alexametrics

Yasep Rahmat Wahyudi, Pedagang Mlijo ”Perlente” Asal Lumajang

8 Januari 2021, 20:52:09 WIB

Meski berprofesi bakul mlijo alias pedagang sayur keliling, Yasep Rahmat Wahyudi tak mau mati gaya. Setiap kali ”dinas”, dia selalu mengenakan busana ala pegawai kantoran, lengkap dengan dasinya.

RIDHO ABDULLAH AKBAR, Lumajang

SETIAP pagi, Yasep Rahmat Wahyudi selalu berkeliling di perumahan di kawasan Sukodono. Paling banyak adalah di kawasan Desa Karangsari. Sepintas, orang yang baru melihatnya menduga pria itu adalah pegawai kantoran.

Namun, obrok (keranjang besar) berisi aneka sayur-mayur yang terpasang di jok belakang motornya membuyarkan dugaan itu. Ya, Wahyu adalah pedagang sayur keliling.

Wahyu mengaku sudah 6 tahun berjualan. Namun, dia baru 3 tahun terakhir memilih gaya perlente itu. Lelaki asal Dusun Sidosari, Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono, tersebut hampir setiap pagi menjajakan barang kebutuhan pokok. Berkeliling mengitari desa dengan menggunakan sepeda motor.

Para pelanggan (yang mayoritas ibu-ibu) sudah hafal dengan gaya Wahyu. Memang, awalnya sempat kaget, tapi sekarang para emak-emak itu langsung senang mengerubunginya. ”Awalnya mereka senyum-senyum, lalu membeli. Ya sudah biasa digoda seperti itu,” ucapnya.

Profesi itu dia tekuni setelah putus sekolah. Wahyu terpaksa drop out sejak kelas II SMP karena kekurangan biaya. Sebelum berjualan, dia selalu konsisten membantu sang ibu untuk berdagang di Pasar Baru Lumajang. Dia berinisiatif membantu berjualan seperti bumbu-bumbu dapur dan sayuran. “Awalnya bantu diam-diam. Ketika ibu tidur, saya berjualan sayuran ke tetangga,” ucapnya.

Tak terasa, dia menikmati profesi itu. Sampai akhirnya, menginjak tahun ke ketiga, muncul ide untuk bergaya ala pegawai kantoran. Wahyu sengaja memilih gaya yang berbeda karena ketatnya persaingan.

Uniknya, Wahyu tidak pernah mengeluarkan sepeser pun untuk membeli aneka perangkat yang dipakainya. Baju, celana, hingga perangkat lainnya didapat dari sumbangan.

Baca Juga: Ringgo Ngaku Manajer Proyek Tol, Pesan Semen Rp 1,5 M Tapi Tidak Bayar

Dasi yang dipakainya dia terima dari teman organisasi karang taruna. Sementara itu, baju didapat dari sang ibu. Celana dapat sumbangan dari temannya. Lalu, sepatu dapat dari salah satu saudaranya.

Ide itu ternyata membuahkan hasil. Usaha Wahyu mulai menunjukkan perkembangan. ”Pendapatannya bertambah, tapi kadang dilihat sinis pedagang lain,” tuturnya.

Namun, yang membuatnya lega dan gembira, para pelanggan setianya selalu membeli dan memberikan motivasi untuk terus semangat. Mereka mayoritas memberikan dorongan untuk selalu optimistis.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : raa/fid/c12/ris


Close Ads