JawaPos Radar

Lebih Dekat dengan Prof dr Sunaryadi SpTHT-KL, Bapak Paliatif Indonesia

08/05/2017, 07:07 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Lebih Dekat dengan Prof dr Sunaryadi SpTHT-KL, Bapak Paliatif Indonesia
PERJALANAN PANJANG: Prof Sunaryadi Tejawinata memberikan buku kepada Gubernur Soekarwo pada acara peluncuran buku berjudul Sepenggal Kisah Bapak Paliatif Indonesia di Grand City. (Galih Cokro/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

Prof dr Sunaryadi Tejawinata SpTHT-KL (K) FAAO PGD Pall Med (ECU) adalah tokoh penting di balik perawatan paliatif di Indonesia. Dirintis di RSUD dr Soetomo, kini sudah banyak perawatan paliatif yang dipraktikkan di Indonesia.

FERLYNDA PUTRI

PROF Sun memeluk Gubernur Jawa Timur Soekarwo agak lama pada peluncuran buku berjudul Sepenggal Kisah Bapak Paliatif Indonesia.Keduanya terlihat akrab dalam acara yang berlangsung di ballroom Berlian Grand City pada Sabtu (29/4). Sejurus kemudian, Soekarwo terlihat mendekatkan wajahnya, seolah sedang membisikkan sesuatu kepada pria 83 tahun itu. Tidak diketahui apa yang diucapkan. Tapi, terasa sekali ada kedekatan orang nomor 1 di Jatim tersebut dengan Prof Sun.

Sebelum Soekarwo, dr Susi Ernawati PGD PALL MED (ECU), salah seorang sejawat Prof Sun, juga naik ke podium. Dia mengaku sudah lama mengenal Prof Sun. Karena itu, dia memahami betul karakter pria yang juga menjadi dosennya selama berkuliah di Fakultas Kedokteran Unair tersebut. ”Prof Sun itu mudah marah kalau yang dikerjakan tidak sempurna. Tapi, justru itu yang membuat kami terus terpacu untuk belajar,” tuturnya.

Di mata Erna, Prof Sun adalah senior yang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman. Selama ini Prof Sun mendorong juniornya untuk bisa tampil. Dia mempersilakan yang lebih muda untuk mencari pengetahuan, lantas mempraktikkan sebanyak-banyaknya. Termasuk paliatif di RSUD dr Soetomo.

Perjalananan poli paliatif dan bebas nyeri selama 25 tahun tidak terlepas dari tangan dingin Prof Sun. Kisah itu pula yang dibeberkan dalam buku yang diluncurkan tersebut.

Buku yang ditulis Leo Larantukan itu tak ubahnya biografi Prof Sun. Menurut Prof Sun, pembuatan buku tersebut relatif singkat. Tidak lebih dari enam bulan. ”Penulis mewawancara saya dan terkadang ikut acara paliatif,” tutur bapak dua anak itu.

Awalnya Prof Sun ragu bila perjalanan hidupnya dibukukan. Dia merasa bahwa tidak ada yang istimewa dengan dirinya. Namun, berkat dorongan dari pengurus Yayasan Paliatif Surabaya, pria yang lahir pada 23 Agustus 1934 tersebut akhirnya luluh. Sejak itu, Leo mengumpulkan kisah perjalanan Prof Sun.

Pria kelahiran Cirebon tersebut tidak menyangka bahwa buku setebal 244 halaman itu begitu memuaskannya.

Salah satu penggalan kisah hidup yang tertulis adalah ketika suami Prof dr Netty Ratna Hutari SpA PGD PallMed (ECU) tersebut tertarik menjadi dokter. Itu terjadi ketika dia belajar di bangku sekolah menengah.

Semula, dia dipaksa ayahnya untuk masuk STM di Jogjakarta. Namun, karena keinginannya menjadi dokter begitu menggebu, dia pun keluar dan kembali menempuh SMA. Kala itu, SMA Kolese De Britto menjadi pilihannya.

Setelah tamat, dia masuk Fakultas Kedokteran Unair. Dia kemudian memilih spesialis THT-kepala leher setelah disarankan Prof Zaman, dosennya semasa itu. Prof Zaman melihat talentanya di bidang THT-KL.

Semasa belajar tersebut, Prof Sun juga mendapatkan dukungan dari Netty Ratna Hutari, perempuan yang belakangan menjadi istrinya. Prof Sun mengenal belahan jiwanya itu sejak sama-sama belajar di bangku SMP di Jogjakarta. Kedekatan mereka terus berlanjut hingga kuliah di Surabaya. Mereka menikah pada 27 Desember 1963.

Pasangan dokter tersebut memutuskan untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Keduanya menyewa rumah kecil untuk membuka praktik. ”Kami tidak memasang plang sebagai dokter dan kami tidak mematok tarif,” ucapnya. Untuk pasien yang benar-benar tidak punya uang, mereka menggratiskan biaya pengobatan. Sebagai ungkapan terima kasih karena telah mendapatkan pengobatan, pasien membalasnya dengan berbagai hal. Mulai mengirim ayam hingga telur. Bahkan, terkadang kelapa kopyor. ”Saya pernah menjadi orang susah. Jadi, saya tahu apa yang mereka rasakan,” kata Prof Sun.

Untuk itu, keduanya bertekad bersama-sama membantu pasien, bagaimanapun keadaan mereka. Nah, pada 1991 Prof Sun berkunjung ke Bombay, India. Kunjungan itu pula yang mengubah jalan hidupnya.

Dari kota itu, ketertarikannya pada ilmu paliatif tumbuh. Di sana, dia melihat pasien kanker yang dirawat di rumah sakit terlihat nyaman. ”Tidak merintih dan lukanya tidak bau,” bebernya. Dia optimistis Indonesia pun bisa seperti itu.

Bersama istrinya, dia pun berusaha mengasah ilmu paliatif melalui pendidikan post graduate tentang paliatif di Edith Cowan University, Australia. ”Kami wisuda barengan,” tuturnya.

Ilmu yang mereka dapatkan diterapkan di Surabaya. Pada 19 Februari 1992, RSUD dr Soetomo bekerja sama dengan FK Unair mendirikan Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri. Ketika itu, Prof Sun menjabat ketua II. Adapun, yang menjabat ketua I adalah Prof dr Boediwarsono SpPD KHOM PGD PallMed (ECU). ”Karena sibuk, akhirnya beliau minta mundur,’’ katanya.

Pengembangan pelayanan paliatif di RSUD dr Soetomo saat itu dilakukan secara hati-hati. Sebab, peralatan dan tenaganya belum cukup. Awalnya ada dua bentuk pelayanan, yakni rawat jalan dan rawat inap. Akhirnya, melalui surat dari menteri kesehatan No 0588/RSKS/SK/VI/1992, poli perawatan paliatif di RSUD dr Soetomo ditetapkan sebagai proyek panduan perawatan paliatif di Indonesia.

Namun, dua tahun setelah itu, banyak pasien yang tidak mau kembali berobat. Prof Sun bingung dengan sikap para pasien tersebut. Dia bertanya-tanya apakah mereka meninggal atau ada masalah lain. Akhirnya Prof Sun memutuskan untuk melakukan home care. ”Untuk kali pertama hanya saya dengan perawat yang melakukan home care,” ujarnya.

Dia pernah datang ke rumah salah seorang penderita yang sangat miskin. Untuk masuk ke rumah tersebut, dia harus masuk dulu ke rumah orang lain. Itu pun sambil menunduk. Rumahnya dibangun dari gedek, sudah berlubang sana-sini pula. Di dalamnya, ada seorang pasien yang tergolek di tempat tidur.

Sejak kejadian itu, Prof Sun rutin melakukan home care. Akhirnya pada 1997, RSUD dr Soetomo membentuk tim khusus home care. Program tersebut masih berjalan hingga sekarang.

Selama membesarkan poli paliatif, Prof Sun menemui banyak kendala. ’’Terutama meyakinkan masyarakat medis mengenai pentingnya perawatan paliatif ini,’’ katanya.

Pada awalnya, keberadaan paliatif tidak diterima masyarakat medis. Sebab, dalam medis, hanya dikenal istilah pencegahan, deteksi dini, dan akhirnya kuratif (pengobatan). Di sini pentingnya paliatif. Terutama untuk pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan cara medis. Selain itu, dalam pendidikan kedokteran, pengobatan hanya berfokus pada fisik pasien. ”Padahal, tidak hanya itu. Selain fisik (biologis), pengobatan harus mempertimbangkan psikologis, sosial, kultural, dan spiritual,” terangnya.

Semangat Prof Sun mengembangkan paliatif tidak terlepas dari Prof Karjadi. Mantan direktur RSUD dr Soetomo itu memberikan kepercayaan kepadanya. Dia menjalankan delegation of authority. ”Pak Sun kerjakan atas nama saya. Kalau benar, Anda yang benar. Kalau salah, saya yang salah,” kata Prof Sun yang menirukan ucapan Prof Karjadi.

Atas jasanya dalam mengembangkan pelayanan paliatif, Prof Sun dikukuhkan sebagai Bapak Paliatif Indonesia. Pengukuhan yang dilakukan Masyarakat Paliatif Indonesia itu berdasar surat keputusan No 03/SK/MPIP/II/2012 pada 13 Februari 2012. (*/c7/git/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up