alexametrics

Rumah Harus Kembali ”Menghadap” Sungai

8 Mei 2022, 14:24:17 WIB

DANDHY Dwi Laksono sependapat dengan Prigi Arisandi dan Amiruddin Mutaqqin bahwa sungai-sungai di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pendiri Watchdog itu pernah mengangkat kondisi sungai-sungai besar yang sakit parah dalam sebuah film dokumenter. Judulnya Ekspedisi Tiga Sungai.

Ketika itu yang menjadi sasaran riset Dandhy dan timnya adalah tiga sungai utama di Pulau Jawa. Sama seperti Prigi dan Amiruddin, dia pun menyimpulkan bahwa tiga sungai utama itu sedang kritis. Penyebabnya? Limbah industri dan rumah tangga serta sampah. Khususnya sampah plastik.

Dandhy mengatakan, isu pencemaran sungai tetap harus digelorakan. Sejauh ini, kritisnya sungai belum menuai perhatian luas. Kalangan elite pun seolah tutup mata. Padahal, siapa pun bergantung pada sungai. Fakta bahwa sungai-sungai besar di Jawa dan Sumatera menjadi sumber utama produksi air minum membuat semua kalangan harus ikut peduli. Tidak ada yang bisa cuci tangan.

”Isu tentang sungai dan air ini memang sering tidak dianggap,” ungkap Dandhy saat dijumpai Jawa Pos di Bekasi kemarin (7/5).

PEGIAT: Prigi menunjukkan pakaian dalam temuannya di Sungai Cipaganti, Bandung. (PRIGI UNTUK JAWA POS)

Menurut Dandhy, hubungan warga dengan sungai pun perlu dipulihkan. Sejak adanya jalan darat yang menyambungkan banyak kota, khususnya di Pulau Jawa, masyarakat mengabaikan fungsi sungai. Sebab, masyarakat tidak lagi menjadikan sungai sebagai jalur transportasi.

”Setelah itu, beruntun rumah-rumah tidak lagi menghadap sungai, tapi membelakangi sungai,” ujar pria asal Lumajang tersebut.

Pola itu turut mengubah perspektif masyarakat. Karena letaknya di belakang, sungai tidak penting lagi. Hal-hal yang tidak laik ditampilkan di depan lalu ditumpuk di belakang. Termasuk sampah dan limbah rumah tangga. Di situlah petaka dimulai.

”Di sisi lain, pemerintahnya juga menjadikan sungai sebagai daya tarik investasi. Sungai kerap dijadikan tempat pembuangan limbah industri,” lanjut Dandhy.

Situasi yang kompleks itu kian meminggirkan sungai sebagai sumber penghidupan. Karena itu, perlu ada gerakan untuk kembali merekatkan hubungan masyarakat dengan sungai. Pemerintah memainkan peran penting di sini. Yakni, memberikan informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada masyarakat soal pentingnya sungai bagi kehidupan. ”Informasi itu harus terus diproduksi,” tegasnya.

Bukan hanya pemerintah, informasi penting itu juga perlu disampaikan semua pihak. Mulai media, YouTuber, hingga kreator konten. Dandhy menekankan bahwa pembahasan tentang sungai dan lingkungan harus dimulai dari faktor kesehatan masyarakat. ”Kalau narasinya terlalu tinggi, masyarakat kebanyakan pasti denial (menolak, Red),” ungkapnya.

Dandhy berharap semakin banyak orang yang peduli dengan upaya pelestarian sungai dan lingkungan hidup. Dengan demikian, masyarakat akan bisa memaksa pemerintah bekerja. ”Kalau tidak ada public pressure, pemerintah akan menganggap ini bukan masalah serius,” ujarnya.

MENGGAPAI ASA: Ekspedisi Sungai Nusantara melibatkan peneliti, jurnalis, dan komunitas lokal untuk membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. (PRIGI UNTUK JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tyo/c19/hep

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads