alexametrics

Cara Sanggar Putra Tanjung Lestarikan Seni Jaranan

8 Juni 2019, 17:50:20 WIB

Menyebut kesenian jaranan, sering kali orang mengaitkannya dengan hal-hal mistis. Sebab, dalam rangkaian kesenian itu, selalu ada aksi orang seperti sedang kesurupan. Nah, Sanggar Seni Jaranan Putra Tanjung ingin mengubah persepsi tersebut.

Bagus Supriadi, Jember

BELAKANGAN banyak pelajar di Kecamatan Balung, Jember, yang tertarik mendalami kesenian jaranan. Sebagian di antara mereka rajin melakoni latihan setiap malam Minggu. Mereka belajar di Sanggar Seni Jaranan Putra Tanjung yang ada di Dusun Karanganyar, Desa Balung Lor, Kecamatan Balung.

“Sebenarnya sanggar ini sudah ada sejak tahun 2002,” kata Bambang Sugiarto, ketua sanggar. Namun, baru beberapa tahun terakhir, makin banyak anak muda, terutama dari kalangan pelajar, yang tertarik mendalami seni jaranan di sanggar tersebut. Sebab, sanggar itu terus berupaya menjadikan seni jaranan sebagai kesenian yang asyik.

Perjalanan Bambang membangun sanggar tersebut cukup berliku. Selalu ada saja tantangan yang dia hadapi. Selama ini memang sudah banyak warga di sekitar Sanggar Putra Tanjung yang telah turun-temurun berkegiatan dengan kesenian. “Dulu warga hanya menekuni tabuhan dengan alat musik gamelan sederhana,” ujarnya.

Bambang sendiri tertarik menekuni kesenian jaranan sejak 1997. Dari sana dia bercita-cita memiliki sanggar sendiri. Bambang ingin punya sanggar yang bisa menjadi tempat belajar dan berkesenian bersama. “Ketika sanggar awal-awal berdiri, kami pernah dapat honor pertunjukan hanya Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Apresiasi yang minim untuk para seniman jaranan tak membuat Bambang patah semangat. Dia justru terus terpanggil untuk melestarikan kesenian tradisional itu. Tak puas hanya dengan seni jaranan, sanggar tersebut juga menekuni campursari.

Semakin lama sanggar milik Bambang semakin dikenal. Order untuk tampil di sebuah acara makin banyak. Bahkan, makin ke sini, yang mengorder bukan hanya orang-orang tua. Ada juga order untuk acara anak-anak muda. “Sebab, jaranan yang kami bawakan tak lagi mengguna­kan hal-hal mistis,” katanya. “Kalaupun ada yang kemasukan roh, kebanyakan itu hanya setting-an,” imbuhnya.

Menurut Bambang, adanya hal-hal mistis membuat kesenian jaranan malah dipandang sebelah mata. “Seperti menjadi kesenian kasta rendah,” ujarnya. Karena itu, dia terus berupaya menampilkan kesenian jaranan yang kekinian.

“Harapan saya memang bagaimana agar kesenian ini bisa menarik minat anak-anak milenial. Sebab, kalau kesenian ini disukai generasi muda, berarti kelestariannya bisa terjaga,” terangnya. Sampai saat ini sudah ada 300-an pelajar yang bergabung di sanggar itu. Mereka belajar banyak kesenian, baik jaranan maupun campursari.

Sanggar tersebut pernah beberapa kali meraih penghargaan. Salah satunya dalam Festival Jathilan Jawa Timur yang diselenggarakan pada 2016. Prestasi itu menjadi penyemangat Bambang untuk terus melestarikan kesenian-kesenian tradisional.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sh/c9/gun



Close Ads