JawaPos Radar

Laporan Langsung Evi Ariska dari Asmat

Kisah Tiga Bocah Bersaudara Menderita Gizi Buruk di Asmat

08/02/2018, 19:05 WIB | Editor: Ilham Safutra
gizi buruk asmat
Christila duduk di pelataran RSUD Agats (Evi Ariska/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Christila tengah duduk terdiam dengan perutnya yang membesar. Tatapannya kosong. Sesekali dia terpana dari atas kasur RSUD Agats, Asmat, Papua, melihat anak-anak lainnya yang sedang asyik bermain.

Badan bocah empat tahun itu begitu kurus tak berdaging. Tangannya dibalut kardus kecil sebagai pelindung atas tangannya yang sedang diinfus. Selain Christila, dua adiknya juga mengalami nasib yang sama.

Namun Christila yang lebih parah. Dua adiknya yang berperut besar masih bisa bermain lari-larian di areal rumah sakit. Tidak perlu harus diinfus dan terbaring di atas kasur seperti dia. "Ada enam anak kami. Tiga sakit," kata Yohana, ibu dari Christila yang sedang menemani buah hatinya di RSUD Agats, Papua, Kamis (8/2).

gizi buruk asmat
Kedua adik Christila yang juga menderita gizi buruk sedang bermain (Evi Ariska/JawaPos.com)

Kepada JawaPos.com Yohana menyebut, ketiga anaknya menderita gizi buruk. Mereka telah dua bulan menjalani perawatan di rumah sakit. Hingga perawatan belum bisa dirujuk ke tempat lain karena masih belum ada anjuran dari petugas medis di rumah sakit. 

Tidak adanya perintah rujukan dari rumah sakit, Yohana pun tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak mengerti lagi harus memberikan pengobatan kepada tiga buah hatinya yang kini sedang menderita gizi buruk.

Selain tidak ada saran rujukan dari rumah sakit, Yohana dan suaminya, Leo, tidak bisa pula membawa anak-anaknya ke rumah sakit tipe lebih tinggi. Pasalnya profesi Leo yang sebagai nelayan tidak memiliki uang cukup untuk upaya pengobatan. Jangankan untuk berobat, makan saja susah.

Setiap hari Yohana dan Leo harus bergantian menjaga anaknya. Salah satu dari mereka harus menjaga rumahnya di Distrik Suruk. Untuk ke rumah sakit dari rumah, pasangan suami istri itu harus menempuh perjalanan selama dua jam dengan perahu. Kadang-kadang keduanya ada di rumah sakit. "Distrik Suruk, dua jam ke Agats naik perahu. Dia (Ayah) nelayan saja," ucap dia.

Dalam pengakuannya, Yohana selalu berupaya asupan gizi untuk enam anaknya dengan cukup. Makan tiga kali sehari. Namun, karena lingkungan bertempat tinggal di atas rawa, membuatnya kesulitan bercocok tanam.

Enam orang anaknya pun tak pernah mengonsumsi sayur-mayur sehingga mereka menderita gizi buruk oleh makanan yang tak seimbang. "Makan nasi, tiga kali sehari, tapi kita tidak ada sayur, setengah mati tanam sayur," ungkapnya.

Sementara, Ovenia, 10, kakak Christila menambahkan, sang adik sudah lama menderita gizi buruk. Christila tidak bisa mencerna makanan keras sehingga hanya diberikan susu setiap harinya. Layaknya seorang kakak, Ovenia membantu sang ibu untuk menjaga kelima orang adiknya.

"Sudah lama, sampai sekarang tidak bisa makan, kasih-kasih susu saja. Kalau mau dikasih sayur rasa-rasa mau muntah dia (Christila)," tandasnya. 

Febrianty, salah seorang perawat yang menjaga Christila di RSUD menyebut, bocah tersebut sebelumnya sudah dibolehkan pulang ke rumah. Namun, pada Rabu (7/2), mereka kembali ke RS, lantaran Christila tidak bisa mencerna makanan. "Dia kemarin masuknya, sampai di rumah dia pusing lagi kata bapaknya. Jadi dia ke sini lagi di rawat inap. Dia masuk dari tanggal 6 Januari sebelumnya," tandasnya.

Untuk diketahui, tercatat pada Kamis (8/2), jumlah pasien rawat inap di RSUD Agats sebanyak 19 orang. Semua itu terdiri atas 16 anak yang menderita gizi buruk dan 2 lainnya menderita campak. Jumlah penderita gizi buruk masih belum stabil, sedangkan campak terus menurun.

(ce1/eve/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up