alexametrics

Pecinta Budaya Lidah Memperjuangkan Sawunggaling Menjadi Nama Jalan

8 Februari 2020, 20:48:52 WIB

Paguyuban Pecinta Budaya Lidah Sawunggaling yakin bahwa Raden Sawunggaling lebih cocok menggantikan nama Jalan Raya Menganti ketimbang nama Kombespol M. Jasin. Mereka menilai, selama ini yang dikenal dari Sawunggaling hanyalah namanya. Namun, tidak kisahnya. Paguyuban meyakini bahwa Sawunggaling adalah sosok yang babat alas Suroboyo.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

Alkisah, Tumenggung Jayengrana sang penguasa Surabaya berburu bersama para penggawanya di Rawa Wiyung. Begitu melihat seekor rusa, dia dan pasukan langsung bergerak senyap sambil menyiapkan busur panah. Sekali bidikan, wussss, panah itu mengenai sasaran.

Namun, hasilnya tidak cespleng. Rusanya melarikan diri. Dalam pengejaran, keris sakti milik Jayengrana jatuh. Dicari, tidak ketemu. Jayengrana pun gundah karena merasa itu adalah pertanda buruk.

Dia segera menyuruh penggawanya kembali ke kadipaten. Sementara itu, dia memutuskan tetap di hutan untuk bersemedi. Namun, dalam upaya menemukan kembali keris tersebut, muncul godaan. Datanglah putri keturunan darah biru dari Lidah Danawati yang bernama Ayu Dewi Sangkrah.

Dia memang biasa mandi dan mencuci di lokasi Jayengrana bersemedi. Karena terpikat pada Dewi Sangkrah, upaya semedi tersebut buyar. Pertemuan keduanya membuahkan seorang bayi yang diberi nama Joko Berek Kelak, bayi itulah yang diberi nama Raden Sawunggaling. Jayengrana berpesan kepada Dewi Sangkrah saat Joko Berek sudah besar nanti diminta menemuinya di Katumenggungan Surabaya. Sebagai penanda, Dewi diberi cinde atau selendang.

Begitu dewasa, Joko Berek mulai mencari sosok bapaknya. Dewi Sangkrah akhirnya memberi tahu bahwa bapak yang dia tanyakan itu adalah pemimpin Surabaya.

Tak menunggu lama, Sawunggaling langsung datang ke istana. Namun, penjaga dan dua anak raja menghalaunya. Dia dianggap melantur karena mengaku anak sang pemimpin Surabaya.

Dua anak Jayengrana yang bernama Sawungrana dan Sawungsari menantangnya adu ayam. Sawunggaling yang juga membawa bagong, ayam jago kesayangannya, menerima tantangan itu. Bagong dengan mudah mengalahkan ayam-ayam tersebut.

Karena melihat kehebatan bagong, dua anak tersebut langsung mencurinya. Sawunggaling yang marah lantas mengejar Sawungsari dan Sawungrana yang memanggil ayahnya. Saat itulah Jayengrana bertemu dengan Joko Berek untuk kali pertama.

Jayengrana terperangah saat Sawunggaling mengaku sebagai anaknya. Untuk membuktikannya, Joko Berek harus mengabdi dengan merawat 144 ekor kuda istana miliknya tanpa ada satu pun yang sakit atau mati.

Pada saat yang sama, Belanda yang mulai tidak suka pada Jayengrana berusaha menyingkirkannya. Bekerja sama dengan sekutunya, yakni Adipati Jawa Tengah, Belanda mulai menggelar lomba memanah cinde puspita.

Lagi-lagi, Sawunggaling ikut tantangan itu dengan mengaku-aku sebagai kesatria dan keturunan bangsawan. Semua kesatria gagal membidik sasaran. Kecuali Sawunggaling. Namun, Belanda dan Adipati Jawa Tengah tahu bahwa Sawunggaling hanya mengaku-aku. Setelah perdebatan alot, akhirnya dia diperkenankan menjadi penguasa Surabaya dengan syarat tambahan. Yaitu, babat alas Nambas Kelingan (sekarang Banyu Urip) yang dulu dikenal sangat angker.

Makhluk halus penunggu hutan tersebut berkali-kali mengganggu Sawunggaling. Pohon yang sudah ditebas tiba-tiba tumbuh lagi. Saat itulah peri bernama Ayu Pandansari menawarkan bantuan. Syaratnya, dia harus mengawininya. Lagi-lagi, dia tidak punya pilihan. Dengan bantuan peri dan the power of kepepet, dalam waktu cepat dia bisa membabat alas Nambas Kelingan.

Belanda yang memang tidak berniat menunjuk Sawunggaling akhirnya tetap tak mau menerima kesuksesannya. Pada akhir kisahnya, Sawunggaling berbalik mengejar dan mengusir Belanda dari Surabaya. ”Itulah mengapa Sawunggaling disebut sing babat alas Suroboyo. Cuma, kalau saya ceritakan kisah ini, aku dikira wong gendeng,” ujar Sekretaris Paguyuban Pecinta Budaya Lidah Sawunggaling Mulyadi.

Legenda itu disusun oleh Mulyadi menjadi sebuah buku yang hanya tersedia di Pesarean Sawunggaling. Cerita tersebut dia kumpulkan dari pertunjukan ludruk. Saat membukukannya, dia sadar bahwa yang ditulis sekadar legenda. Bisa benar, bisa juga salah. ”Perlu penelusuran berupa data dan fakta sejarah yang akurat,” katanya.

Gara-gara itulah, pansus perubahan nama jalan sempat ragu mewujudkan gagasan paguyuban. Dua pakar sejarah dari Unair Sarkawi dan Unesa Prof Aminudin Kasdi yang diundang pansus juga tidak memiliki catatan sejarah yang secara khusus membahas Sawunggaling.

Meski begitu, Mulyadi dkk tetap pada pendiriannya. Dia meyakini bahwa Raden Sawunggaling benar-benar ada. Apalagi SK cagar budaya pernah diterbitkan pemkot pada 2013. SK itu menetapkan kawasan makam Sawunggaling di Lidah Wetan sebagai cagar budaya yang harus dilindungi.

Penamaan jalan yang dia usulkan merupakan salah satu upaya mengangkat nama Raden Sawunggaling sebagai pahlawan yang sempat terlupakan. Banyak yang tahu nama Sawunggaling, namun tidak tahu bagaimana kisahnya. ”Coba tanya 10 pejabat pemkot yang berkantor di Gedung Sawunggaling. Tanya apakah mereka tahu kisah Sawunggaling? Yang tidak tahu ayolah main-main ke sini,” katanya saat ditemui Jawa Pos di depan makam Sawunggaling di Lidah Wetan Gang III Kamis lalu (6/2).

Karena itulah, Jalan Menganti yang melintasi kawasan Lidah–Wiyung dirasa sangat pas untuk diberi nama R Sawunggaling. Anggota paguyuban meminta nama Kombespol M. Jasin tidak diletakkan di Jalan Menganti, tetapi dicarikan jalan yang sama-sama layak dan pantas.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git


Close Ads