alexametrics

Dr Erdefi Rakun Membuat Aplikasi untuk Membantu Tunarungu-Tunawicara

Libatkan Murid SLB, Akurasi Capai 98 Persen
7 September 2020, 14:57:49 WIB

Tidak semua orang mampu berkomunikasi dengan para penyandang tunarungu dan tunawicara. Namun, dengan aplikasi yang satu ini, komunikasi bakal berjalan lebih lancar.

M. HILMI SETIAWAN, Depok, Jawa Pos

”APLIKASI ini lebih tepatnya adalah penerjemah gerakan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia, Red) ke teks bahasa Indonesia dan dari teks bahasa Indonesia ke animasi 3D gerakan SIBI.” Begitu Dr Erdefi Rakun menjelaskan aplikasi karyanya. Dosen Fakulas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) itu menerangkan, pembuatan aplikasi tersebut cukup lama. Sejak 2012. Sampai saat ini, aplikasi itu belum secara resmi keluar di Google Play.

Efi –sapaan akrabnya− mengatakan bahwa aplikasinya masih tahap uji tingkat kesiapan teknologi (TKT) di Direktorat Inovasi dan Science Techno Park UI. Saat ini sedang menunggu giliran pengujian TKT-6 dari prototipe yang dihasilkan. ”Harus lewat pengujian TKT. Supaya setiap temuan terawasi, aman, terjamin mutu dan kualitasnya,” katanya.

Setelah menjalani tahapan ujian dan mendapatkan sertifikat TKT-8, baru boleh dilepas ke Google Play untuk digunakan masyarakat.

Dalam tahapan yang dijalani sekarang, prototipe perlu diuji kepada calon pemakai. Misalnya, kepada siswa dan pengajar SLB Santi Rama. Dia bersama tim harus menyusun laporan terkait penggunaan aplikasi itu. Efi berharap aplikasi tersebut dalam waktu dekat bisa digunakan masyarakat. Dia juga sudah mendaftarkan dua paten untuk aplikasinya. Paten pertama untuk aplikasi yang mengubah dari gerakan SIBI ke teks bahasa Indonesia. Kedua, paten aplikasi dari teks bahasa Indonesia ke animasi 3D gerakan SIBI.

Lulusan S-2 Computer Science di University of Minnesota, Amerika, itu menceritakan, ide pembuatan aplikasi penerjemah tersebut muncul karena orang yang menguasai bahasa isyarat, SIBI salah satunya, masih sedikit. Umumnya, yang menguasai adalah keluarga serta orang-orang yang berkecimpung di sekolah untuk anak-anak tunarungu dan tunawicara. Selain itu, tentunya para penyandang tunarungu dan tunawicara sendiri. Dengan sedikitnya orang yang menguasai isyarat, seperti SIBI, tentu tetap ada kendala komunikasi.

Akhirnya pada 2012, dia mulai berusaha membuat aplikasi tersebut. Efi mengerjakannya bersama guru-guru serta melibatkan murid SLB Santi Rama di Jakarta Selatan.

Pembuatan aplikasi itu tidak mudah dan butuh waktu. Sebab, dia harus merekam gerakan isyarat yang ada di dalam kamus SIBI. Di dalam kamus SIBI ada hampir 4.000 kata. Ribuan kata dasar itu kemudian beranak pinak menjadi puluhan ribu isyarat kata berimbuhan, yaitu isyarat kata dasar yang ditambah dengan isyarat awalan-akhiran.

Upaya Efi bersama timnya tidak berhenti pada merekam kata dasar dan kata berimbuhan saja. Penelitian dilanjutkan untuk mengenali isyarat kalimat. Jadi, dia memiliki sejumlah unit dataset yang dibenamkan ke aplikasinya. Yaitu, dataset kata dasar, kata berimbuhan, dan kalimat. Yang lebih menantang adalah penyusunan isyarat jari untuk alfabet dan angka.

REKAM GERAKAN: Tampilan prototipe aplikasi untuk membantu komunikasi dengan penyandang tunarungu dan tunawicara. (ERDEFI RAKUN FOR JAWA POS)

Untuk menyusun setiap dataset, Efi berkonsultasi dengan para guru SLB Santi Rama. Misalnya, untuk dataset kalimat, dia perlu mengetahui kalimat-kalimat apa saja yang paling banyak dibutuhkan atau digunakan. Dari hasil diskusi, dibuatlah dataset kalimat yang terdiri atas kelompok kalimat saat memperkenalkan diri. ”Misalnya, siapa namamu, di mana sekolahmu, di mana alamat rumahmu, dan sebagainya,” paparnya. Kemudian, kalimat yang digunakan saat berbelanja, berada di transportasi umum, di rumah sakit, bahkan kalimat-kalimat yang digunakan di bioskop. Juga ada kalimat greeting seperti ucapan selamat ulang tahun, selamat hari raya, mohon maaf lahir dan batin, serta kalimat ucapan lainnya.

Dia juga mengumpulkan isyarat jari yang digunakan untuk alfabet dan angka. Isyarat jari itu biasanya digunakan untuk nama, singkatan-singkatan seperti posko, polsek, TNI, atau istilah asing yang penyampaiannya dieja. Juga untuk kata-kata yang tidak ada bahasa isyaratnya. ”Misalnya, Hilmi. Itu penyampaiannya dieja H, I, L, M, dan I,” katanya.

Selama bertahun-tahun membuat aplikasi itu, Efi dibantu para mahasiswanya yang sedang menjalani skripsi (jenjang S-1) dan tesis (jenjang S-2). Setiap gelombang mahasiswa hanya dibatasi oleh waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan skripsi atau tesis tersebut. Setelah selesai satu gelombang, diganti kelompok mahasiswa di bawahnya. Karena itu, tim yang terlibat dalam proyek aplikasi penerjemah tersebut berganti-ganti.

Efi mengatakan, semula dirinya menggunakan kamera Kinect dari Microsoft untuk membuat aplikasi itu. Hasilnya sangat bagus karena dapat merekam dalam bentuk 3D. Tetapi setelah ditimbang-timbang, penggunaan aplikasi Kinect kurang fleksibel. Sebab, aplikasi tersebut baru bisa berjalan bila pengguna memiliki kamera Kinect. Karena itu, dicari alternatif platform lain yang memungkinkan aplikasi tersebut lebih mudah.

Sementara itu, yang banyak digunakan oleh masyarakat sekarang adalah ponsel pintar. Akhirnya, dia memutuskan untuk pindah ke platform telepon pintar. Untuk itu, dia perlu merekam ulang dataset dengan menggunakan kamera ponsel.

Lantas, sejak 2018, Efi mulai mengembangkan aplikasi kedua, yaitu aplikasi untuk mengubah teks bahasa Indonesia ke animasi 3D gerakan SIBI. Aplikasi kedua juga tidak kalah rumit. Dia menggunakan sensor yang diletakkan di tangan dan jari peraga untuk merekam gerakan SIBI. Lalu, hasil rekaman sensor itu dipakai oleh software pembuat animasi untuk membuat animasi 3D gerakan SIBI. ”Jadi, gerakannya direkam, kemudian diubah jadi animasi,” tuturnya.

Efi mengatakan, secara umum yang lebih susah itu adalah pembuatan aplikasi penerjemah dari isyarat SIBI diubah ke teks. Saat ini dua aplikasi tersebut sudah terbungkus menjadi prototipe mobile apps. Sistemnya sudah bekerja dengan baik.

Waktu yang diperlukan oleh aplikasi dari teks bahasa Indonesia ke animasi 3D SIBI untuk menghasilkan output sudah dalam hitungan milidetik. Sementara itu, aplikasi dari isyarat SIBI ke teks bahasa Indonesia masih hitungan detik. Dia terus berupaya mempercepat waktu komputasi tersebut sehingga user akan merasakan proses penerjemahan dilakukan secara real time.

Efi sempat menunjukkan aplikasi itu kepada sejumlah siswa. Ternyata, responsnya positif. Anak-anak suka menggunakan aplikasi tersebut. Ternyata, menurut siswa-siswa, aplikasi yang mengubah dari teks bahasa Indonesia ke animasi 3D SIBI bisa sekaligus digunakan sebagai alat bantu mengajarkan isyarat SIBI kepada teman-temannya. Dia menyebutkan, aplikasinya sekarang mampu mengenali isyarat SIBI dengan tingkat akurasi mencapai 98 persen.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c6/oni



Close Ads