alexametrics

Berkenalan dengan Ririn Wijayanti, Inovator Bahan Ajar Matematika

Pop-up dan Scrapbooks Antarkan Jadi Juara
7 Desember 2019, 20:44:08 WIB

Berangkat dari minimnya ketertarikan siswa terhadap pelajaran matematika, Ririn Wijayanti tergugah membuat inovasi. Dia akhirnya membuat buku dengan model pop-up dan scrapbooks. Karyanya pun disambut antusias oleh siswa.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Jawa Pos

BAGI siswa sekolah dasar, matematika masih menjadi mata pelajaran yang kurang begitu diminati. Selain gurunya dianggap seram, pelajarannya terkesan monoton. Hal itulah yang ingin diubah Ririn Wijayanti. Guru kelas V SDN Rangkah I, Tambaksari, itu pun membuat inovasi bahan ajar dengan metode pop-up dan scrapbooks. Atas inovasinya tersebut, dia diganjar juara pertama Lomba Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran Bidang Bahan Ajar 2019 oleh Dispendik Surabaya pada Kamis lalu (28/11).

Dari 80 peserta yang diseleksi menjadi 8 finalis, dia mendapat poin tertinggi. Dua kelebihan bahan ajarnya terletak pada inovasi dan metode yang digunakan. ’’Yang lain hanya perpaduan dua dimensi. Kertas dan tulisan. Saya ada tampilan kartun dan warna colorful,’’ kata perempuan yang tinggal di Dukuh Setro tersebut kemarin (6/12).

Bahan ajar yang dia buat seputar operasi hitung pecahan kelas V. ’’Mulai penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian pecahan,’’ tambahnya. Di dalam buku yang berbentuk A4 itu ada beragam origami yang memuat penjelasan tentang operasi hitung pecahan. ’’Saya juga beri font lebih besar. Tidak kecil seperti buku cetak kebanyakan,’’ tambahnya.

Jumlah halaman sedikit. Hanya sepuluh lembar. ’’Saya tidak perbanyak halamannya, tapi perbanyak gambarnya,’’ ungkap Ririn Bagi dia, anak SD perlu dirangsang berpikir kreatif. Salah satunya dengan menghadirkan model gambar tersebut. ’’Sudah saya praktikkan ke anak-anak. Mereka responsif dan makin senang belajar matematika. Sebab, ada gambar yang bisa ditarik dan digulung kembali. Penjelasannya juga tidak panjang-panjang,’’ ujar perempuan 34 tahun itu.

Meski sudah diuji coba, setiap metode pasti punya kelemahan. ’’Bahan ajar saya ini tidak bisa disimpan dalam file. Buatnya manual. Jadi susah,’’ ungkapnya. Karena itu, ke depan dia ingin mengembangkan model yang bisa disimpan dalam file. ’’Saya akan berkreasi lagi,’’ tambahnya.

Ririn mengaku pembuatan bahan ajar itu terinspirasi dari berbagai pelatihan guru yang diikuti. ’’Saya juga melihat di YouTube tentang kreasi scrapbooks dan pop-up. Butuh dua minggu untuk merampungkannya,’’ ujar Ririn. Dia berniat membuatnya lebih banyak. Terutama menjangkau pelajaran matematika di seluruh kelas.

’’Sesuai dengan pesan juri setelah lomba,’’ ungkapnya. Dia pun ingin menyelipkan lagu-lagu yang digubah sedemikian rupa dalam buku ajar tersebut. Tentu yang berkaitan dengan matematika. ’’Seperti lagu Lihat Kebunku. Ingin saya selipkan kata-kata yang berhubungan dengan pecahan atau pelajaran matematika yang lain. Pasti unik,’’ tambahnya. Di samping itu, ada materi ajar lain yang ingin dikembangkannya.

’’Sejak awal mengajar di sekolah, saya ingin mengembangkan bahan ajar bahasa Jawa,’’ paparnya. Di sekolah mereka porsinya sedikit. Hanya dua jam setiap minggu. ’’Padahal, bahasa daerah perlu ditanamkan ke anak-anak. Tidak sekadar bahasanya, tapi juga filosofi di dalamnya,’’ tutur Ririn. Model yang digunakannya sama. ’’Hanya, saya akan beri sentuhan lain. Tentunya menampilkan identitas ke-Jawa-an,’’ ujarnya.

Inspirasi terbesar Ririn adalah untuk kemajuan pendidikan siswa sekolah. Banyak anak yang sulit menangkap pelajaran matematika karena kurangnya inovasi dan kreativitas guru. ’’Saya tak ingin ikut arus. Harus ada pembeda,’’ jelasnya. Sebab, selama ini, di benak siswa, matematika hanya soal angka. ’’Padahal bisa dibuat berwarna, bermakna, dan bercerita. Itu semua tergantung guru,’’ ujarnya.

Koordinator Kesiswaan SDN Rangkah I Yuliati mengapreasi apa yang dilakukan Ririn. Bagi Yuliati, tak banyak guru yang berpikiran out of the box. Inspirasi semacam itu, kata dia, perlu didukung. ’’Ketika Bu Ririn ingin sesuatu, kami siap membantu. Sebab, ini semua demi kemajuan anak-anak,’’ tambahnya. Tidak hanya di sekolahnya, tapi juga bisa menjadi role model bagi sekolah lain

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c19/tia


Close Ads