soviet adalah lembaga yang paling top dalam penguasaan bahasa Indonesia. "Kondisinya sekarang berbeda. Hampir tidak ada staf kedutaan Rusia di Jakarta yang bisa berbahasa Indonesia."

Pada 1990-an, Pogadaev sempat menyusun kamus bahasa Melayu-Rusia dan bahasa Rusia-Melayu. Ketika hendak mencetak ulang kamus tersebut di Moskow, seorang tokoh penerbitan di Malaysia mendorong Pogadaev untuk menulis kamus bahasa Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia dalam jumlah penduduk.

Pogadaev sepakat dengan usulan itu. Setelah proses panjang dan sangat berat, pada 2004 untuk kali pertama kamus bahasa Rusia-Indonesia terbit di Moskow. Itu adalah kamus bahasa Rusia-Indonesia pertama yang lahir di dunia.

Ketika itu Pogadaev bekerja sama dengan ahli bahasa lain yang bernama L.N. Demidyuk. Kamus itu terdiri atas 25.000 kata.

Sebelumnya, pada 1997, Pogadaev juga membikin panduan percakapan bahasa Rusia dan Indonesia. Namun, karya tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kamus yang dia susun.

Setelah kamus itu terbit, Pogadaev tidak mau berhenti. Pada 2008, bersama penerbit dari Moskow, Russky Yazik-Media, dia menerbitkan kamus serupa. Tetapi, kali ini lebih ambisius: dua bab dalam satu buku. Yakni, bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia. Tebalnya menembus 1.136 halaman. Terdiri atas 60.000 kata.

Setelah kamus itu hadir, dia menulis surat kepada penerbit Gramedia di Jakarta. Isinya meminta kerja sama agar kamus yang sama bisa terbit di Jakarta. Gramedia setuju.

Juga, setelah proses yang menurut Pogadaev sangat menyenangkan, kamus tebal bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia akhirnya terbit di Jakarta. Namun, yang ini tidak setebal terbitan Moskow karena "hanya" memuat 35 ribu kata. "Oplahnya sektar 5.000. Jadi, cukup laris," terang Pogadaev.

Selain terjemahan, kamus-kamus Pogadaev juga dilengkapi dengan gambar. Jadi, bukan cuma terjemahan kata, melainkan juga buku yang memberikan pandangan soal kebudayaan. Misalnya, kalau ada kata keris dalam kamus tersebut, orang Rusia tidak akan bertanya-tanya lagi. Sebab, memang ada gambar keris di sebelahnya.

Kesulitan terbesar bagi Pogadaev adalah banyaknya kata baru yang belakangan muncul dan mewarnai khazanah bahasa Indonesia. Jadi, dia menggunakan arsip koran untuk melakukan penelitian. "Misalnya kata merakit. Dulu, rasanya, itu tidak ada. Sekarang ada," katanya.

---

Saat ini Pogadaev adalah profesor di Institut Hubungan Internasional Rusia (MGIMO) yang berada di bawah kendali Kementerian Luar Negeri Rusia. Dia tentu saja mengajar bahasa Indonesia.

Pogadaev juga sudah menyusun enam buku antologi sastra Indonesia. Dia juga menerjemahkan buku berjudul Mencari Mimpi yang memuat karya-karya para sastrawan terkemuka Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail.

Proyek terbarunya adalah buku berjudul Puisi dari Leher Gunung, sebuah antologi puisi kontemporer para penyair perempuan Indonesia. Dia bekerja sama dengan sastrawan Indonesia Hilda Winar. Rencananya, akhir tahun ini buku itu terbit di Moskow.

Yang juga cukup menyita waktu Pogadaev adalah posisinya sebagai wakil presiden Perkumpulan Nusantara. Organisasi itu terdiri atas pakar-pakar Asia Tenggara dari kampus paling prestisius di Rusia, Moscow State University.

Tahun ini Perkumpulan Nusantara sudah berusia 50 tahun. Mereka telah menerbitkan 20 buku. Seluruhnya berisi kajian budaya Melayu-Indonesia. "Jadi, saya kira, untuk merekatkan hubungan kedua bangsa, penting sekali belajar bahasanya. Ini agar kedua bangsa besar yang dulu sangat erat ini bisa saling mengenal kembali." 

(*/c11/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up