JawaPos Radar

Ikhtiar Pasangan Vaughan Hatch-Putu Evie Suyadnyani Lestarikan Gamelan

Merekonstruksi Gending Tabuh Gari

08/05/2018, 15:13 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ikhtiar Pasangan Vaughan Hatch-Putu Evie Suyadnyani Lestarikan Gamelan
Vaughan Hatch warga negara Selandia Baru yang sangat mencintai musik tradisional Bali bersama Putu Evie Suyadnyani (istri), Kadek Prana Gita (dipangku anak kedua) dan Gede Semara Richard (anak pertama) bersama seluruh keluarga. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Share this image

Bermula dari lantunan gamelan Jawa yang didengarnya di Selandia Baru, Vaughan Hatch kini telah merekonstruksi 50 gending Bali yang nyaris punah. Sampai kini masih memburu manuskrip dan melengkapi perangkat gamelan.

JOS RIZAL, Surabaya

Ikhtiar Pasangan Vaughan Hatch-Putu Evie Suyadnyani Lestarikan Gamelan
Gede Semara Richard anak pertamanya ketika menari tarian jaran Kungkarang diiringi seni musik tradisional Gamelan Bali pada pembukaan acara Anniversary 60th Indonesi dan New Zeland di Food Society Pak (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

---

PERSIS saat melangkah ke luar rumah, langkah pria itu tertahan. Dia tertegun Di sana, di hadapan perangkat gamelan, sang anak yang akan diantarkannya ke sekolah tengah asyik memainkannya.

"Saya tak ingat persis perangkat gamelan yang mana. Yang pasti, dia mengetuknya dengan nada pas," kenang Vaughan Hatch, pria tersebut, tentang polah si anak, Gede Semara Richard, enam tahun silam itu.

Padahal, usia Semara saat itu baru enam tahun. Tapi, mana ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya?

Ketika itu, 2012, sudah sekitar 15 tahun Vaughan, pria kelahiran Selandia Baru itu, bergelut dengan gamelan Bali. Istrinya, Putu Evie Suyadnyani, malah berasal dari keluarga seniman tradisional Pulau Dewata itu. Rumah mereka di Denpasar, Bali, yang menyatu dengan sanggar juga dipenuhi berbagai perangkat gamelan.

"Sejak itu, saya melatih Semara bermain gamelan. Bagi saya, dia bocah ajaib. Diajari sekali langsung bisa mengerti," kata Vaughan kepada Jawa Pos yang menemuinya seusai perayaan hubungan bilateral Indonesia-Selandia Baru di Pakuwon Mall, Surabaya, Jumat sore lalu (4/5).

Sudah sejak 1997 Vaughan tertarik, mempelajari, mendalami, dan melestarikan gamelan. Pergulatan panjang yang berawal dari pertemuan tak sengaja di perpustakaan Universitas Otago. Di kampus yang terletak di Dunedin, Selandia Baru, itu, dia mengambil jurusan arkeologi.

Suatu hari, Vaughan tengah asyik membaca saat telinganya menangkap lantunan musik yang serasa datang dari planet lain. Belum pernah didengar penggemar jazz yang juga DJ radio kampus itu sebelumnya.

Belakangan, dia tahu bahwa yang dia dengar tersebut lantunan gending Jawa. Vaughan yang dari semula memang memilih pendekatan etnomusikologi untuk menyelesaikan studi semakin tertarik.

Pria yang berulang tahun tiap 23 Desember itu pun kemudian mengajukan sebuah penelitian tentang gamelan. Sejumlah pe­ngajar di kampusnya merekomendasikan agar Vaughan datang ke Solo dan Jogja.

Namun, dia malah lebih memilih memperdalam gamelan Bali. "Karena gamelan Bali punya ketukan unik dan belum pernah ada orang Selandia Baru yang mendalami hal itu sebelumnya."

Vaughan kemudian berkelana dari satu desa ke desa lain di Bali. Untuk mengumpulkan manuskrip dan berguru kepada seniman lokal.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2000, dia bersama sejumlah seniman di Bali mendirikan sebuah sanggar. Namun, saat itu masih dibiarkan tanpa nama. Karena yang dipentingkan adalah bagaimana sanggar itu menjadi wadah memperdalam musik dan tari Bali. "Di sinilah konsep awal Mekar Bhuana berasal," jelasnya.

Akhirnya, Mekar Bhuana itu pula yang dipilih sebagai nama sanggar. Dalam bahasa Bali, Mekar Bhuana berarti bersemi di seluruh dunia.

Kelompok Mekar Bhuana itu pula yang pada Jumat sore lalu meramaikan perayaan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Selandia Baru di Pakuwon Mall Surabaya. Selain Vaughan dan Evie, ada dua anak mereka, Semara, 12, dan Kadek Prana Gita, 8.

Anggota lainnya juga masih bertalian keluarga. Misalnya, orang tua dan adik-adik Evie. Sebagian bertugas memainkan perangkat gamelan. Sebagian lainnya menari.

Semara, misalnya, sore itu menampilkan Tari Jaran Kungkarang. Sebuah tari hasil inovasi Evie dan Semara.

Dalam karya tersebut, tersemat pesan betapa alam menyatu dengan kehidupan manusia. Semara melangkah lincah diiringi nada-nada gamelan yang dipukul menyerupai entakan kaki kuda.

Pergulatan dengan gamelan, gending, serta tarian Bali pula yang mempertautkan Vaughan dengan Evie. Mereka bertemu pada 2002, ketika Vaughan terpesona kepada Evie yang tengah menari. "Kami menikah karena punya konsentrasi yang sama. Ingin melestarikan gamelan, gending, dan tari Bali," ungkap Evie.

Sesuai dengan harapan yang disematkan pada namanya, Mekar Bhuana benar-benar mekar. Berlompatan dari mulut ke mu­lut. Hingga suami istri dan anak-anak serta keluarga besar mereka itu berkesempatan manggung ke mana-mana.

Yang paling sering untuk keperluan perayaan pesta seni di suatu negara. Antara lain, Selandia Baru, Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Undangan manggung itu juga merupakan bentuk apresiasi karena Mekar Bhuana dianggap kelompok yang paling berdedikasi. Dari lebih dari 70 perangkat gamelan di Bali, sembilan di antaranya dimiliki Mekar Bhuana. Mereka adalah Semara Pagulingan, Semara Patangian, Gender Wayang, Genggong, Baleganjur, Gong Bheri, Rindik, Angklung Klentangan, dan Selonding.

Ada sejumlah cara yang ditempuh Vaughan dan keluarga untuk mendapatkan perangkat-perangkat gamelan tersebut. Pertama, membelinya dari sejumlah seniman lokal. Sisanya merupakan warisan keluarga Evie di Denpasar.

Bila ditaksir, gamelan-gamelan itu berumur puluhan tahun. Namun, Vaughan yang bisa memainkan semua perangkat ga­melan tersebut tidak pernah menggunakan semua tiap kali manggung. Genggong dan Gong Bheri, misalnya, sama sekali be­lum pernah dia pakai.

"Karena perangkatnya belum lengkap. Belum satu orkestra, makanya belum berani kami tampilkan," terangnya.

Hingga kini, dia masih berburu perangkat lain untuk melengkapi perangkat gamelan itu. Tapi, di luar perangkat gamelan, yang tengah berusaha direkonstruksi Vaughan dan keluarga adalah gending Bali. Sebab, mereka di ambang kepunahan.

Lagu-lagu tradisional yang menggunakan gamelan lengkap dengan tariannya tersebut hilang karena sejumlah hal. Pertama karena runtuhnya kerajaan-kerajaan Bali.

Gamelan dan pakaian adat pun ditelantarkan. Hal itu diperburuk kedatangan Belanda. Kolonialisme saat itu kemudian ikut memengaruhi nada-nada gamelan. Sehingga banyak yang berubah dari aslinya.

Faktor kedua bencana alam. Tanah longsor dan gunung meletus mengubur banyak manuskrip, perangkat gamelan, seka­ligus para seniman senior yang memahami nada-nada. Misalnya, meletusnya Gunung Agung pada 1963.

Faktor ketiga adalah politik. Banyak seniman hebat yang ikut terbunuh dalam prahara 1965. "Padahal, mereka adalah penghafal nada-nada gamelan kuno."

Rekonstruksi atau penulisan ulang pun dilakukan Vaughan dengan bekerja sama bareng seniman lokal sembari mempelajari sejumlah manuskrip. Beberapa kali dia bertolak ke Selandia Baru, misalnya, untuk mengunjungi perpustakaan. Sejumlah manuskrip yang dia cari berhasil ditemukannya di sana.

Vaughan juga menyempatkan diri bertemu para ahli di bidang seni ketika berkunjung ke luar negeri. Dari hasil kerja keras itu, dia berhasil melakukan rekonstruksi 50 gending yang nyaris punah. Lima yang terpenting adalah Sumambang Jawa, Pe­rong Subandar, Bramara, Suduk Maru, Lasem, dan Tabuh Gari.

Dia lantas mencontohkan perjalanan mencari gending Tabuh Gari. Tabuh Gari hanya berisi instrumental gamelan. Tidak diiringi tari-tarian. "Biasanya dimainkan pada pembukaan sebuah upacara kerajaan Bali."

Manuskrip itu ditemukan dalam sebuah buku berjudul Music in Bali karya Colin McPhee, seorang seniman asal Kanada.

Buku tersebut keluaran 1941. Okok gending atau pancanada dalam buku itu begitu utuh. Sehingga membantunya mencatat­kan kembali nada-nada tersebut, lantas melestarikannya.

Hasil penyelamatan gending-gending itu kemudian disimpan Vaughan dalam komputer pribadi. Beberapa dia upload ke YouTube.

Vaughan juga menciptakan beberapa gending dan direkam dalam dua single rekaman CD serta dua single rekaman DVD untuk kepentingan komersial. "Hasil penjualan kemudian kami gunakan untuk kebutuhan sanggar," katanya.

Namun, tidak semua gending dia rekam. Orang lain juga tak boleh merekam saat Vaughan dan keluarga memainkan gending-gending itu. Contohnya, ketika memainkan Geguron Ranggatating.

Gending tersebut digunakan untuk mengawali sebuah upacara sakral beribadah. Ada suara dewata dalam nada-nada musik itu yang pantang direkam. Harus didengarkan langsung oleh pendengarnya. "Orang-orang di desa takut kehilangan kesakralan gending tersebut kalau direkam. Maka kami hormati keinginan mereka itu," tuturnya. 

(*/c5/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up